Cover Luka Kecil

Luka Kecil

Tak ada yang peduli dengan luka kecil ini, termasuk diriku sendiri. Luka di ruas jari yang disebabkan karena udara panas, seakan menjadi hal biasa yang aku alami. Wajar, panas Kota Kupang cukup menyengat sehingga membuat permukaan kulit menjadi kering dan mudah luka. Musabab sering mengalami luka seperti ini, aku menjadi terbiasa. Sedikit pedih memang, tetapi tidak sampai mengganggu aktivitas. 

Hingga pada suatu pagi yang cerah, aku meneteskan air mata karena luka ini. Bukan karena rasa sakitnya, tetapi karena plester yang membalut lukanya. Plester ini sama seperti pembalut luka pada umumnya, hanya saja bentuknya unik, menyerupai beruang. Namun, bukan itu yang membuatnya berbeda, bukan itu yang membuatku menangis, melainkan proses pembalutan dan siapa yang membalutnya. 

Anak Sholehah

Namanya Hasna, anak semata wayang yang sangat aku cintai. Ia adalah kebanggaanku dan istri. Kehadirannya sama seperti oasis di tengah padang pasir, memberikan ketenangan dan kesejukan. Hasna sangat patuh dan penurut. Meskipun sesekali ia membantah, tetapi pada akhirnya ia mengerti dan mau mengalah. Sungguh sifat luar biasa, mengingat ia masih berumur sekitar 3 tahun lebih.

Kami memang ketat dalam menerapkan peraturan kepadanya, tetapi kami juga memberikan kebebasan untuknya. Kebebasan untuk mengekspresikan perasaannya. Bahkan, ketika ia menangis, istriku tidak lantas membujuknya untuk diam. Kami memberikan waktu untuknya menangis, dengan dibarengi pelukan tentunya, agar ia bisa mengeluarkan kesedihan itu.

Selasa, 26 Mei 2026. Sebelum berangkat kerja, aku iseng, menunjukkan luka di ruas-ruas jari ini kepada Hasna. 

Cantik, lihat ini!” Kataku sambil mengangkat jari yang luka.

Iiiiyeuuhh…” Responsnya, sambil berdiri dan menuju lemari.

Penasaran, aku pun mengikutinya. Sampai di depan lemari, ia melihat ke arahku dan menunjuk tas kotak berwarna merah. Mengerti, aku pun memberikan tas merah itu kepadanya. Ia langsung duduk di depan lemari, kemudian jemarinya yang imut menarik ritsleting tas merah hingga terbuka. Terpampanglah berbagai macam obat-obatan dan alat-alat medis.

Sembari memasang muka lucu khas anak-anak, ia mencari sesuatu di dalam tas merah yang berperan sebagai kotak P3K di rumah kami. Sesaat kemudian, ia menemukannya, sebuah plester bergambar beruang berwarna cokelat.

Setelah itu, aku langsung mengambil tas merah dan mengembalikannya ke tempat semula agar ia tidak memainkan barang-barang di dalamnya. Hasna memang sering bermain dengan plester-plester itu karena bentuknya yang lucu.

Namun, kali ini berbeda. Alih-alih memainkan plester beruang itu, ia justru menarikku ke dalam kamar. Aku mengikutinya. Hasna duduk di depanku, membuka bungkus plester lucu itu, kemudian memasangkan plester pada lukaku.

udah…” Katanya singkat.

Kulihat hasil plesterannya berantakan, tidak pas pada luka, dan tidak rapi. Namun, justru plester itulah yang mampu merapikan dan memperbaiki segala kerumitan hidup ini. Plester itu, bukan hanya menyembuhkan luka, tetapi menyembuhkan semua kesedihan yang ada. 

Plester Penyembuh Semua Luka

Terima kasih, sayang…” Balasku, sembari memeluknya, menahan genangan air mata.

Orang tua mana yang tidak terharu melihat anaknya seperti ini. Jujur, ada rasa bahagia yang teramat sangat atas aksinya itu.

Pagi itu aku mendapatkan pelajaran berharga dari seorang anak berusia 3 tahun, anakku, Hasna. Ia menunjukkan padaku bahwa memberikan kebahagiaan tidak harus dengan aksi-aksi luar biasa, memukau, atau sesuatu yang mahal, tetapi cukup dengan aksi sederhana yang tulus, bisa memberikan kebahagiaan yang tiada tara.

Untuk anakku, Hasna, bila suatu saat nanti kamu membaca tulisan ini, percayalah, Papah dan Ummah masih menyayangimu sama seperti hari ini. Apa pun kondisimu dan di mana pun kamu berada, kami akan selalu mendukungmu. Jagalah sikap dan sifatmu seperti sekarang. Namun, yang terpenting, jadilah manusia yang bahagia di jalan-Nya. Terima kasih untuk pelajaran hari ini, sayang.

Artikel Serupa

  • RESIGN 2

    Sejak memutuskan untuk RESIGN dari kantor lama, ada banyak hal yang aku pelajari dan rasakan. Mulai dari pengalaman mencari pekerjaan, bertemu dengan loker palsu, melihat isi kepala para pekerja dari sudut pandang yang berbeda-beda, hingga berada di persimpangan keputusan yang cukup sulit untuk dipilih. Ada masa ketika semuanya terasa berat, membingungkan, bahkan membuatku bertanya-tanya apakah langkah yang…

  • Setelah Setahun Tinggal Di Kupang: Di Antara Keindahan dan Kerinduan

    Banyak yang bilang bahwa: seindah apa pun tempat perantauan, seorang perantau tetap akan merindukan kampung halamannya. Apakah benar demikian? Pertanyaan itu terus menggema di kepalaku selama hampir setahun ini. Sebenarnya, Kota Kupang yang menjadi tempat perantauanku sekarang menyuguhkan banyak keindahan, mulai dari cakrawala biru yang luas membentang, mega-mega dengan berbagai variasi menghiasi langit, dan laut…

  • Pejalan Pelan

    Pertengahan 2024. Stasiun Metland Telaga Murni pukul 06.00 WIB. Seperti biasa, pagi ini aku melihat pemandangan yang menjadi teman rutinitasku selama tiga bulan terakhir. Entah kesibukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sepagi ini di sebuah stasiun kecil yang berada di pinggiran Kota Bekasi. Mereka sudah berjajar dengan rapi di sepanjang peron, ada yang duduk di…

  • RESIGN

    Aku duduk di tengah ruangan 3×4 meter dengan dikelilingi tiga manajer dan seorang HRD. Dua manajer bersikap pasif, hanya berbicara seperlunya saja. Sedangkan seorang manajer lainnya sangat aktif menjawab, bahkan melebihi jumlah kata yang dikeluarkan oleh HRD yang sedang berbicara denganku. Meskipun singkat, tetapi pembicaraan itu terasa menegangkan, seolah menentukan hidup dan mati seseorang. Mungkin…

  • Setelah Sebulan Tinggal Di Kupang, Nusa Tenggara Timur

    Waktu berlalu, hari berganti, minggu telah berubah, sudah genap sebulan aku tinggal di Kota Koral ini. Ada banyak pelajaran yang aku dapatkan, mulai dari arti rindu, adaptasi, bertahan hidup, hingga penerimaan terhadap takdir Tuhan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semua itu akan aku ceritakan dalam tulisan singkat ini. Perlu diketahui bahwa tujuanku menulis catatan ini bukan…

  • Ingin yang Terbaik atau Serakah?

    Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Sebab, manusia memiliki perangkat yang lengkap untuk menjalani hidup ini. Perangkat yang dimaksud adalah pikiran, hati, akal, nafsu, dan sebagainya. Kendati perangkat yang dimiliki oleh manusia tidak sama seperti malaikat, yang semuanya serba baik, tetapi hal itulah yang justru membuat manusia menjadi sempurna.  Pikiran yang dimiliki oleh…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *