Pejalan Pelan

Pejalan Pelan

Pertengahan 2024.

Stasiun Metland Telaga Murni pukul 06.00 WIB. Seperti biasa, pagi ini aku melihat pemandangan yang menjadi teman rutinitasku selama tiga bulan terakhir. Entah kesibukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sepagi ini di sebuah stasiun kecil yang berada di pinggiran Kota Bekasi. Mereka sudah berjajar dengan rapi di sepanjang peron, ada yang duduk di bangku panjang, ada juga yang berdiri antusias menunggu kereta. Tak mau kalah, aku pun ikut mengambil posisi, menjadi bagian dari orang-orang itu.  

Beberapa menit kemudian kereta tiba. Kami berebut masuk agar mendapat tempat yang nyaman di dalam gerbong. Meskipun ramai, tetapi kondisi kereta tidak padat. Itulah salah satu keuntungan naik kereta di stasiun dekat tujuan akhir, di ujung, jauh dari keramaian kota. Setelah memasuki gerbong, biasanya para penumpang akan mencari tempat favoritnya masing-masing. Ada yang menuju sambungan kereta, di dekat tiang, ada juga yang nyaman di tengah-tengah gerbong. Aku sendiri lebih memilih untuk berdiri di samping pintu, bersandar di pembatas tempat duduk. Jangan tanya mengapa tak duduk? Sebab sudah pastilah tak ada kursi kosong di jam kerja seperti ini.

Kereta melaju, menyambangi stasiun demi stasiun. Tiga stasiun pertama, kondisi gerbong masih kondusif. Namun, memasuki stasiun keempat dan seterusnya, kondisi gerbong sudah tak terkendali lagi. Gerbong yang sudah penuh seakan dipaksa untuk terus memakan manusia. Akibatnya, banyak penumpang yang saling berdesak-desakkan. Bahkan, tak jarang aku mendengar suara teriakan orang memaki satu sama lain. Tak kurang dari sejam aku harus bertahan di dalam kereta dengan kondisi seperti itu, dua kali dalam sehari, lima hari dalam seminggu. Bayangkan saja bagaimana rasanya!

Aktivitas yang aku lakukan di dalam kereta ketika berangkat dan pulang kerja, seakan menjadi rutinitas yang tak bisa dihindari. Aku terus melakukan hal tersebut berulang-ulang selama tiga bulan terakhir, hingga membuat jati diri terdistraksi oleh keadaan, melebur dalam udara dan tersapu angin yang berhembus bersamaan dengan kereta yang melaju. Aku yang awalnya hanya pasif, hanya menyaksikan amarah orang-orang yang berdesakkan di dalam gerbong, tetapi kini mulai menampakkan gejala yang sama seperti mereka. 

Aku mulai mengikuti frekuensi orang-orang di sekitarku. Berebut masuk kereta, berteriak, tak mau mengalah, dan semua kebiasaan negatif lainnya. Seakan semua itu menjadi hal yang lumrah. Akibatnya, aku seperti menjadi orang lain. Aku merasa bukan diriku yang dulu. Aku yang biasanya tenang, kini mulai tak terkendali. Aku yang biasanya diam, kini mulai berteriak. Aku yang biasanya menikmati waktu, kini seakan dikejar-kejar waktu. Aku benar-benar sudah berubah.

Gedung Dwi Warna pukul 17.05 WIB. Seperti biasa, aku pulang tepat waktu. Melangkah pergi menjauhi kantor tempatku bekerja. Aku harus berjalan kaki terlebih dahulu sekitar 1,6 KM untuk sampai di Stasiun Sudirman, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menggunakan kereta. Saat berjalan kaki inilah aku biasanya merenung. Logika dan perasaanku seakan berdiskusi, membicarakan peristiwa yang terjadi seharian ini. Apa yang berkecamuk dalam pikiran dan batinku seakan meruncing pada satu kesimpulan bahwa aku telah berubah, dekadensi. Alhasil aku tak bisa menikmati proses yang sedang kujalani, mulai jengah dengan keadaan ini. 

Jelas aku tak ingin berada dalam kondisi seperti itu, kondisi yang memaksaku menjadi orang lain, bukan diriku. Aku ingin seperti dulu, menjadi diriku sendiri yang dipenuh ketenangan dan kesabaran. Namun, apa yang harus aku lakukan agar bisa keluar dari lingkaran setan ini? Mencari dan terus kucari jawaban itu. Hingga akhirnya, semesta berbicara. Aku menemukannya. 

Aku bisa terbebas dari rutinitas menyedihkan ini tanpa harus keluar dari lingkarannya. Caranya? Memulai dari awal dan melihat semuanya dari sisi yang berbeda. Berhenti melihat ke depan sejenak dan mencoba menoleh ke belakang, ke masa lalu, melihat diriku yang dulu. Setelah itu, aku hanya perlu menjadi diriku di masa itu. Cara ini bisa dilakukan dari hal sederhana, yaitu menjalankan kebiasaanku: berjalan pelan, tenang, tak tergesa-gesa – seperti dulu.

Keesokan harinya aku langsung mempraktikan cara tersebut. Aku sengaja berangkat lebih pagi sebagai persiapan untuk berjalan pelan. Sesampainya di Stasiun Metland Telaga Murni, seperti biasa, orang-orang sudah berjajar memenuhi peron. Meskipun tak sebanyak biasanya, tetapi jumlah orang yang sudah menunggu kereta tak sedikit. Aku segera mencari tempat yang nyaman untuk menunggu, berdiri menanti kedatangan sang ular besi. 

Tak berapa lama kereta sampai. Belum sempurna kereta berhenti, orang-orang sudah mulai berdesakkan untuk memasuki gerbong. Biasanya, aku akan melakukan hal yang sama seperti mereka, tak mau kalah untuk memasuki kereta, berebut mencari tempat yang nyaman. Namun, pagi ini berbeda. Aku hanya diam berdiri menunggu kereta benar-benar berhenti, tak memperdulikan mereka yang berebut menghampiri pintu kereta. Pikirku, tak masalah bila tidak kebagian tempat nyaman, toh masih banyak tempat yang lain. 

Rem kereta berdecit keras dibarengi hembusan angin pelan, kereta berhenti sempurna. Tak disangka, ternyata tempatku berdiri tepat berada di depan pintu kereta. Hal ini membuatku dapat masuk ke dalam gerbong dengan mudah, tanpa harus berebut. Setelah itu aku segera menghampiri tempat favoritku di dalam gerbong, di dekat pintu, di samping tempat duduk yang terdapat sandaran. Kereta melaju kembali, melewati stasiun demi stasiun.

Ada hal aneh yang terjadi. Biasanya, setelah kereta melewati Stasiun Bekasi, gerbong akan terisi penuh bersamaan dengan berhentinya kereta di stasiun berikutnya. Namun, pagi itu jumlah penumpang di dalam gerbong masih bisa dikondisikan, tak ada teriakan, tak ada desak-desakkan. Bahkan ketika kereta sampai di Stasiun Jatinegara, meskipun di luar terlihat penumpang yang berjubel, tetapi di dalam gerbong yang aku naiki masih tak terasa penuh. Tenang dan damai, tak ada teriakan makian.

“Sudah penuh, woi! Jangan dipaksakan, sesak!”

“Itu yang di tengah, geser sedikit! Sudah terlambat ini!”

“Apaan, sih, dempet-dempet!”

“Tendang saja, itu! Sudah enggak muat!”

Suara-suara negatif seperti itu tak kudengar pagi ini, sungguh sesuatu yang jarang ditemukan di dalam gerbong KRL Jabodetabek. Hingga akhirnya kereta sampai di Stasiun Manggarai. Di sini, biasanya banyak penumpang yang turun, kemudian disusul dengan arus balik penumpang yang hendak masuk. Aku sudah pasrah bila harus berhimpitan dengan penumpang-penumpang lain. Namun, keanehan kembali terjadi.

Para penumpang yang turun di Stasiun Manggarai bergiliran melewati pintu tanpa berdesak-desakkan, tanpa ada dorong-mendorong seperti biasanya. Pun ketika para penumpang dari luar mulai memasuki gerbong, mereka masuk dengan rapi. Masih ada ruang di dalam gerbong agar badanku nyaman, tak berhimpitan. Pintu tertutup dan kereta melaju, melanjutkan perjalanan. Semua berjalan dengan cepat sehingga aku tidak merasakan situasi yang dapat menimbulkan amarah.

Kereta singgah di Stasiun Sudirman, stasiun tujuanku. Aku segera turun dengan tenang, melangkah menuju mesin tapping. Kereta melaju kembali meninggalkan aku yang hendak mengantre keluar dari stasiun. Antrean tak sepanjang biasanya, membuatku bisa keluar stasiun dengan cepat. Perjalananku dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 1,6 KM. Sebenarnya, bisa saja aku melanjutkan perjalanan dengan menaiki LRT agar cepat sampai, tetapi aku lebih memilih berjalan kaki. Sebab selain sehat, ketika berjalan kaki aku juga bisa melihat pemandangan kota lebih detail. Di samping itu, lebih hemat pengeluaran juga.

Perjalananku menuju gedung Dwi Warna terasa berbeda, mungkin karena aku berangkat lebih pagi? Entahlah. Namun, udara yang biasanya menyengat, kini terasa hangat, cukup bersahabat. Banyak hal yang bisa aku nikmati pagi ini, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang diwarnai dengan ketergesa-gesaan. Aku menyusuri bantaran kali Ciliwung, melewati taman Latuharhary, melintasi Pos Pohon Tumbang, sebelum akhirnya naik tangga kecil di ujung jalan agar sampai di Jalan HOS Cokroaminoto. Jalan ini aku gunakan untuk menyeberangi kali Ciliwung lalu lanjut menyusuri Jalan H.R. Rasuna Said. Sekitar 20 menit kemudian, aku sampai di kantor dalam kondisi prima. Berbeda dengan kemarin, di mana perjalanan menuju kantor terasa sangat melelahkan.

Tepat pukul 17.00 WIB aku membereskan barang-barang untuk persiapan pulang. Hari yang cukup melelahkan, terlebih, aku harus kembali melakukan perjalanan pulang dengan rute yang sama. Namun, ada sedikit perbedaan pada perjalanan pulang kali ini. Sebab aku ingin mempraktikan perjalanan pulang yang tenang tanpa tergesa-gesa, sama seperti ketika berangkat pagi tadi. Aku ingin menjadi diriku sendiri yang selalu tenang, tak terkontaminasi dengan lingkungan sekitar. 

Nimbostratus menghiasi cakrawala ketika aku keluar dari gedung Dwi Warna. Aku mulai perjalanan pulang dengan langkah yang pelan, tidak terburu-buru, tidak ada langkah cepat, semua kunikmati dalam ketenangan. Perjalanan menuju Stasiun Sudirman sore ini terasa berbeda. Entah apa itu, tetapi aku merasa di sepanjang jalan, semua seperti berjalan dengan seimbang. Jalanan memang dipenuhi kendaraan dan lalu-lalang orang, tidak sepi, tetapi juga tidak seramai biasanya.

Di sepanjang jalan, aku terus menikmati apa pun yang disajikan semesta, mulai dari langit kelabu, suara klakson kendaraan, teriakan pedagang, dan langkah cepat orang-orang. Hingga tak sadar, langkah kaki sudah memasuki Stasiun Sudirman. Di saat yang bersamaan, kereta yang menuju ke arah Cikarang pun datang. Sayangnya, aku harus ke peron 2 terlebih dahulu, menyeberangi rel, sebelum menaiki kereta tersebut. Biasanya, aku akan berlari menaiki tangga, melintasi penyeberangan atas, lalu turun kembali ke peron agar bisa masuk ke dalam kereta. Namun, hari ini aku mengambil langkah yang berbeda.

Aku membiarkan langkah tenang ini yang mengendalikan, tidak terburu-buru dan tidak tergesa-gesa, semua berjalan sesuai rencana. Berjalan pelan. Aku berpikir, tak apalah ketinggalan kereta pertama, toh aku bisa menunggu kereta berikutnya. Namun, apa yang terjadi justru membuatku bingung. Entah mengapa, kereta yang biasanya hanya berhenti sebentar, kini masih berada di tempatnya. Bahkan, setelah aku menyeberang dan menuruni tangga, kereta itu masih di tempatnya. Apa yang terjadi? Entahlah.

Ada satu hal lagi yang membuatku kaget sekaligus bingung. Normalnya, kereta yang berhenti sebentar saja akan terisi penuh dengan cepat oleh orang-orang. Namun, ada sebuah anomali saat itu. Di saat semua pintu sudah diisi oleh orang-orang, ada satu pintu, tepat di bawah tangga yang sedang aku turuni, masih terdapat ruang di dalam gerbong. Aneh? Aku pun merasa demikian. Maka dari itu, aku yang selesai menuruni anak tangga, segera masuk ke dalam kereta. Aku bisa ikut bersama kereta pertama yang datang, tanpa terburu-buru, tanpa tergesa-gesa.

Di dalam gerbong menuju arah pulang, biasanya aku baru bisa duduk setelah melewati Stasiun Bekasi. Ya, sekitar Stasiun Bekasi Timur atau Stasiun Tambun, barulah aku bisa mendapat tempat duduk. Namun, sekali lagi, hal aneh terjadi. Baru saja melintasi Stasiun Jatinegara, aku yang sedang berdiri di dalam gerbong berhasil mendapatkan tempat duduk. Bahkan, sebelum duduk, aku sempat menawarkan tempat tersebut untuk ibu-ibu di sekitar yang masih berdiri, tetapi semua menolak, katanya sebentar lagi sampai. Ya, sudah, akhirnya aku pun duduk di bangku kosong tersebut. Saat berhasil duduk seperti ini, aku akan menggunakannya untuk beristirahat, memejamkan mata barang sebentar, lumayan untuk memulihkan energi. Alhasil, ketika sampai Stasiun Metland Telaga Murni, aku kembali bugar, tidak seperti biasanya yang lunglai.

Tulisan ini sengaja aku buat untuk diriku sendiri, sebagai pengingat bahwa ada sebuah pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan ini. 

Terkadang, ambisi kita dalam mengejar suatu tujuan justru menjadi penghambat dalam menggapai tujuan itu sendiri. Mungkin bukan menjadi penghambat, tetapi terasa membebani. Namun, ketika kita berusaha dengan tenang, ikhlas, dan menyerahkan semuanya kepada Sang Penguasa, justru tujuan itu bisa kita capai dengan cepat. Aneh? itulah kehidupan, memang jalannya sulit untuk ditebak. 

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *