Cover Setahun Tinggal Di Kupang Nusa Tenggara Timur

Setelah Setahun Tinggal Di Kupang: Di Antara Keindahan dan Kerinduan

Banyak yang bilang bahwa: seindah apa pun tempat perantauan, seorang perantau tetap akan merindukan kampung halamannya. Apakah benar demikian? Pertanyaan itu terus menggema di kepalaku selama hampir setahun ini. Sebenarnya, Kota Kupang yang menjadi tempat perantauanku sekarang menyuguhkan banyak keindahan, mulai dari cakrawala biru yang luas membentang, mega-mega dengan berbagai variasi menghiasi langit, dan laut jernih memesona dengan pasir putihnya, berbeda dengan tempat asalku. Namun, di antara semua keindahan itu, terselip kerinduan pada rumah, keluarga, dan hal-hal kecil lainnya yang ada di kampung halaman. Di kota ini aku belajar, bahwa merantau bukan hanya tentang singgah di tempat baru, tetapi juga tentang memahami arti pulang.

Tak Terasa

Semuanya terlihat normal, hanya ada satu yang mencolok. Berdasarkan tes ini, sifat introvert kamu terlalu dominan” Kata seorang psikolog ketika aku melakukan tes kejiwaan untuk syarat menjadi PNS, beberapa hari yang lalu.

Tak terasa, sepertinya baru kemarin aku menjadi CPNS dan membuat kisah perjalanan selama Sebulan Di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kini, waktu telah melangkah menjauh, meninggalkan jejakku yang terhenti di Kota Kupang. Hari ini, 28 Mei 2026, tepat setahun yang lalu ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di tanah Flobamorata. Sebuah tempat yang awalnya asing, tetapi perlahan menjadi bagian dari kisah hidupku yang tak akan pernah terlupakan.

Aku masih ingat betul, pagi itu, aku kebingungan di Bandara Eltari karena tidak memiliki gambaran apa pun tentang kota ini. Aku hanya bisa mengandalkan smartphone sebagai pemandu. Tujuanku hanya satu, sampai di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Nusa Tenggara Timur tepat waktu. Sebab hari itu adalah hari terakhir bagi CPNS untuk melakukan registrasi ulang di tempat yang telah ditentukan. Cerita selanjutnya sudah aku abadikan dalam tulisan ini.

Lalu, apa yang terjadi setelah sebulan tinggal di Kota Kupang? Banyak kejadian, pelajaran, dan wawasan baru yang aku dapatkan, terutama tentang birokrasi di negara ini yang aku dapatkan dari pengalaman para senior. Beruntungnya aku mendapatkan tempat kerja yang lingkungannya baik, atasannya mengayomi dan seniornya mengarahkan sesuai aturan. Secara keseluruhan, aku sangat bahagia bisa mendapatkan kesempatan tinggal dan bekerja di Kota Kupang ini.

Tidak Ada yang Kebetulan

Percaya atau tidak, walaupun aku sering menggunakan kata “Kebetulan” untuk merendahkan diri atau hanya untuk sekadar menghindari pujian berlebihan, nyatanya aku tidak percaya dengan kata itu.

Wiihh… Kok, bisa, ya…

Mantap, ajarin, dong…

Bisa seperti itu, gimana caranya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, biasanya aku hanya menggunakan satu kata: “Kebetulan”.

Padahal, jawaban itu hanyalah cara paling mudah untuk mengakhiri percakapan tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Jauh di dalam hati, aku meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar terjadi secara kebetulan. Setiap pertemuan, setiap perjalanan, setiap kesempatan, bahkan setiap kesulitan, memiliki garis yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pengatur.
Begitu pula dengan langkahku yang akhirnya membawaku ke Kota Kupang. Di awal, mungkin aku menganggapnya sekadar penempatan kerja biasa. Namun semakin lama aku menjalani hari-hari di tanah Flobamorata, semakin aku percaya bahwa kehadiranku di sini bukanlah tanpa alasan.
Ada rencana yang sedang disusun oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jauh sebelum aku memahaminya. Dan seperti potongan-potongan puzzle yang perlahan menemukan tempatnya, waktu mulai memperlihatkan kepadaku mengapa aku harus berada di sini.

1

Enam tahun lalu. Sekitar enam bulan setelah mengambil KPR, entah mengapa rasanya aku jengah. Aku mulai berandai-andai, bagaimana kalau aku mencari kerja di kota terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk tetapi gajinya lebih besar?

2

Sejak lama aku sangat mengagumi keindahan alam Indonesia, tetapi sayang, penjelajahanku seringnya dilakukan di tanah Pasundan semata. Aku ingin melihat keindahan Indonesia lebih jauh lagi, salah satunya Labuan Bajo.

3

Beberapa waktu setelah menikah, aku berjanji mengajak jalan-jalan istriku ke pantai yang pasirnya putih dan lautnya jernih. Waktu itu aku berencana mengajaknya ke Kepulauan Seribu. Namun, karena satu lain hal, aku belum menepatinya.

Setidaknya, tiga hal itulah yang perlahan kupahami sebagai alasan Tuhan mengirimku ke Nusa Tenggara Timur, sebuah tanah yang berjarak ribuan kilometer dari kampung halaman. Bukan sebagai bentuk hukuman, melainkan sebagai jawaban atas doa-doa dan harapan yang pernah kusimpan di masa lalu.

Semakin lama aku menjalani kehidupan di sini, semakin aku menyadari bahwa banyak hal yang awalnya terasa berat justru membawa pelajaran dan kebaikan yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Namun, aku yakin alasan itu tidak berhenti pada tiga hal saja. Pasti masih ada rencana-rencana lain yang belum mampu kupahami, yang berada di luar batas pengetahuanku sebagai manusia. Apa itu? Entahlah.

Aku dan Pantai Liman Nusa Tenggara Timur

Seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, aku percaya bahwa Tuhan selalu memiliki cara yang indah untuk memperlihatkan maksud-Nya pada waktu yang tepat. Sebab berkali-kali hidup mengajarkanku bahwa jalan yang dipilih Tuhan sering kali berbeda dari rencanaku, tetapi selalu berakhir lebih baik dari yang kubayangkan.

Maka dari itu, aku tidak pernah menganggap keberadaanku di Kupang sebagai sebuah kebetulan. Aku berada di sini karena Tuhan sedang menjawab sesuatu dari masa laluku dan sekaligus menyiapkan sesuatu untuk masa depanku. Mungkin hari ini aku belum melihat gambaran besarnya, tetapi aku percaya setiap langkah yang kutempuh adalah bagian dari cerita yang telah ditulis-Nya dengan sempurna.

Dan ada satu hal kecil yang sering membuatku tersenyum ketika mengingatnya. Saat ini aku tinggal di Jalan Damai, Oebufu, Kota Kupang. Setelah melalui berbagai kegelisahan, penyesuaian, dan pelajaran hidup selama merantau, aku justru berlabuh di sebuah tempat yang bernama Damai. Apakah itu kebetulan? Aku rasa tidak. Mungkin itu cara Tuhan menyelipkan pesan sederhana, bahwa setelah perjalanan yang panjang, pada akhirnya aku berada di sini untuk mendapatkan sebuah kedamaian.

Menjelajahi Keindahan NTT

NTT bagiku bukan hanya singkatan sebuah provinsi, Nusa Tenggara Timur, melainkan singkatan dari sesuatu yang luar biasa, Negeri Titipan Tuhan. Sebab banyak keindahan semesta yang telah Tuhan titipkan di tanah ini. Bahkan, menurutku, hampir semua keindahan Tuhan ada di NTT. Sebutkan saja, kamu ingin keindahan yang seperti apa? Pantai dengan pasir putih? Banyak. Laut biru yang jernih? Membentang di sepanjang pulau. Pegunungan yang dipenuhi kabut memesona? Ada. Ingin melihat padang pasir di samping laut? Bisa. Hingga keajaiban dunia pun ada di sini! Maka tidak berlebihan bila aku menyebutnya sebagai Negeri Titipan Tuhan.

Sejak datang di NTT, aku sudah membuat daftar tempat yang ingin aku kunjungi. Meskipun daftar itu hanya aku tulis di kepala, tetapi, Alhamdulillah, beberapa di antaranya sudah tercapai. Bahkan, mengunjungi laut biru yang jernih dengan pantainya yang putih, yang dulu hanya ada di angan-angan, yang menjadi janjiku pada istri tercinta, kini bisa aku kunjungi setiap hari. Ya, setiap hari! Bagaimana dengan biayanya? Gratis. Semua pantai yang ada di pesisir utara Pulau Timor ini bisa dinikmati secara gratis. Kalau pun ada biaya, biasanya hanya untuk tempat parkir kendaraan saja, sekitar Rp.2.000 – Rp.5.000. Harga yang sangat murah untuk menikmati pantai yang indah.

Senja Di Labuan Bajo yang Indah
Di Kota Kupang Tidak Mudik 2026
Pohon Unik Di Pantai Paradiso Kota Kupang
Keindahan Pantai Liman
Pemandangan Selat Semau
Tempat Makan Di Hotel Labuan Bajo

Terlebih, saat ini Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Nusa Tenggara Timur sudah pindah di Jalan R.A. Kartini, Kelapa Lima (Depan Hotel Sasando), sehingga lebih dekat dengan laut. Jadi, pemandangan laut yang indah selalu aku lihat ketika berangkat kerja. Bukan hanya itu, aku juga bisa melihat laut biru itu dari lantai 3 tempatku bekerja. Mantap, bukan?

Berbicara tentang alam Nusa Tenggara Timur yang memesona, rasanya setiap langkah di tanah Flobamorata selalu meninggalkan cerita yang sulit dilupakan. Melalui tugas yang membawaku berkeliling ke berbagai daerah, aku berkesempatan mengunjungi banyak tempat dengan keindahannya masing-masing. Mulai dari pantai yang tenang, perbukitan yang luas, hingga sudut-sudut kota kecil yang menyimpan suasana hangat dan sederhana. Dari perjalanan-perjalanan itu, aku tidak hanya melihat keindahan alam NTT, tetapi juga mengenal kehidupan dan cerita yang tumbuh di dalamnya. Inilah beberapa penjelajahan yang telah aku lakukan di Nusa Tenggara Timur.

Pantai Paradiso

Aku mengunjungi pantai ini pada masa-masa awal tinggal di Kupang, ketika istri dan anakku belum menyusul dan hari-hari masih kulalui seorang diri. Saat itu, aku harus mengambil sebuah papan nama di sebuah toko. Musabab belum memiliki kendaraan dan sedang berusaha berhemat, aku memutuskan pergi dengan berjalan kaki. Sebelum berangkat, aku sempat melihat lokasi toko melalui Google Maps dan menyadari bahwa tempat itu berada tidak jauh dari laut. Dari sana, aku mencari pantai terdekat dan menemukan Pantai Paradiso. Mungkin karena rindu yang diam-diam menumpuk dan kesendirian yang membelenggu, akhirnya aku memutuskan mampir ke pantai itu. Niatku, hanya untuk mencari angin laut dan sedikit tenang untuk mengobati sendu karena jauh dari keluarga. Dan itulah pertama kalinya aku menemukan Pantai Paradiso. Setelah istri dan anakku menyusul ke Kupang, aku mengajak mereka untuk menikmati ketenangan pantai ini.

Sunrise Pantai Paradiso

Pantai Ketapang Satu

Pertemuanku dengan Pantai Ketapang merupakan ketidaksengajaan. Saat itu, aku dan dua orang teman yang sama-sama berasal dari Pulau Jawa sedang ada urusan di Bank BNI. Kami memutuskan ke Bank BNI yang ada di Kota Lama. Sebab, selain jaraknya yang paling dekat, lokasinya juga ada di tepi laut. Lumayan, bisa menikmati jernihnya laut di siang hari. Jarak dari dari kantor menuju Bank BNI hanya sekitar 4 KM, memakan waktu 10 menit bila menggunakan mobil. Tak pikir panjang, kami pun langsung memesan taksi online untuk menuju bank tersebut. Setelah sampai, ternyata letaknya memang sangat dekat dengan laut. Bukan hanya itu, terdapat juga pantai pasir putih yang dikelilingi tebing karang. Di beberapa sudut tebing karang itu, pepohonan rindang tumbuh dengan anggun, menghadirkan semburat hijau yang berpadu serasi dengan birunya laut dan kokohnya batu karang, menciptakan panorama yang memanjakan mata. Pantai ini mengingatkan aku dengan pantai-pantai yang ada di Pulau Bali. Musabab terpesona dengan keindahannya, pada lain waktu aku mengunjunginya lagi bersama istri dan anakku.
Tebing Di Pantai Ketapang Satu Kota Kupang

Pantai Kelapa Lima

Pertama kali ke Pantai Kelapa Lima bersama anak dan istri. Kalau tidak salah ingat, waktu itu malam hari selepas Shalat Maghrib. Aku yang hari itu sedang senggang, memutuskan untuk mengajak mereka jalan-jalan malam. Tidak ada tujuan pasti, hanya berkeliling Kota Kupang. Langsung saja aku tancap gas melewati Monumen Tirosa, lurus ke bawah, ke arah laut hingga sampai di Jalan Terusan Timor. Dari situ, aku mengarahkan sepeda motor ke barat, hingga akhirnya melewati Pantai Kelapa Lima. Suasana pantai langsung terasa. Angin laut yang berhembus, suara ombak bersahutan, dan asap penjual ikan bakar yang khas menerpa tubuh. Sangat cocok untuk menikmati suasana pantai di malam hari. Setelahnya, beberapa kali kami menyempatkan diri untuk mengunjungi pantai ini lagi. Bukan hanya lewat tetapi benar-benar menjamahnya, walaupun sekadar duduk di tangga-tangga tepi pantai atau menyaksikan nelayan yang pulang melaut.

Aku dan Pantai Kelapa Lima Kota Kupang

Pantai Oesapa

Sebenarnya tidak sulit menemukan penjual ikan di pinggir jalan Kota Kupang. Namun pagi itu, istriku mengajakku membeli ikan langsung di Pasar Oesapa karena menurutnya, pilihan yang tersedia lebih beragam. Aku pun mengiyakan ajakan tersebut, apalagi pasar itu direkomendasikan oleh seorang teman yang mengatakan bahwa banyak jenis ikan segar dijual di sana. Sesampainya di Pasar Oesapa, aku sedikit terkejut karena lokasinya ternyata sangat dekat dengan Pantai Oesapa. Dari Google Maps memang terlihat bahwa pasar ini berada di tepi laut, tetapi aku tidak menyangka akan disambut pemandangan pantai yang begitu indah. Melihat hamparan pasir putih dan birunya laut, Hasna langsung berlari riang menyusuri pantai, sementara istriku sibuk memilih ikan di pasar. Tanpa direncanakan, perjalanan sederhana untuk berbelanja ikan pagi itu berubah menjadi kesempatan menikmati keindahan Pantai Oesapa bersama keluarga.

Aku dan Pantai Oesapa Nusa Tenggara Timur

Pantai Pasir Panjang

Kedekatanku dengan Pantai Pasir Panjang bukan hanya soal fisik, tetapi ada ikatan kedekatan lain yang tak terlihat. Saat anakku ingin bermain pasir pantai yang putih dan istriku ingin melihat jernihnya air laut, pilihan utama pasti jatuh pada pantai ini. Bisa dikatakan bahwa pantai ini adalah tempat favorit kami di Kupang. Lokasinya berada di samping Jalan Terusan Timor sehingga mudah diakses. Tersedia tempat parkir untuk motor dan mobil yang cukup luas di sini. Sehingga pengunjung yang membawa kendaraan tidak perlu khawatir. Apa lagi untuk menikmati keindahan Pantai Pasir Panjang tidak perlu membayar tiket masuk, cukup membayar Rp.2000 – Rp.5000 untuk parkir kendaraan saja. Kami biasa ke pantai ini sore hari untuk menikmati semilir angin laut dan hangatnya cahaya senja. Kami pun kerap menghabiskan waktu di sini tanpa rencana apa pun, cukup datang, berjalan menyusuri garis pantai, menemani Hasna bermain pasir, lalu duduk sejenak memandangi laut yang diselimuti senja seolah tak pernah kehabisan cara untuk menenangkan hati.

Aku dan Pantai Pasir Panjang Nusa Tenggara Timur

Pantai Sulamanda

Minggu pagi menjelang siang, aku, istri, dan anakku sampai di Pantai Sulamanda. Sebelumnya, kami berkeliling Kota Kupang hingga menemukan plang penunjuk arah ke pantai ini. Tak pikir panjang kami pun mengikuti plang tersebut, keluar dari jalan raya kemudian melewati jalanan kecil yang rusak di tengah sawah. Hingga akhirnya, sampailah kami di tempat ini. Ketika sampai, kami disambut jajaran warung di tepi pantai dan pepohonan yang cukup meneduhkan. Kami beristirahat di salah satu warung sembari menikmati kelapa muda dan pemandangan indah di depan mata. Sayangnya, siang itu laut sedang surut sehingga Hasna tidak bisa bermain air. Ia hanya berlari hendak menggapai ombak, tetapi tak sampai karena kelelahan terlebih dahulu menghampiri. Bagaimana tidak, air laut sedang surut hingga ke tengah dan terik mentari begitu menyengat. Berteduh di warung sembari menikmati air kelapa segar adalah pilihan yang paling tepat.

Aku dan Pantai Sulamanda Nusa Tenggara Timur

Pantai Tablolong

Pantai Tablolong adalah pantai terjauh yang pernah kami kunjungi dengan menggunakan sepeda motor. Jaraknya kurang lebih 30 KM dari kontrakan, sekitar 1 jam perjalanan. Kami sampai di sana sore hari ketika mentari melukis semburat jingga di cakrawala. Laut sedang surut tetapi Hasna tetap berlari menuju air dan bermain bersamaku. Sedangkan istriku menunggu di bibir pantai, duduk di atas tikar yang kami bawa. Pantai ini sedang sepi meskipun pada akhir pekan. Semesta seperti menyiapkan Pantai Tablolong hanya untuk kami saja. Kami pun memanfaatkan suasana itu dengan baik, hingga tak terasa mentari hampir jatuh di kaki langit. Lokasi pantai yang berada di sebelah barat pulau, membuat matahari tenggelam dapat kami saksikan tanpa panghalang. Kami dibuat takjub hingga lupa waktu. Temaram datang. Kami bergegas pulang. Di perkampungan dekat pantai, beberapa orang membawa bangku dari rumah lalu duduk di bibir laut. Mereka hendak menyaksikan atraksi semesta yang mengubah warna laut menjadi jingga. 

Aku dan Pantai Tablolong Nusa Tenggara Timur

Suba Suka Waterpark

Jujur saja, pertama kali kami mengunjungi Suba Suka Waterpark karena penasaran. Kebetulan, waktu itu sedang ada promo sehingga kami memanfaatkan kesempatan itu. Namun, setelah berkunjung ke sana, kami kembali mendatanginya. Bukan karena tempatnya yang megah, bukan pula karena wahananya yang lengkap, melainkan karena panoramanya yang luar biasa. Di balik kesederhanaan yang ditawarkan oleh Suba Suka Waterpark, terdapat keindahan alam yang tersembunyi. Setelah melewati pintu masuk, kami langsung disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Tepat di luar tembok pembatas area kolam renang, terbentang pantai pasir putih yang dihiasi batu karang. Pembatas antara kolam dan laut sangat tipis, membuat kami bisa berenang sembari menikmati suasana pantai. Apa lagi ketika aku naik ke atas balkon seluncuran, pemandangan laut, pantai, dan kolam renang seakan bersatu padu. Hal inilah yang akhirnya membuat kami kembali bermain air di Suba Suka Waterpark.

Aku dan SubaSuka Waterpark Kupang Nusa Tenggara Timur

Mata Air Tofa

Lokasi Mata Air Tofa sangat dekat dengan kontrakanku, tetapi aku baru mengetahuinya beberapa waktu yang lalu dari seorang senior. Saat itu kami sedang dalam perjalanan menuju toko sepatu dan tak sengaja melewati mata air ini. Setelahnya, aku mengunjunginya lagi, bukan hanya lewat tetapi juga singgah. Jarak yang ditempuh sekitar 1,5 KM dengan berjalan kaki, yang memakan waktu kurang lebih 30 menit. Suasana di sekitar mata air masih asri, rimbun dengan pepohonan hijau. Hal ini sangat kontras dengan daerah perkotaan yang identik dengan kemewahan. Mata air ini hadir dengan membawa ketenangan, meskipun berada di tengah hiruk-pikuk kota. Warga sekitar memanfaatkannya untuk mandi, mencuci, dan cadangan air bersih. Penasaran dari mana sumber air yang mengalirinya, aku pun menuju ke arah hulu. Ternyata airnya dari bawah tanah yang menyerupai gua. Sangat segar! Namun, sayangnya saat itu aku tidak membawa baju ganti sehingga tidak bisa berenang di Mata Air Tofa.

Aku dan Mata Air Tofa Kota Kupang

Labuan Bajo

Labuan Bajo menjadi perjalanan dinas pertamaku selama bertugas di Nusa Tenggara Timur, sekaligus tempat yang sejak lama hanya hadir sebagai sebuah impian. Aku tidak pernah menyangka bahwa keinginan untuk mengunjungi kota ini akhirnya terwujud justru melalui sebuah ketidakterdugaan. Selama tiga hari dua malam aku tinggal di kota impian itu, merasakan udara pagi di pesisir hingga menikmati malam di jalanan yang memiliki pesonanya tersendiri. Meski waktu untuk menikmati setiap sudutnya sangat terbatas, satu hal yang paling membekas adalah senja di Labuan Bajo. Dari balik jendela mobil yang terus melaju, aku menyaksikan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi jingga yang memukau. Terlalu indah untuk dilewatkan, aku meminta mobil menepi sesaat di jalan dekat Puncak Waringin. Saat itu, aku benar-benar memahami mengapa Labuan Bajo dijuluki sebagai Kota Seribu Sunset. Perjalananku selama di Labuan Bajo sudah aku abadikan dalam catatan penjelajahan yang berjudul Bagaikan Mimpi, Bisa Menikmati Senja Di Labuan Bajo.

Aku dan Labuan Bajo

Pulau Semau

Pulau Semau berada di sebelah barat Pulau Timor, hanya dipisahkan oleh Selat Semau yang lebarnya sekitar tiga kilometer. Meski jaraknya begitu dekat, pulau ini terasa berada di dunia yang berbeda. Menurutku, letaknya yang terpisah dari Pulau Timor membuat Semau terasa terasing, namun tidak benar-benar terpencil. Akses menuju pulau ini masih mudah, hanya saja tidak banyak orang yang singgah, sehingga suasananya begitu tenang dan hening. Aku mengunjungi Pulau Semau dalam perjalanan dinas keduaku. Sebuah perjalanan yang awalnya hanya tentang tugas, tetapi kemudian menghadiahkanku pengalaman yang jauh lebih berharga. Di pulau ini, aku belajar banyak hal, meninggalkan jejak langkah, sekaligus menemukan cerita yang akan selalu kuingat. Seluruh kisah penjelajahanku di sana telah kuabadikan dalam sebuah artikel berjudul Menemukan Surga yang Tersembunyi di Pulau Semau.

Pantai Otan

Pagi itu, kapal yang membawaku dari Pelabuhan Bolok perlahan merapat di Pelabuhan Hansisi, Pulau Semau. Kami segera bergerak menjalankan tugas, berpindah dari satu tempat ke tempat lain menyusuri pulau yang tenang itu. Namun bagiku, perjalanan ini bukan sekadar tentang berpindah lokasi, melainkan tentang menemukan makna di setiap langkah. Salah satu makna itu kutemukan di Pantai Otan. Pantai ini begitu sunyi, hanya debur ombak yang datang silih berganti, berpadu dengan semilir angin yang sesekali menyentuh wajah, meredakan terik matahari yang menggantung di langit. Perahu-perahu nelayan yang bersandar di tepian, hamparan pasir putih yang lembut, serta laut biru yang membentang tanpa batas menghadirkan panorama yang sederhana tetapi menenangkan. Saat matahari mencapai puncak kekuatannya, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan mengisi tenaga. Di tempat itu, aku merebahkan tubuh sambil memandangi laut yang berkilau diterpa cahaya. Jauh dari kebisingan dan rutinitas, segala beban terasa luruh bersama angin yang berembus. Pantai Otan bukan hanya menyuguhkan keindahan, tetapi juga mengingatkanku betapa agungnya karya Sang Pencipta yang terhampar dalam kesederhanaan alam.

Aku dan Pantai Otan Pulau Semau Nusa Tenggara Timur

Kolam Uisimu

Masih dalam rangkaian tugas di Pulau Semau, kami mengunjungi Kolam Uisimu untuk menyelesaikan tugas berikutnya. Di sana, aku bertemu dengan seorang warga negara Prancis yang mengabdikan dirinya untuk merawat penyu-penyu yang sakit dan terluka. Saat pertama kali melihat kolam ini, aku merasa seolah pernah berada di tempat yang sama. Ternyata, kejernihan airnya mengingatkanku pada Situ Cicerem atau Telaga Biru di Kuningan, Jawa Barat. Seketika, kenangan tentang kampung halaman kembali hadir di benakku. Jauh dari rumah, Kolam Uisimu justru menghadirkan kehangatan masa lalu. Namun lebih dari itu, tempat ini juga memberiku pelajaran berharga tentang ketulusan, yang kutemukan dari sosok sederhana yang merawat kehidupan tanpa mengenal batas negara dan asal-usul. Di tengah perjalanan dinas yang penuh mobilitas, kolam kecil itu menghadirkan jeda yang menenangkan. Seolah airnya yang bening bukan hanya memantulkan langit, tetapi juga memantulkan kembali ingatan dan rasa syukur dalam diriku.

Aku dan Kolam Uisimu Pulau Semau Nusa Tenggara Timur

Pantai Liman

Menjelang sore, kami menuju penginapan yang berada tak jauh dari pantai. Setibanya di sana, aku langsung terpana oleh keindahan yang terhampar di hadapan mata. Pasir putihnya membentang lembut, berpadu dengan laut yang jernih berwarna biru kehijauan. Angin semilir berembus pelan, seolah menyambut setiap langkah yang datang. Di kejauhan, sebuah bukit berdiri anggun, melengkapi panorama yang begitu memikat. Inilah Pantai Liman, letaknya di sisi barat Pulau Semau menjadikannya tempat yang sempurna untuk menikmati senja. Perlahan, langit mulai disapu warna jingga keemasan, sementara cahaya matahari memantul di permukaan laut yang tenang. Aku duduk menikmati pemandangan itu tanpa banyak kata. Rasanya, waktu berjalan lebih lambat di pantai ini. Di antara keheningan sore dan indahnya matahari terbenam, Pantai Liman meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Bahkan, sempat terbesit di pikiranku untuk tinggal dan membangun kehidupan baru di sini. Memang sebegitu memesonanya Pantai Liman bagiku.

Aku dan Pantai Liman Pulau Semau Nusa Tenggara Timur

Bukit Liman

Di hari terakhir menjalankan tugas di Pulau Semau, pagi buta aku kembali menyambangi pantai itu. Mentari bahkan belum sepenuhnya bangun ketika aku melangkah menyusuri pasir yang masih sepi. Ada sebuah panggilan yang membuatku bergegas, yaitu Bukit Liman yang berdiri di ujung pantai. Perlahan aku mendekatinya, lalu menapaki punggung bukit yang mulai diterangi cahaya fajar. Setibanya di puncak, seluruh keindahan Pulau Semau seolah tersaji tanpa tirai. Hamparan laut biru membentang luas, berpadu dengan lengkung Pantai Liman yang memesona dan perbukitan hijau yang bergelombang. Angin pagi berembus lembut, sementara matahari perlahan muncul dari ufuk, menyempurnakan panorama yang terbentang di hadapanku. Di titik itu, aku hanya bisa diam dan bersyukur, menikmati sebuah pemandangan yang mengingatkanku betapa luas dan indahnya semesta ciptaan Tuhan. Setelah cukup lama merenung, aku pun menuruni bukit dan kembali ke penginapan. Siang nanti kami harus kembali ke kantor, tetapi sebagian dari diriku rasanya akan selalu tertinggal di Pulau Semau.

Pantai Liman Dilihat Dari Bukit Liman

Kota Maumere

Kota Maumere menjadi tujuan perjalanan dinasku yang ketiga di Nusa Tenggara Timur. Pagi itu, pesawat yang membawaku mendarat di Bandara Frans Seda, Kabupaten Sikka, menandai dimulainya tugas selama tiga hari dua malam di kota yang tenang ini. Penginapanku berada di dekat pantai, sehingga setiap pagi aku dapat menikmati hembusan angin laut dan menyaksikan mentari terbit yang perlahan menyaput langit dengan warna keemasannya. Maumere memiliki bentang alam yang unik; di sebelah timur, selatan, dan barat, kota ini dipeluk oleh perbukitan dan pegunungan, sementara di utara terbentang Laut Flores yang luas. Kota ini seakan mengasingkan diri dari dunia, membuatnya tenang dalam kesunyian, tanpa tergesa, tanpa hiruk-pikuk yang berlebihan. Jalan-jalannya lengang, udaranya terasa damai, dan waktu seolah bergerak lebih lambat. Sejujurnya, inilah kota paling tenang yang pernah kusinggahi. Dalam ketenangan itulah, Maumere meninggalkan kesan yang hangat dan sulit untuk dilupakan.

Aku dan Kota Maumere Nusa Tenggara Timur

Mulai Terbiasa

Waktu berjalan tanpa terasa. Hari demi hari kulewati di Kota Kupang dengan rutinitas yang semakin teratur. Jika pada awal kedatangan aku sering merasa asing dengan lingkungan sekitar, kini perasaan itu perlahan memudar. Jalan-jalan yang dulu terasa membingungkan mulai kuhafal, begitu pula sudut-sudut kota yang sering kulewati. Kota ini tidak lagi terasa sebagai tempat singgah, melainkan tempat untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menerima hampir segala hal tentang Kupang. Langitnya yang biru, lautnya yang selalu memanjakan mata, masyarakatnya yang ramah, hingga ritme hidup yang terasa lebih santai dibandingkan kota-kota besar. Bahkan cuaca panas yang dulu sering dikeluhkan perlahan menjadi sesuatu yang biasa. Namun, ada satu hal yang hingga kini belum benar-benar bisa kuakrabi: pengeras suara yang kerap terdengar dari malam hingga pagi hari ketika ada acara. Sebagai seseorang yang terbiasa dengan suasana malam yang tenang, kebiasaan itu menjadi hal yang paling sulit untuk kuadaptasi.

Aku dan Kota Kupang Nusa Tenggara Timur
Di luar itu, Kupang menawarkan begitu banyak kenyamanan. Aku mulai menemukan tempat-tempat favorit untuk melepas penat, menikmati senja di tepi pantai, atau sekadar berjalan santai bersama keluarga. Keindahan yang dulu terasa istimewa perlahan menjadi bagian dari keseharian, meskipun tidak pernah kehilangan pesonanya.

Aku juga mulai memahami karakter kota ini. Kupang mungkin tidak menawarkan gemerlap kota besar, tetapi justru kesederhanaannya menjadi daya tarik tersendiri. Di sini, aku belajar memperlambat langkah, menikmati hal-hal kecil, dan menyadari bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana: langit yang cerah, angin laut yang berembus pelan, sore yang tenang tanpa tergesa-gesa, atau jalanan lengang tanpa macet.

Suasana Kota Kupang Nusa Tenggara Timur

Tanpa kusadari, Kota Kupang yang semula terasa asing perlahan berubah menjadi tempat yang akrab. Semakin lama tinggal di sini, semakin banyak sudut kota yang menyimpan cerita dan kenangan. Mungkin inilah cara sebuah tempat diterima oleh hati: bukan melalui gemerlap kemewahan, melainkan melalui kesederhanaan alam yang akhirnya menjadi bagian dari keseharian.

Kerinduan akan Pulang

Nusa Tenggara Timur telah memberiku begitu banyak keindahan. Laut biru yang membentang tanpa batas, pantai-pantai berpasir putih, perbukitan yang berdiri gagah, hingga senja yang seolah selalu memiliki cara untuk membuat siapa pun terdiam. Melalui tugas, aku menginjakkan kaki di berbagai tempat yang sebelumnya hanya kulihat dalam foto atau kubaca dalam cerita perjalanan. Aku bersyukur bisa menyaksikan semua itu secara langsung. Namun, semakin banyak keindahan yang kutemui, semakin aku memahami bahwa ada sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh pemandangan seindah apa pun: kerinduan untuk pulang.

Tahun 2026 menjadi tahun yang berbeda bagiku. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak pulang ke kampung halaman saat Hari Raya Idulfitri. Tidak ada perjalanan panjang menuju rumah, tidak ada momen bersalaman dengan keluarga besar, dan tidak ada suasana akrab yang biasanya menghangatkan hari raya. Meski teknologi memungkinkan kami saling bertatap muka melalui layar, tetap saja ada jarak yang tidak bisa dijembatani. Pada saat itulah aku menyadari bahwa rindu memiliki caranya sendiri untuk hadir, bahkan di tengah tempat yang indah sekalipun.

Kosan Pink Jalan Damai Oebufu Kota Kupang Nusa Tenggara Timur

Selama ini aku mengira rumah hanyalah sebuah bangunan tempat seseorang tinggal. Namun, perantauan mengajarkanku makna yang berbeda. Rumah bukan sekadar dinding, atap, atau alamat yang tercantum pada kartu identitas. Rumah adalah tempat berbagai cerita bertumbuh dan menetap. Aku teringat rumah kami di Bekasi. Dulu, saat pertama kali menempatinya, aku sempat ingin pindah. Sebab kota itu terasa begitu sesak, dan aku membayangkan ada tempat lain yang lebih baik untuk ditinggali. Ternyata waktu perlahan mengubah cara pandangku.

Di rumah itulah aku dan istriku memulai kehidupan bersama. Di rumah itu pula kami menyambut kelahiran anak kami, mendengar tangis pertamanya, menyaksikan langkah-langkah kecilnya, serta mengisi hari dengan berbagai cerita yang mungkin terlihat sederhana, tetapi begitu berharga. Kenangan-kenangan itu menempel pada setiap sudut rumah, menjadikannya lebih dari sekadar tempat tinggal. Baru setelah berada jauh di Nusa Tenggara Timur, aku menyadari bahwa yang kurindukan bukan hanya sebuah bangunan di yang padat itu, melainkan seluruh kisah yang tersimpan di dalamnya. Dan karena itulah, aku selalu ingin kembali.

Aku ingin Pulang

Pada akhirnya, setiap perantau akan sampai pada pemahaman yang sama. Bahwa sejauh apa pun langkah membawa kita pergi, selalu ada satu tempat yang diam-diam menarik hati untuk kembali. Sebab rumah bukan sekadar titik di peta, melainkan kumpulan kenangan yang hidup dalam ingatan. Ia menunggu dengan sabar, tidak pernah benar-benar memanggil, tetapi selalu berhasil membuat kita merindukannya. Dan di antara laut-laut biru Nusa Tenggara Timur yang memukau, aku belajar bahwa perjalanan sejauh apa pun pada akhirnya akan bermuara pada satu keinginan sederhana: pulang.

Artikel Serupa

  • Luka Kecil

    Tak ada yang peduli dengan luka kecil ini, termasuk diriku sendiri. Luka di ruas jari yang disebabkan karena udara panas, seakan menjadi hal biasa yang aku alami. Wajar, panas Kota Kupang cukup menyengat sehingga membuat permukaan kulit menjadi kering dan mudah luka. Musabab sering mengalami luka seperti ini, aku menjadi terbiasa. Sedikit pedih memang, tetapi…

  • Pejalan Pelan

    Pertengahan 2024. Stasiun Metland Telaga Murni pukul 06.00 WIB. Seperti biasa, pagi ini aku melihat pemandangan yang menjadi teman rutinitasku selama tiga bulan terakhir. Entah kesibukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sepagi ini di sebuah stasiun kecil yang berada di pinggiran Kota Bekasi. Mereka sudah berjajar dengan rapi di sepanjang peron, ada yang duduk di…

  • RESIGN

    Aku duduk di tengah ruangan 3×4 meter dengan dikelilingi tiga manajer dan seorang HRD. Dua manajer bersikap pasif, hanya berbicara seperlunya saja. Sedangkan seorang manajer lainnya sangat aktif menjawab, bahkan melebihi jumlah kata yang dikeluarkan oleh HRD yang sedang berbicara denganku. Meskipun singkat, tetapi pembicaraan itu terasa menegangkan, seolah menentukan hidup dan mati seseorang. Mungkin…

  • Setelah Sebulan Tinggal Di Kupang, Nusa Tenggara Timur

    Waktu berlalu, hari berganti, minggu telah berubah, sudah genap sebulan aku tinggal di Kota Koral ini. Ada banyak pelajaran yang aku dapatkan, mulai dari arti rindu, adaptasi, bertahan hidup, hingga penerimaan terhadap takdir Tuhan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semua itu akan aku ceritakan dalam tulisan singkat ini. Perlu diketahui bahwa tujuanku menulis catatan ini bukan…

  • Ingin yang Terbaik atau Serakah?

    Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Sebab, manusia memiliki perangkat yang lengkap untuk menjalani hidup ini. Perangkat yang dimaksud adalah pikiran, hati, akal, nafsu, dan sebagainya. Kendati perangkat yang dimiliki oleh manusia tidak sama seperti malaikat, yang semuanya serba baik, tetapi hal itulah yang justru membuat manusia menjadi sempurna.  Pikiran yang dimiliki oleh…

  • Obat Nyamuk Bukan untuk Menyembuhkan, Terus Kenapa Disebut Obat?

    Halo teman-teman! Aku ingin berbagi sedikit pengetahuan, nih. Mungkin ini sesuatu yang receh, tapi percayalah, mungkin juga pengetahuan ini bisa bermanfaat. Setidaknya, bermanfaat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang gabut, seperti: mengapa obat nyamuk disebut obat? Padahal obat nyamuk digunakan untuk membunuh nyamuk, bukan untuk menyembuhkan. Hayo, pernah mempertanyakan hal seperti ini kan? Jujur, aku juga pernah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *