Jejak Terakhir yang Sulit untuk Diulang: Pulau Komodo, Pantai Pink, dan Pulau Kelor yang Menjadi Saksi
Perjalanan ini sejatinya bukan dimulai sebagai agenda untuk menikmati tempat-tempat wisata, melainkan sebagai bagian dari pelaksanaan tugas yang membawaku ke Labuan Bajo dengan berbagai tanggung jawab yang harus diselesaikan. Di tengah rangkaian agenda dan aktivitas yang padat, aku menyadari bahwa perjalanan kadang juga memberi ruang untuk berhenti sejenak dan melihat lebih jauh apa yang ada di sekitar. Di sela waktu setelah seluruh tugas terselesaikan, aku menyempatkan diri menikmati sebagian kecil keindahan Indonesia yang selama ini hanya kulihat melalui foto dan cerita. Pulau Komodo dengan alam liarnya, Pantai Pink dengan pesona warnanya yang unik, hingga Pulau Kelor yang menutup perjalanan dengan caranya sendiri, menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjalanan tugas, terkadang tersimpan pengalaman yang meninggalkan kesan jauh lebih lama daripada sekadar jejak langkah. Sebab ada perjalanan yang mungkin dapat diulang, tetapi ada juga yang meninggalkan rasa seolah waktu tidak akan membawanya kembali dengan cara yang sama.
Labuan Bajo (Lagi)
Labuan Bajo bukan tempat yang benar-benar asing bagiku. Ini adalah kali kedua aku menapakkan kaki di kota kecil yang selalu berhasil membuat orang jatuh hati sejak pandangan pertama. Sebelumnya, aku pernah datang ke tempat ini dalam rangka tugas juga, dan perjalanan itu telah kuabadikan menjadi sebuah cerita yang masih tersimpan dengan baik. Kali ini, aku kembali lagi, masih dengan tujuan yang serupa, membawa tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ini merupakan hari kedua di Labuan Bajo, sebelumnya, pada hari pertama dalam tugas ini, aku sudah menuliskannya di lembar cerita yang berbeda. Cerita tentang langkah-langkah awal, keindahan yang tak pernah berubah, hingga menemukan sesuatu yang baru di Pulau Flores ini.
Namun, ternyata pertemuan keduaku dengan Labuan Bajo bukan hanya tentang pekerjaan semata. Perlahan aku mulai sadar bahwa ini juga menjadi jawaban atas doa-doa kecil yang pernah kubisikkan pada pertemuan pertama. Saat itu aku berharap dapat menikmati senja dari Puncak Waringin, menjejak Pulau Komodo, mendaki di Pulau Padar, dan berenang di Pantai Pink. Keinginan-keinginan sederhana yang terasa seperti daftar kecil terabaikan, yang pada akhirnya akan terlupakan dengan sendirinya. Aku hanya bisa menyimpannya, tanpa pernah benar-benar tahu kapan keinginan itu terwujud. Dan kesempatan kali ini perlahan membuka ruang untuk menghadirkan semuanya menjadi nyata.

Sejak hari pertama perjalanan tugasku ini, aku diberi kesempatan untuk melihat sisi lain dari keindahan Pulau Flores. Tentu saja semuanya dilakukan di sela waktu yang tersedia tanpa mengganggu pelaksanaan tugas yang menjadi tujuan utama kedatanganku. Bersama beberapa rekan, aku menapaki jalur trekking menuju Cunca Plias I, melanjutkan langkah ke Tiwu Galong, hingga sampai di Kolam Di Atas Awan, Cunca Plias II. Jalan setapak, suara alam, dan lelah yang datang menerjang seolah menjadi cara Flores memperkenalkan dirinya lebih dekat, bukan melalui keramaian, melainkan melalui ketenangan yang mampu menghipnotis siapa pun agar tinggal lebih lama.
Ada tempat yang tidak pernah meminta untuk diingat, tetapi selalu berhasil tinggal lebih lama di ingatan. Dan Labuan Bajo, tampaknya memilih cara itu. Ia datang tanpa banyak janji, tetapi selalu meninggalkan sesuatu di setiap pertemuan. Mungkin bukan tentang tempat-tempat yang berhasil dikunjungi, melainkan tentang waktu yang senyap mengubah caraku dalam memandang sebuah perjalanan. Sebab, terkadang aku baru menyadari arti sebuah pertemuan ketika langkah mulai bergerak meninggalkan jejak.

Tugas Kedua
Pagi di Labuan Bajo selalu memiliki caranya sendiri untuk menyambut hari. Dari sekitar penginapan, udara terasa masih begitu segar, bercampur dengan aroma asin yang sesekali dibawa angin laut. Letaknya yang tidak jauh dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo membuat suasana pagi terasa lebih hidup. Kapal-kapal wisata tampak berbaris tenang menunggu aktivitas hari dimulai, sementara beberapa orang mulai sibuk dengan rutinitasnya masing-masing. Langit perlahan berubah warna, dari gelap menuju semburat jingga yang muncul malu-malu di balik perbukitan. Suara mesin kapal, langkah kaki para pelintas, dan riuh kecil yang mulai terdengar seolah menjadi penanda bahwa Labuan Bajo telah bersiap menyambut hari yang baru.

Namun, sebelum mentari benar-benar bangun dari peraduannya, rombongan kami telah menempati posisi masing-masing untuk menjalankan tugas yang sudah dibagi sebelumnya. Kami terbagi ke dalam empat tim yang akan melaksanakan tugas di lokasi berbeda. Tugasku dimulai di Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo bersama lima rekan lainnya di bawah koordinasi Kepala Bidang Penegakan Hukum Keimigrasian dan Kepatuhan Internal Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Nusa Tenggara Timur. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kembali menginjakkan kaki di kantor itu. Selain datang untuk menjalankan tugas, ada rasa senang karena aku dapat kembali bertemu dengan teman-teman leting CPNS yang kini mengemban tugas di tempat tersebut. Meski pertemuan itu singkat, suasananya terasa cukup menghangatkan. Hingga seluruh agenda tugas di Kantor Imigrasi Labuan Bajo selesai, kami menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, semangat, dan komitmen yang sama.

Setelah seluruh rangkaian tugas di Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo selesai dilaksanakan, tim kami segera bergerak menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo untuk bergabung dengan tim lainnya. Pada saat itu sebagian besar tim telah menyelesaikan tugas masing-masing, sementara Tim Operasi Gabungan (Ops Gab) masih melanjutkan kegiatan sesuai agenda yang telah direncanakan. Tim Ops Gab melaksanakan pengawasan terhadap aktivitas dan keberadaan orang asing di sekitar wilayah perairan Labuan Bajo, sedangkan tim lainnya turut memberikan dukungan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan optimal. Masing-masing orang tetap menjalankan peran dan tanggung jawabnya sesuai pembagian tugas yang telah ditentukan, karena seluruh rangkaian kegiatan hari itu memiliki tujuan yang sama.

Seluruh tim kemudian berangkat dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo untuk melanjutkan pelaksanaan tugas pengawasan di wilayah perairan. Di tengah perjalanan itu, ada perasaan kecil yang diam-diam ikut tumbuh dalam pikiranku. Sebab wilayah yang menjadi bagian dari pelaksanaan pengawasan merupakan kawasan yang selama ini menjadi tujuan utama para wisatawan mancanegara. Salah satu yang kutahu, tujuan kami mengarah ke Pulau Komodo, tempat yang pernah masuk dalam daftar kecil harapan yang kusimpan sejak pertemuan pertamaku dengan Labuan Bajo. Aku belum mengetahui seperti apa perjalanan ini akan berlanjut, tetapi rasanya sebuah keinginan yang dulu tampak jauh perlahan mulai berjalan mendekat. Gerbang harapan yang dulu terkunci, kini mulai terbuka kembali.

Menjejak (Keajaiban) Pulau Komodo
Speed boat perlahan melaju meninggalkan Pelabuhan Marina Labuan Bajo, membelah permukaan laut yang berkilau diterpa cahaya mentari. Semakin jauh meninggalkan daratan, angin laut terasa semakin kuat menyapu wajah, sementara mentari perlahan naik dan mulai menunjukkan teriknya. Meski panas mulai terasa menyengat, semangat kami dalam menjalankan tugas tidak pernah surut. Satu demi satu rangkaian tugas berhasil dijalankan sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan. Sesekali rasa lelah datang menghampiri, tetapi laut Labuan Bajo yang jernih dan deretan perbukitan hijau yang berdiri di kejauhan selalu berhasil membuat semangat pulih kembali. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika memandang bentang alam itu. Hingga akhirnya, setelah perjalanan yang cukup panjang, Pulau Komodo terlihat di hadapan kami.



Setelah segala sesuatunya siap, kami tidak ingin membuang waktu karena tugas tetap menjadi prioritas utama. Rekan-rekan yang bertugas segera melaksanakan kegiatan sesuai dengan pembagian tugas yang telah ditentukan. Sementara seluruh proses berlangsung, setiap orang menjalankan perannya masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Hingga seluruh rangkaian tugas selesai dilaksanakan, barulah kami memiliki kesempatan untuk menikmati suasana di pulau tersebut.

Kami menyempatkan diri menyusuri beberapa bagian pulau sambil melihat lebih dekat penghuni yang menjadikan tempat ini dikenal hingga ke seluruh penjuru dunia. Tidak lama kemudian, kami menemukan seekor komodo berukuran cukup besar sedang beristirahat dengan tenang. Momen langka itu tentu tidak ingin kami lewatkan begitu saja, dan beberapa potret akhirnya berhasil mengabadikan pertemuan yang mungkin tidak akan mudah terulang lagi.

Setelah dirasa cukup menikmati suasana Pulau Komodo, kami pun kembali bersiap melanjutkan perjalanan. Tugas di Pulau Komodo telah diselesaikan, dan sebagian kecil dari harapan yang pernah kusimpan perlahan menemukan bentuk nyatanya. Aku menoleh sekali lagi ke arah pulau yang perlahan mulai tertinggal di belakang. Ada tempat-tempat yang dikunjungi hanya untuk dilihat, tetapi ada juga tempat yang diam-diam meninggalkan sesuatu untuk dibawa pulang. Pulau Komodo tampaknya memilih cara yang kedua. Ia tidak hanya meninggalkan jejak di galeri foto, tetapi juga menyisakan rasa yang mungkin akan kembali muncul setiap kali namanya disebut di kemudian hari. Terima kasih Tuhan, telah mengabulkan doaku untuk menjejak Pulau Komodo.

Berenang Di Pantai Pink
Perjalanan kembali berlanjut setelah seluruh rangkaian tugas di Pulau Komodo selesai dilaksanakan. Speed boat kembali membelah perairan Labuan Bajo, meninggalkan buih-buih kecil di atas permukaan laut yang perlahan menghilang ditelan ombak. Langit tampak begitu luas seolah tidak memiliki ujung, sementara gugusan pulau-pulau kecil berdiri tenang di kejauhan seperti lukisan yang sengaja dipamerkan alam. Sesekali angin laut menerpa wajah, membawa kesejukan yang perlahan menghapus rasa lelah sejak pagi. Di tengah perjalanan itu, aku diam-diam bersyukur. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjalankan tugas sambil menyaksikan begitu dekat keindahan negeri sendiri. Laut yang tenang, perbukitan yang berdiri anggun, dan bentang alam yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, seakan menjadi cara semesta untuk menunjukkan bahwa Indonesia selalu menyimpan keajaibannya sendiri.

Setelah menerjang ombak yang cukup membuat perut mual, akhirnya speed boat mulai melambat dan hamparan Pantai Pink terlihat di hadapan kami. Mentari sudah mulai bergerak condong ke arah barat, meski teriknya masih terasa cukup kuat menyentuh kulit. Cahaya matahari yang menyinari pantai tampak seolah mengurangi warna merah muda yang selama ini menjadi ciri khas tempat ini. Membuat Pantai Pink terlihat lebih lembut dan pucat dari biasanya. Namun, pesona dan keindahan pantai ini sama sekali tidak berkurang. Air laut yang jernih memperlihatkan dasar perairan hingga cukup jelas terlihat oleh mata. Di beberapa bagian, terumbu karang tampak menghiasi laut seperti taman kecil yang tumbuh di bawah permukaan. Perbukitan hijau mengelilingi kawasan dengan tenang, seolah berdiri menjadi penjaga bagi keindahan yang tersimpan di dalamnya.

Setelah berada di tepian pantai, beberapa rekan mulai menikmati segarnya air laut yang terbentang di hadapan kami. Tawa dan suara riang perlahan bercampur dengan suara ombak kecil yang datang menyentuh bibir pantai. Aku sendiri memilih untuk bermain air saja tanpa benar-benar membasahi tubuh. Sebab teriknya mentari membuat kondisi badan terasa mulai tidak bersahabat. Namun, menikmati Pantai Pink tidak selalu harus dilakukan dengan berenang hingga jauh ke tengah. Duduk di saung tepian pantai, merasakan air menyentuh kaki, memandangi gradasi warna laut yang berubah mengikuti cahaya, hingga memperhatikan kehidupan di sekitar, sudah lebih dari cukup. Bahkan sesekali terlihat beberapa rusa berjalan tenang di sekitar kawasan pantai, seolah mereka juga menjadi bagian dari keindahan yang telah lama hidup berdampingan dengan alam di tempat ini.


Waktu perlahan berjalan tanpa terasa, sementara langit mulai menunjukkan warna-warna yang berubah semakin lembut. Kami pun bersiap kembali melanjutkan perjalanan setelah seluruh rangkaian kegiatan telah dilaksanakan. Pantai Pink perlahan mulai tertinggal, tetapi ada sesuatu yang rasanya tidak benar-benar ikut pergi. Ada ketenangan yang tertinggal dalam suara ombaknya, ada rasa syukur yang diam-diam ikut pulang bersama perjalanan ini. Terkadang perjalanan tidak selalu tentang seberapa jauh kaki melangkah atau seberapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi, tetapi tentang bagaimana seseorang belajar melihat sesuatu dengan lebih dekat. Sore itu, di antara laut, langit, dan perjalanan yang terus bergerak, aku kembali diingatkan bahwa keindahan selalu menemukan caranya untuk hadir di waktu yang tak pernah terduga.

Singgah Di Pulau Kelor
Setelah seluruh rangkaian kegiatan di Pantai Pink selesai, speed boat kembali melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo. Langit perlahan mulai kehilangan warna birunya yang terang dan berganti menjadi nuansa sore yang lebih hangat. Sejak pagi hingga menjelang petang, tubuh kami telah menemani perjalanan yang cukup panjang. Goncangan speed boat yang sejak awal terasa ringan perlahan mulai berubah menjadi ujian kecil bagi tubuh yang mulai kelelahan. Beberapa rekan mulai terlihat memejamkan mata, sebagian lainnya berusaha bertahan sambil menikmati angin laut. Ada yang mulai merasakan mual, bahkan di tengah guncangan yang sesekali cukup kuat, beberapa rekan sempat kehilangan keseimbangan di atas kapal. Melihat kondisi tersebut, kami memutuskan untuk berhenti sejenak agar seluruh tim dapat memulihkan kondisi sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Di sebuah pulau kecil bernama Pulau Kelor, kami akhirnya memutuskan untuk singgah sementara. Selain sebagai tempat beristirahat, pulau ini dipilih karena terdapat fasilitas pendukung berupa masyarakat yang menjual makanan dan minuman sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan logistik ringan selama perjalanan. Ketika speed boat mulai mendekati tepian pulau, laut yang sedang surut perlahan menampakkan pesonanya. Air yang jernih memperlihatkan gradasi warna dari biru hingga kehijauan, sementara permukaan pasir di bawahnya tampak semakin jelas terlihat. Di seberang pulau, berdiri sebuah perbukitan tinggi yang menjulang dengan gagah di bawah cahaya sore. Belakangan aku mengetahui bahwa bukit itu bernama Bukit Kamou, sebuah latar yang seolah melengkapi keindahan perairan di sekitarnya.

Beberapa rekan memanfaatkan berhentinya guncangan kapal sebagai kesempatan untuk memulihkan kondisi tubuh yang mulai melemah. Ada yang memilih beristirahat sambil merebahkan diri, ada pula yang menikmati makanan dan minuman untuk mengembalikan tenaga setelah aktivitas yang cukup panjang sejak pagi. Sementara itu, beberapa rekan yang masih memiliki energi lebih memutuskan menikmati segarnya air laut di sekitar pulau. Tawa kecil sesekali terdengar, memecah suasana sore yang perlahan mulai tenang. Belakangan ketika melihat peta, aku mengetahui bahwa lokasi tersebut dikenal dengan nama Baby Shark Point Pulau Kelor. Sebuah nama yang terdengar unik untuk tempat yang hanya kami anggap sebagai persinggahan singkat di tengah perjalanan pulang.
Bukit Tanpa Nama Di Pulau Kelor
Entah mengapa, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Kelor, pandanganku justru tertuju pada sebuah bukit yang berdiri cukup gagah di hadapan kami. Ada sesuatu yang membuatnya terlihat memanggil dalam diam. Akhirnya aku memutuskan untuk berkenalan dengan bukit itu dengan cara yang paling sederhana: mendakinya. Bukan hanya aku, ternyata juga ada seorang senior yang memiliki keinginan serupa. Jadilah kami berdua mendakinya bersama. Bukit itu tidak terlalu tinggi, mungkin berada di bawah seratus meter, hampir seperti Bukit Liman di Pulau Semau yang pernah kukunjungi sebelumnya. Namun jalur menuju puncaknya terasa jauh lebih menantang. Di beberapa titik, kemiringan jalurnya membuat langkah kaki tidak cukup membantu, hingga tangan pun harus ikut bekerja untuk mencari pijakan.

Perjalanan kecil menuju puncak itu perlahan mulai menguras tenaga. Sesekali kami berhenti untuk mengatur napas, lalu kembali melanjutkan langkah. Ada saat ketika sandal harus dilepas agar pijakan terasa lebih kuat di tanah yang cukup curam. Keringat mulai bercampur dengan angin sore, sementara napas perlahan menjadi lebih berat. Namun semua rasa lelah itu seperti kehilangan arti ketika akhirnya kami tiba di puncak bukit.




Mentari yang sejak tadi menemani perjalanan mulai berubah menjadi jingga keemasan. Di hadapan kami, laut Labuan Bajo membentang luas dengan warna yang perlahan berubah mengikuti cakrawala. Pulau-pulau kecil tampak seperti titik-titik tenang yang terapung di tengah lautan, sementara di sisi lainnya, Bukit Kamou berdiri gagah dengan lekukannya yang terlihat tegas. Pemandangan itu terasa seperti dua keindahan yang sengaja dipertemukan dalam satu bingkai.


Penasaran, aku mencari nama bukit yang sedang dipijak ini pada peta, ternyata belum ada nama yang tertulis untuknya. Maka, secara sepihak aku mendeklarasikan nama bukit ini sebagai Bukit Perpisahan. Alasannya sederhana, sebab bukit ini sangat cocok untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mentari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Tentu saja ada alasan lain mengapa nama itu muncul di kepalaku, tetapi untuk yang satu itu, biarlah waktu yang menjawabnya.

Setelah cukup lama menikmati jingga yang perlahan memudar di atas Bukit Perpisahan, kami akhirnya turun kembali menuju pantai. Di bawah, rekan-rekan lainnya telah bersiap melanjutkan perjalanan. Persinggahan singkat di Pulau Kelor bukan hanya membantu memulihkan kondisi tubuh setelah perjalanan panjang, tetapi juga telah meninggalkan pengalaman baru yang sulit dijelaskan. Hingga akhirnya speed boat kembali bergerak meninggalkan Pulau Kelor, sementara Bukit Perpisahan perlahan berubah menjadi siluet kecil yang semakin jauh dari pandangan.

Pulang dan Membangun Harapan Lagi
Speed boat akhirnya menepi di Pelabuhan Marina Labuan Bajo ketika langit benar-benar berubah gelap dan mentari telah menyelesaikan tugasnya. Setelah perjalanan panjang sejak pagi, suasana malam di pelabuhan justru terasa seperti sambutan hangat yang menenangkan. Cahaya lampu dari dermaga memantul di permukaan laut yang mulai tenang, membentuk garis-garis kecil yang menari mengikuti gerakan ombak. Di kejauhan, kapal-kapal pinisi tampak mengapung dengan lampu yang menyala, seperti bintang-bintang yang sengaja turun dan memilih beristirahat di atas lautan. Dari tepian, siluet perbukitan Labuan Bajo tampak berdiri diam di balik kerlap-kerlip cahaya kota. Malam itu, Labuan Bajo menunjukkan wajah alaminya yang terasa tenang, hangat, dan perlahan membuat siapa pun ingin memperpanjang waktu sebelum benar-benar pergi.

Aku bisa saja memilih menggunakan kendaraan yang sebelumnya diparkir di pelabuhan, tetapi malam itu kakiku memilih cara yang berbeda. Musabab jarak antara pelabuhan dan penginapan tidak terlalu jauh, aku memutuskan berjalan kaki untuk menikmati sedikit lebih lama suasana Labuan Bajo yang perlahan bersiap menutup harinya. Sepanjang perjalanan, sebuah mercusuar tinggi terlihat berdiri menjulang, memecah gelap dengan cahaya yang sesekali berputar ke arah laut. Di beberapa sudut jalan terlihat orang-orang yang sedang berolahraga malam, sementara pasar malam di tepi pelabuhan masih ramai oleh suara pedagang, tawa, dan langkah kaki yang saling bersahutan dengan debur ombak. Di antara keramaian itu, anak-anak tampak berlarian dan bermain tanpa memikirkan apa pun selain bahagia. Pemandangan sederhana itu sekejap membawaku pulang pada ingatan tentang anak dan istriku. Tiba-tiba muncul keinginan kecil untuk mengajak mereka menikmati tempat seindah ini di suatu hari nanti. Semoga Tuhan berkenan mengizinkan keinginan itu untuk menemukan jalannya.

Berbicara tentang keinginan, aku teringat pada daftar kecil yang pernah kubisikkan pada pertemuan pertamaku dengan Labuan Bajo, yaitu menikmati senja di Puncak Waringin, menjejak Pulau Komodo, dan berenang di Pantai Pink, perlahan menemukan jalannya sendiri untuk menjadi nyata. Hanya satu yang masih memilih menunggu: mendaki Pulau Padar. Namun perjalanan kali ini ternyata menghadirkan lebih banyak dari yang pernah kubayangkan. Aku tidak hanya kembali bertemu Labuan Bajo, tetapi juga diberi kesempatan menelusuri sisi lain Pulau Flores melalui trekking di Desa Wisata Wae Lolos, menyaksikan secara langsung kolam di atas awan, hingga berkenalan dengan sebuah bukit kecil di Pulau Kelor yang kudeklarasikan namanya sebagai Bukit Perpisahan. Kadang hidup memang memiliki caranya sendiri untuk memberi kejutan, menghadirkan sesuatu yang bahkan tidak sempat dimasukkan ke dalam daftar harapan.

Malam itu aku menyadari bahwa perjalanan ternyata tidak selalu mengajarkan tentang tempat-tempat baru, tetapi juga tentang cara memandang hidup dengan lebih tenang. Ada harapan yang langsung menemukan jalannya, ada yang memilih datang lebih lambat, dan ada pula yang mungkin sengaja ditunda agar tetap memberi alasan untuk kembali datang. Mungkin itulah mengapa beberapa tempat terasa begitu sulit dilupakan. Bukan karena lautnya, bukitnya, atau langit jingganya, melainkan karena tempat-tempat itu pernah mengajarkan bahwa tidak semua hal harus selesai dalam satu perjalanan. Sebab terkadang, kita memang perlu meninggalkan sedikit mimpi di suatu tempat, agar hati selalu memiliki alasan untuk kembali.
…….
Keesokan harinya, ketika mentari perlahan mulai menampakkan diri di ufuk timur, kami kembali bersiap melanjutkan perjalanan pulang. Pemberkasan dokumen tugas, penyelesaian laporan, hingga membereskan barang dan meninggalkan penginapan dilakukan dengan tenang dan perlahan, seolah mencoba memperpanjang waktu yang masih tersisa. Pada akhirnya, perpisahan dengan Labuan Bajo kembali terjadi. Namun kali ini, aku sadar ada beberapa hal yang sengaja kutinggalkan di tempat ini, bukan jejak langkah, melainkan harapan yang belum sempat menemukan jalannya untuk menjadi nyata. Labuan Bajo, mungkinkah kita akan dipertemukan lagi? Mungkinkah langkahku suatu hari nanti benar-benar sampai di puncak Pulau Padar? Entahlah. Biarlah Tuhan melalui kaki-kaki kecil semesta yang menjawabnya.







