Ingin yang Terbaik atau Serakah

Ingin yang Terbaik atau Serakah?

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Sebab, manusia memiliki perangkat yang lengkap untuk menjalani hidup ini. Perangkat yang dimaksud adalah pikiran, hati, akal, nafsu, dan sebagainya. Kendati perangkat yang dimiliki oleh manusia tidak sama seperti malaikat, yang semuanya serba baik, tetapi hal itulah yang justru membuat manusia menjadi sempurna. 

Pikiran yang dimiliki oleh manusia cenderung menjadikannya sebagai makhluk yang logis, berakal, dan mampu menghadapi masalah dalam kehidupan dengan nalar. Sedangkan hati yang dimiliki manusia akan membuatnya menjadi makhluk yang perasa, empati terhadap sesama, bahkan mampu merasakan keberadaan sang Pencipta. Itulah sedikit contoh perangkat positif yang dimiliki oleh manusia.

Di sisi lain, manusia juga memiliki perangkat yang cenderung ke arah negatif, seperti contohnya nafsu. Perangkat ini membuat manusia melakukan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan dampaknya, baik-buruknya, manfaat-mudaratnya. Bisa dikatakan bahwa nafsu merupakan kebalikan atau lawan dari pikiran dan hati.

Semua perangkat yang dimiliki oleh manusia, baik positif maupun negatif, membuat manusia menjadi makhluk yang bebas, bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Hal inilah yang membuat manusia menjadi makhluk istimewa. Sebab, dengan begitu manusia bisa memilih ingin menjadi malaikat yang taat atau menjadi iblis yang tersesat.  

Manusia benar-benar bebas dalam memilih jalan hidupnya, termasuk memilih hal-hal yang terbaik bagi dirinya. Namun, keinginan untuk memiliki hal-hal terbaik justru sering membuat manusia menjadi lupa diri. Sebab, manusia akan selalu menginginkan hal yang lebih dan lebih dari apa yang sudah dimilikinya. Alih-alih mensyukuri hal tersebut, keinginan untuk mendapatkan hal yang terbaik akan membuat manusia menjadi serakah.

Lalu, apakah manusia tidak boleh memiliki keinginan untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik dari apa yang sudah dimilikinya saat ini? Tentu tidak demikian. Manusia sangat diperbolehkan untuk memiliki keinginan yang lebih baik. Namun, manusia juga harus tahu diri, kapan ia harus berhenti mencari yang terbaik dan mensyukuri semua yang sudah dimilikinya. 

Masalahnya, tidak ada parameter pasti yang dapat digunakan oleh manusia sebagai petunjuk untuk memutuskan: kapan waktu yang tepat untuk terus mencari dan kapan waktunya berhenti?

Semoga apa yang saat ini sedang kita kejar untuk mencari yang terbaik, bukan menjadi bagian dari keserakahan diri. Aamiin…

Artikel Serupa

  • RESIGN 2

    Sejak memutuskan untuk RESIGN dari kantor lama, ada banyak hal yang aku pelajari dan rasakan. Mulai dari pengalaman mencari pekerjaan, bertemu dengan loker palsu, melihat isi kepala para pekerja dari sudut pandang yang berbeda-beda, hingga berada di persimpangan keputusan yang cukup sulit untuk dipilih. Ada masa ketika semuanya terasa berat, membingungkan, bahkan membuatku bertanya-tanya apakah langkah yang…

  • Setelah Setahun Tinggal Di Kupang: Di Antara Keindahan dan Kerinduan

    Banyak yang bilang bahwa: seindah apa pun tempat perantauan, seorang perantau tetap akan merindukan kampung halamannya. Apakah benar demikian? Pertanyaan itu terus menggema di kepalaku selama hampir setahun ini. Sebenarnya, Kota Kupang yang menjadi tempat perantauanku sekarang menyuguhkan banyak keindahan, mulai dari cakrawala biru yang luas membentang, mega-mega dengan berbagai variasi menghiasi langit, dan laut…

  • Luka Kecil

    Tak ada yang peduli dengan luka kecil ini, termasuk diriku sendiri. Luka di ruas jari yang disebabkan karena udara panas, seakan menjadi hal biasa yang aku alami. Wajar, panas Kota Kupang cukup menyengat sehingga membuat permukaan kulit menjadi kering dan mudah luka. Musabab sering mengalami luka seperti ini, aku menjadi terbiasa. Sedikit pedih memang, tetapi…

  • Pejalan Pelan

    Pertengahan 2024. Stasiun Metland Telaga Murni pukul 06.00 WIB. Seperti biasa, pagi ini aku melihat pemandangan yang menjadi teman rutinitasku selama tiga bulan terakhir. Entah kesibukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sepagi ini di sebuah stasiun kecil yang berada di pinggiran Kota Bekasi. Mereka sudah berjajar dengan rapi di sepanjang peron, ada yang duduk di…

  • RESIGN

    Aku duduk di tengah ruangan 3×4 meter dengan dikelilingi tiga manajer dan seorang HRD. Dua manajer bersikap pasif, hanya berbicara seperlunya saja. Sedangkan seorang manajer lainnya sangat aktif menjawab, bahkan melebihi jumlah kata yang dikeluarkan oleh HRD yang sedang berbicara denganku. Meskipun singkat, tetapi pembicaraan itu terasa menegangkan, seolah menentukan hidup dan mati seseorang. Mungkin…

  • Setelah Sebulan Tinggal Di Kupang, Nusa Tenggara Timur

    Waktu berlalu, hari berganti, minggu telah berubah, sudah genap sebulan aku tinggal di Kota Koral ini. Ada banyak pelajaran yang aku dapatkan, mulai dari arti rindu, adaptasi, bertahan hidup, hingga penerimaan terhadap takdir Tuhan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semua itu akan aku ceritakan dalam tulisan singkat ini. Perlu diketahui bahwa tujuanku menulis catatan ini bukan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *