Cover Artikel Resign

RESIGN

Aku duduk di tengah ruangan 3×4 meter dengan dikelilingi tiga manajer dan seorang HRD. Dua manajer bersikap pasif, hanya berbicara seperlunya saja. Sedangkan seorang manajer lainnya sangat aktif menjawab, bahkan melebihi jumlah kata yang dikeluarkan oleh HRD yang sedang berbicara denganku. Meskipun singkat, tetapi pembicaraan itu terasa menegangkan, seolah menentukan hidup dan mati seseorang. Mungkin karena saat itu aku sedang mempertanyakan kebijakan dari manajemen, yang mana hal tersebut merupakan ‘batas terlarang’ bagi seorang karyawan. Namun, siapa sangka, pembicaraan yang tak lebih dari tiga puluh menit itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku.

Mulai Kacau

Sejak berganti kepemimpinan, perusahaan menjadi tak terarah. Banyak kebijakan tak tepat sasaran sehingga membuat masalah yang berkepanjangan. Masalah utama yang harus dihadapi adalah krisis keuangan (katanya). Utang dan bunga yang tak kunjung dilunasi membuat perusahaan kalang kabut. Dampaknya, pengeluaran harus ditekan hingga sekecil mungkin agar bisa cepat melunasi utang-utang tersebut. Masalah ini jelas berdampak buruk bagi karyawan.

Pihak manajemen mulai memberikan pernyataan-pernyataan yang menggelitik. Katanya, jumlah karyawan yang ada saat ini terlalu banyak sehingga pengeluaran untuk membayar gaji menjadi membengkak. Sejujurnya aku sangat heran mendengar pernyataan tersebut, apa lagi jumlah karyawan yang ada sudah berkurang signifikan sejak beberapa bulan lalu. Selain itu, manajemen juga mulai membuat peraturan-peraturan yang memberatkan. Siapa pun pasti mengerti maksud dan tujuan dari peraturan tersebut. Pengurangan jumlah karyawan.

Pria Tua Hebat

Sebut saja Pak So, pria tua hebat yang masih bersemangat dalam bekerja. Kami bekerja di perusahaan yang sama, hanya berbeda ‘peran’ saja. Aku berperan sebagai staf yang menjalankan tugas ganda, sedangkan Pak So berperan sebagai pramu kantor yang mengerjakan banyak hal.

Aku sudah mengenal Pak So sekitar dua tahun ketika beliau menggantikan pramu kantor yang lama. Beliau adalah orang baik yang selalu memberikan nasihat atau petuah untuk karyawan-karyawan muda sepertiku. Di samping itu, Pak So juga sering berbagi pengalaman yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran hidup.

Pada suatu pagi, Pak So bercerita kepadaku bahwa beliau mendapat sindiran dari atasan untuk mengundurkan diri. “Bapak sudah berumur, lebih baik resign saja. Kumpul sama keluarga di kampung” Kata Pak So memperagakan atasannya berbicara. Aku sempat berpikir positif, mungkin atasan beliau hanya bercanda. Namun, akhirnya aku tahu itu bukanlah candaan semata. Sebab beberapa hari setelah Pak So bercerita, aku mendengar beliau mengundurkan diri. Setelahnya, beliau pulang kampung dan aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi.

Semua terjadi begitu cepat. Kehilangan, tentu saja. Namun, pengalaman bertahun-tahun di dunia kerja membuatku terbiasa menghadapi hal semacam ini. Bagiku, pengunduran diri Pak So bukan hanya kebetulan semata, tetapi sebuah pertanda bahwa mulai ada yang tidak beres.

Tugas Tambahan

Sejak Pak So mengundurkan diri, pihak manajemen enggan merekrut karyawan pengganti. Katanya penghematan. Dampaknya, semua karyawan harus mengerjakan tugas Pak So sebagai pramu kantor.

Sebenarnya tidak masalah mengerjakan beberapa tugas pramu kantor seperti menyapu, membersihkan meja kerja, mencuci peralatan makan setelah digunakan, dan tugas-tugas ringan lainnya. Namun, tugas Pak So sebagai pramu kantor bukan hanya itu. Beliau juga memiliki berbagai macam tugas yang cukup berat. Alhasil, banyak karyawan yang mengeluh dengan tugas tambahan tersebut.

Tidak Ada Lembur

Setelah menerapkan peraturan yang memberatkan, menyingkirkan karyawan, dan tidak mau merekrut karyawan baru, manajemen membuat kebijakan serupa yaitu menghilangkan lembur. Bagiku, tak masalah bila tidak ada lembur. Maksudnya, liburkan saja semua karyawan pada hari libur, jangan ada yang bekerja. Menurutku itu cukup adil. Namun, pemikiran tamak tak mengenal keadilan.

Alih-alih meliburkan karyawan, manajemen membuat peraturan kontroversial yang berpotensi melanggar undang-undang. Peraturan tersebut membuat karyawan harus bekerja pada hari libur tanpa menerima upah lembur, yaitu dengan cara menggeser hari libur ke hari lain. Hal ini terlihat adil, satu hari diganti dengan satu hari. Namun, peraturan mengganti hari libur seperti itu tetap melanggar undang-undang.

Keluhan Para Karyawan

Menurut karyawan senior yang bekerja lebih lama dariku, kejadian semacam ini bukan hal baru, tetapi sudah terjadi berulang-ulang. Maksudnya, ketika perusahaan ingin ‘mengeluarkan’ karyawan, maka dibuatlah skema licik seperti menerapkan peraturan yang memberatkan, sindiran dari atasan, dan sebagainya.

Kini, seluruh karyawan hanya bisa pasrah, menerima beban kerja tambahan dan peraturan yang memberatkan. Mereka tak bisa berbuat banyak, hanya mengeluh sesama karyawan dan tak berani bersuara. Sebab berbeda suara dengan manajemen berarti menentang dan harus disingkirkan. Bagi kalian yang sudah merasakan dunia kerja pasti mengerti situasi seperti ini.

Melawan?

Merasa situasi dan kondisi semakin kacau sehingga membuat lingkungan kerja tidak nyaman, aku memberanikan diri untuk berbicara kepada pihak manajemen. Aku menghubungi manajer bagian, atasan langsung, untuk berdiskusi. Siapa tahu ada jalan keluar. Aku pun menceritakan semua kondisi yang ada. Setelahnya, kukira diskusi cukup sampai di manajer bagian saja, tetapi tidak. Aku justru dipanggil ke ruangan para manajer untuk membahas masalah ini bersama HRD. Aku pun menyanggupi panggilan tersebut dan hadir di ruangan 3×4 meter itu.

Ada tiga manajer dan seorang HRD yang duduk di meja masing-masing dengan membentuk huruf U. Aku duduk di depan HRD, di tengah-tengah mereka. Setelah diskusi dimulai, aku segera menyampaikan apa yang dirasakan oleh semua karyawan, mulai dari peraturan-peraturan yang memberatkan, keluhan-keluhan, dan sebagainya. Namun, sebisa mungkin aku tidak membawa nama mereka dalam pembicaraan tersebut.

“Jadi kamu berbicara seperti ini untuk mewakili karyawan yang lain?” Tanya HRD.

“Tidak. Saya menyampaikan ini atas nama pribadi, tetapi saya rasa mereka juga memiliki suara yang sama dengan saya” Jawabku.

Pembicaraan terus memanas, apa lagi ketika salah satu manajer terlalu sering memotong pembicaraan dan lebih aktif berbicara dari pada HRD. Bahkan manajer tersebut juga cenderung memperkeruh situasi dan memprovokasi dengan membuat framing tidak benar. Aku pun mulai geram dibuatnya.

“Kalau begitu, bagaimana jika kamu saja yang jadi pramu kantor?” Tanya manajer tersebut.

Aku pun tersenyum. Sudah kuduga, cepat atau lambat pembicaraan akan mengarah ke situ. Pengancaman.

“Jika itu terjadi, berarti manajemen ingin saya keluar dari sini” Jawabku singkat.
Pembicaraan itu berlangsung singkat, tak lebih dari 30 menit, tetapi membuatku belajar banyak hal dan lebih memahami dunia kerja.

Sejujurnya niatku berdiskusi adalah untuk mencari jalan keluar agar situasi dan kondisi menjadi tenang sehingga lingkungan kerja kembali normal, bukan untuk melawan. Namun, sepertinya pihak manajemen melihat hal lain dan menganggap aku sebagai pembangkang. Aku sadar betul bahwa posisiku di perusahaan ini akan segera berakhir. Sebab, manajemen pasti akan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan aku.

“Ya sudah, bila memang kondisinya seperti itu. Saya sebagai karyawan hanya menyampaikan masalah yang terjadi, siapa tahu ada jalan keluarnya. Terima kasih.” Kataku menutup pembicaraan.

Sosok Sengkuni

Setelah diskusi selesai, aku yakin masalah akan semakin membesar. Dibesar-besarkan lebih tepatnya. Ada beberapa catatan dari diskusi yang telah dilakukan, salah satunya adalah ancaman dari manajer yang ingin menjadikanku pramu kantor. Sepertinya itu bukan hanya gertakan semata, tetapi sebuah pertanda. Rasa curigaku ini bukan tanpa alasan, sebab aku sering mendengar hal negatif tentang manajer tersebut.

“Kelihatannya saja baik, padahal mah enggak gitu,”

“Pokoknya, kamu harus benar-benar patuh kerja sama dia, sekalipun kerjanya di luar jobdesk.”

“Padahal saya sudah jelaskan, tetapi tidak didengar.”

“Suka cari muka ke atasan,”

Begitulah suara-suara dari para staf-nya.

Orang semacam ini mengingatkanku pada sosok Sengkuni dalam cerita Mahabarata. Sosok yang bisa tersenyum sembari membunuh dalam waktu bersamaan. Maka dari itu, siapa pun harus berhati-hati karena Sengkuni tak mengenal teman atau lawan. Semua bisa dijadikan korban demi mendapatkan tujuan. Bisa saja saat ini dia tersenyum kepadamu, menjadi temanmu, tetapi dalam sekejap Sengkuni bisa menjadi musuh yang menyeramkan. Lihat saja.

Kecewa

Ternyata dugaanku benar. Masalah ini semakin menjadi besar. Dibesar-besarkan. Sebab selang beberapa hari, salah satu pimpinan perusahaan membahas hal tersebut di rapat pagi.

“Kalau ada yang ingin dibahas dari kebijakan tersebut, sebaiknya bicara langsung di sini” Kata pimpinan menyindir.

Awalnya aku diam, karena tak ingin memperpanjang masalah. Namun, HRD tidak membiarkan ini berakhir begitu saja. Ia menunjukku untuk berbicara. Sial.

Aku pun menjelaskan lagi maksud dan tujuanku, yang tentu saja tak akan pernah didengar. Hal itu terbukti ketika akhirnya pimpinan menegaskan akan menurunkan surat demosi agar salah satu karyawan menjadi pramu kantor. Aku hanya tersenyum karena bisa menebak siapa karyawan itu.

Setelah aku berbicara, dua karyawan lain ikut menyampaikan masalah yang sama. Namun, suara kami belum cukup karena masih banyak karyawan yang diam. Manajemen menganggap hanya kami bertiga saja yang mempermasalahkan hal tersebut, sedangkan karyawan yang lain menerimanya. Padahal aku tahu, semua karyawan mengeluhkan masalah yang sama. Sejujurnya aku sangat kecewa dengan mereka. Aku tak meminta untuk dibela. Aku hanya ingin mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Itu saja. Ya sudahlah!

Demosi

Surat demosi itu akhirnya sampai di tanganku. Aku pun resmi menempati posisi baru. Kejadian ini sudah aku prediksi, manajemen benar-benar ingin aku cepat pergi. Namun, alih-alih segera lari, aku justru ingin mencoba pekerjaan baru ini.

Sebelum memutuskan hengkang, aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pramu kantor. Sebab bekerja sebagai pramu kantor akan menjadi pengalaman berharga dalam hidupku dan merupakan kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan. 

Meskipun awalnya hanya coba-coba, tetapi aku sempat menikmati peran baru ini. Asalkan tahu ‘celahnya’ pasti bisa mendapat waktu istirahat lebih banyak. Namun, manajemen tidak membiarkan hal tersebut. Mereka benar-benar mengharapkanku pergi. Mereka terus membuatku tidak nyaman, menambah pekerjaan, dan mulai berulah dengan tingkah-tingkah konyol. Hingga akhirnya, setelah seminggu menjadi pramu kantor, aku mengundurkan diri. Resign.

Semua Ada Hikmahnya

Awalnya aku pergi dengan membawa dendam karena perlakuan mereka. Sebab sebagai manusia biasa, aku tidak bisa membohongi diri sendiri. Aku membenci mereka. Namun, akhirnya aku sadar bahwa membawa dendam adalah hal yang sia-sia, bahkan akan merugikan diri sendiri. Aku pun mencoba ikhlas dan berlapang dada atas apa yang telah terjadi.

Aku percaya setiap kejadian pasti ada hikmahnya, pun dengan apa yang aku alami. Meskipun rangkaian peristiwa ini membuatku jadi pengangguran, tetapi aku memiliki lebih banyak waktu untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Hampir setiap malam aku berdiskusi denganNya, meminta pertolongan dan keadilan. Alhamdulillah, aku merasa lebih tenang dan menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Kuasa.

Mulai dari sini, petualangan dalam hidupku pun dimulai. Ada banyak hal baru yang aku temui, mulai dari perjuangan mencari pekerjaan, berjualan untuk bertahan hidup, mendapatkan teman kerja baru, dan sebagainya. Intinya, aku merasa beruntung karena memilih untuk resign dari perusahaan itu. Sebab aku bisa berkembang dan belajar agar menjadi lebih baik.

Suatu hari, aku mendengar kabar bahwa salah satu dari dua anak perusahaan itu gulung tikar, bangkrut. Aku juga mendengar bahwa sosok Sengkuni di perusahaan itu selalu berselisih dengan HRD yang dulu menjadi teman duetnya. Mendengar hal tersebut, aku jadi ingat sebuah kalimat:

“Jika di sekitarmu terdapat banyak pembunuh, maka tinggalkan tempat itu dan biarkan mereka saling membunuh satu sama lain!”

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *