Kuarter Terakhir
Bywiko
2531
Sepuluh tahun yang lalu, Dewan Keselamatan Manusia (DKM) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengumumkan sesuatu yang mengejutkan. Pengumuman tersebut membuat seluruh manusia yang ada di bumi menjadi bangga, sekaligus bersedih dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana tidak, seluruh manusia mendapat kabar bahagia bahwa ekspansi untuk menjadikan Mars sebagai tempat tinggal baru, berjalan sukses. Di sana, manusia sudah bisa melakukan berbagai aktivitas layaknya di bumi. Keajaiban tersebut merupakan hasil dari pengembangan teknologi mengagumkan yang diciptakan oleh manusia. Namun, sayang seribu sayang. Kecanggihan teknologi tersebut tidak bisa menyelamatkan bumi dari kehancuran. Sebab, disaat yang bersamaan, DKM juga mengumumkan bahwa beberapa tahun kedepan bumi sudah tidak layak huni.
Ada banyak kekacauan di bumi yang disebabkan oleh ulah manusia, antara lain penebangan hutan untuk industri, polusi udara dan air yang terus meningkat karena limbah pabrik, menipisnya lapisan ozon karena penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO) berlebihan, dan mencairnya es di kutub selatan karena pemanasan global. Manusia terus melakukan aktivitas yang merusak lingkungan, sehingga tak sadar telah melukai bumi dan membuatnya berada di ambang kehancuran. Manusia lupa, bahwa jika bumi hancur, maka semua spesiesnya juga akan musnah. Bukan hanya itu, bahkan semua makhluk hidup yang ada di bumi juga akan ikut punah.
Musabab luka parah yang sudah diterima bumi, membuat manusia mencari tempat tinggal baru dengan teknologi mumpuni yang dimiliki. Bumi benar-benar dibiarkan sekarat, tanpa adanya upaya penyelamatan. Bukan tidak bisa diselamatkan, tetapi peluang untuk menyelamatkan bumi sangat kecil. Bahkan, peluang keberhasilan untuk menjadikan Mars sebagai tempat tinggal baru, jauh lebih besar dari pada harus menyelamatkan bumi yang sedang sekarat. Barangkali itulah keegoisan manusia, bagai kacang yang lupa pada kulitnya.
Tak berapa lama setelah mengumumkan kabar bahagia sekaligus duka tersebut, DKM segera membentuk tim untuk menjalankan Proyek Penyelamatan Manusia (PPM). Proyek ini merupakan upaya untuk membawa manusia ke Mars menggunakan wahana antariksa yang bernama Bridge of Life (BOL). PPM diperkirakan akan selesai setelah sepuluh tahun ke depan. Sangat lama memang, sebab BOL tidak bisa menampung semua manusia yang ada di bumi untuk dibawa ke Mars sekaligus, melainkan harus dilakukan secara parsial. Dalam kurun waktu sepuluh tahun tersebut, BOL akan mengangkut sekitar 1.000 manusia ke Mars dengan empat kali perjalanan. Jumlah manusia memang sudah berkurang drastis sejak seratus tahun terakhir karena masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri. Jadi, dalam menjalankan PPM, manusia akan dibagi menjadi empat kuarter berdasarkan umur dan status pendidikannya. Kuarter pertama diisi oleh anak-anak dan para ilmuwan, kuarter kedua diisi oleh para remaja, kuarter ketiga diisi oleh orang dewasa, serta kuarter keempat diisi oleh orang tua dan spesies binatang tertentu yang masih tersisa.
…
Sepuluh tahun sudah berlalu sejak PPM dijalankan. Kini, aku dan sebagian orang-orang dari kuarter terakhir sedang menunggu BOL kembali ke bumi. Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, seharusnya BOL akan sampai di bumi sekitar dua hari lagi. Di sinilah kami sekarang, di sebuah ruangan dengan perlindungan berteknologi tinggi untuk menopang kehidupan, menunggu kedatangan wahana antariksa yang akan menyelamatkan. Kondisi bumi saat ini benar-benar sudah memprihatinkan. Kami tidak bisa keluar dari ruangan ini begitu saja, sebab atmosfer bumi sangat berbahaya. Sudah dipastikan, tidak ada kehidupan lagi di luar sana.
Sedari tadi aku hanya terdiam melihat pemandangan menyedihkan dari balik jendela, menyaksikan kondisi bumi yang terluka karena sisa peradaban manusia. Gedung-gedung yang hancur dan terbengkalai, sinar mentari yang membahayakan, hingga cakrawala yang tak lagi biru, kusaksikan dengan mataku sendiri. Sangat memilukan. Aku hampir meneteskan air mata tatkala melihat akhir bumi yang sangat tragis ini. Sebelum akhirnya aku disadarkan oleh teriakan seseorang.
“Ada informasi dari BOL!” Seorang ilmuwan yang bertugas menemani kami di bumi, berteriak sembari berlari.
“Terjadi masalah pada mesin BOL sehingga berpotensi mengalami keterlambatan” Tambahnya.
“Terlambat berapa hari?” Tanyaku.
Ilmuwan tersebut hanya menggeleng karena informasi yang diberikan sangat minim.
“Gawat, persediaan makanan kita sudah menipis. Mungkin hanya cukup untuk satu atau dua hari ke depan. Jika BOL terlambat datang, kita akan kekurangan bahan makanan” Kataku khawatir.
Aku sangat mengetahui persediaan makanan yang tersisa, sebab akulah orang yang bertugas menjaga dan mengatur persediaan makanan tersebut. Aku ingat betul, di ruang penyimpanan hanya ada empat dus mie instan dan lima ratus liter air yang ditaruh pada tangki penampung berteknologi tinggi. Semua persediaan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami yang berjumlah seratus orang selama satu atau dua hari ke depan. Jika BOL terlambat datang, itu berarti kami harus menghemat makanan tersebut untuk beberapa hari ke depan, ini memang berita yang sangat buruk.
Hal tersebut sempat membuat seisi ruangan menjadi gaduh. Hingga akhirnya kegaduhan terhenti setelah mendengar teriakan sang ilmuwan.
“Tenang, semua! Saya dapat kabar lagi, bahwa mesin BOL sudah normal kembali. Saat ini BOL sudah melanjutkan perjalanan” Teriak sang ilmuwan.
Seketika suasana menjadi sunyi, hanya hembusan nafas kelegaan yang terdengar. Kami semua berharap BOL akan datang tepat waktu, bahkan lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan. Sebab berada di bumi dengan kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan. Sewaktu-waktu kami bisa dihadapkan dengan bahaya seperti gunung meletus, gempa bumi, hingga naiknya air laut. Sejujurnya, aku, dan mungkin semua orang yang ada di ruangan ini, merasa sangat ketakutan. Namun, akhirnya rasa takut itu berubah menjadi rasa bersalah ketika melihat bumi yang kini sedang kesakitan dan murka terhadap manusia yang telah menyakitinya. Ingin rasanya aku meminta maaf kepada sang bumi karena perlakuan buruk dari jenisku.
…
Setelah menunggu selama dua hari dengan rasa cemas, akhirnya sang ilmuwan mendapat informasi dari BOL. Sang ilmuwan yang menerima informasi tersebut menyuruh kami untuk bersiap-siap, sebab saat ini BOL sudah memasuki atmosfer bumi. Mendengar hal tersebut, kami semua mengucap syukur kepada Sang Pencipta, lalu segera mengenakan pakaian khusus agar nanti bisa keluar dari ruangan ini untuk memasuki BOL. Setelah itu, kami menunggu kedatangan BOL dengan hati yang bercampur aduk, antara senang, sedih, takut, dan menyesal, menjadi satu.
Sekitar satu jam kemudian, BOL mendarat. Satu-persatu dari kami keluar ruangan dengan membawa satu jinjingan berteknologi khusus yang berisi spesies binatang. Ketika sedang berjalan menuju BOL, aku sempat memperhatikan keadaan sekitar. Sejenak aku terdiam, menyaksikan bumi yang sekarat. Sangat memilukan hingga aku tak sanggup menahan air mata ini. Beberapa orang yang ada di belakangku juga ikut terdiam, menunduk, dan meresapi rasa bersalah yang mendalam. Pada kondisi yang membahayakan tersebut, kami berpelukan untuk meringankan semua beban. Pelukan kami merupakan simbol perpisahan dengan bumi, rumah yang sudah jutaan tahun kami huni.
Dari dalam, regu penyelamat mengisyaratkan agar kami segera memasuki BOL. Kami mengerti dan bergegas melangkah meninggalkan bumi. Mungkin ini merupakan jejak langkah manusia yang terakhir menginjakkan kaki di bumi, sedih rasanya menerima kenyataan pahit ini.
“Semua sudah siap?” Terdengar suara dari speaker.
“Siap, Kapten!” Tim penyelamat yang tadi keluar BOL untuk menyelamatkan kami, melapor melalui alat komunikasi.
Perlahan pintu wahana antariksa BOL tertutup. Di dalam BOL, dari balik jendela, kami masih bisa menyaksikan detik-detik terakhir runtuhnya peradaban manusia di bumi.
Saat BOL mulai terbang, kami semakin jelas melihat bumi yang memprihatinkan. Terlihat dataran yang begitu gersang, sampah dimana-mana, dan udara kotor yang menyelimuti. Tanpa disadari, kami meneteskan air mata lagi.
“Bumi, maafkan kami” Batinku sambil terisak.





