Harga Sebuah Perdamaian
Aku melihat kacaunya dunia melalui ponsel yang salah satu sudut layarnya sudah retak. Retakannya menjalar ke semua area layar, sama seperti peta Gaza yang tak beraturan, tajam, dan sulit untuk disatukan. Hampir setiap pagi aku mendengar, menyaksikan, dan membaca berita tentang kejahatan kemanusiaan yang terjadi di sana. Namun, entah bagaimana, dunia seakan bungkam. Bahkan, organisasi terbesar di dunia yang menggaungkan perdamaian pun tak membantu banyak.
Sejujurnya, aku ingin ikut andil untuk membuat rakyat Palestina merdeka. Namun, apa yang bisa aku lakukan kalau organisasi terbesar dunia saja tak berkutik? Bahkan, organisasi itu terlihat tak netral, memihak satu pihak. Sungguh ironi ketika ada organisasi yang melabelkan diri sebagai penjaga keamanan dunia justru membiarkan sebuah negara diporak-porandakan oleh kejahatan. Apa yang bisa aku lakukan untuk menolong para korban kejahatan kemanusiaan terbesar ini? Sedangkan aku sendiri bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.
Hingga akhirnya, sebuah suara dari manusia-manusia yang masih peduli, membuatku sadar. Suara itu kecil, tetapi menggema di seluruh dunia. Aksi boikot. Memboikot produk-produk dari negara pelaku kejahatan kemanusiaan mungkin tidak berdampak besar, tetapi aku bertekad, aksi sekecil apa pun akan aku lakukan demi membantu rakyat Palestina agar terbebas dari belenggu kejahatan yang menyengsarakan. Beruntungnya, sejauh ini negaraku masih berada di jalan yang sama, mendukung rakyat Palestina untuk merdeka.
Suatu siang yang terik, tanganku terjulur mengambil minuman di dalam kulkas minimarket. Tanpa ragu, aku mengambil minuman yang namanya tidak ada dalam daftar boikot. Meskipun harganya lebih mahal, tetapi aku memilih untuk mengeluarkan uang lebih banyak demi menghentikan kejahatan kemanusiaan. Aku memang bukan orang kaya yang bergelimang harta, melainkan hanya seorang manusia yang memiliki empati dan rasa. Aku menolak menjadi bagian dari mereka, orang-orang jahat yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.
Musim berganti, hujan telah pergi, kemarau pun kembali menghampiri. Aku masih tetap tegap berdiri. Tekadku tak akan pernah musnah meski banyak yang mencemooh, “Udahlah, aksi boikot kayak gitu gak akan ngaruh!”. Sebenarnya ingin kujawab “Mungkin tak akan berpengaruh banyak, tetapi aku memilih untuk menolak menjadi bagian dari para pembunuh yang mengalir ke tenggorokan bersama air yang kuminum ini“. Namun, tak pernah benar-benar kujawab. Aku lebih memilih untuk diam. Sebab aku tahu, diam sering kali lebih aman di negara ini.
Suara-suara sinis dari mereka yang entah bagaimana mampu menyaksikan kejahatan kemanusiaan tanpa merasa apa pun, terus berdengung di sekitarku, seolah empati adalah beban yang harus disingkirkan. Suara itu sangat kuat seakan menusuk telinga, tetapi aku selalu bisa menangkisnya. Tak pernah goyah sedikit pun. Hingga akhirnya, mentalku runtuh karena sebuah penghianatan. Negaraku yang selama ini kuanggap berdiri di barisan yang sama denganku perlahan mengubah arah langkahnya. Penghianatan itu bukan menggunakan senapan, pedang, atau bom, melainkan menggunakan sebatang pena yang menari di atas kertas.
Negara yang menginisiasi kejahatan kemanusiaan itu membuat manuver licik dengan mengajukan apa yang mereka sebut sebagai perjanjian perdamaian bagi rakyat Palestina. Ironisnya, dalam dokumen yang diagungkan itu, nama Gaza dan penderitaan rakyat Palestina, tak disebut sedikit pun. Saat pertama kali mendengarnya, aku justru tertawa. Terlalu absurd untuk dipercaya. Negara mana yang masih memiliki nurani dan bersedia menandatangani kesepakatan sekeji itu? Terlebih lagi, negara-negara yang ikut membubuhkan tanda tangan diwajibkan membayar sekitar tujuh belas triliun rupiah. Sebuah ‘perdamaian’ yang harus ditebus dengan uang, ditawarkan oleh pelaku kejahatan itu sendiri. Lawakan yang terlalu pahit untuk disebut lucu.
Namun, siapa sangka, ternyata negaraku sendiri yang ikut membubuhkan tanda tangan itu. Sebuah penghianatan yang menyakitkan. Di saat aku rela mengeluarkan sedikit uang agar tidak membeli produk-produk mereka, agar tidak memberikan mereka biaya untuk melukai rakyat Palestina, justru negaraku sendiri yang menggelontarkan biaya fantastis hanya untuk sebuah janji perdamaian palsu. Penghianatan itu akhirnya meluruhkan mentalku. Aksi boikot yang aku lakukan selama ini seakan terasa sia-sia.
Mentari terasa terik seakan memanggang hatiku yang dipenuhi berbagai perasaan. Aku kembali mengunjungi minimarket yang sama, hendak mengambil minuman di kulkas. Sejenak aku berpikir, “Kalau negaraku menggelontarkan uang sebegitu banyaknya untuk para penjahat itu, lalu apa artinya boikot yang aku lakukan?“. Tekadku mulai mencair, mengalir seperti es yang disinari mentari. Namun, seketika terlintas wajah anak-anak Palestina yang dipenuhi debu, darah, dan luka. Sejenak aku membeku, berpikir, bimbang, lalu tanganku meraih minuman itu. Tak ada pilihan lain. Setelah mengambil sebotol minuman, aku pun melangkah pergi meninggalkan minimarket.
“Jika aku mempertanyakan boikot ini, maka aku juga harus mempertanyakan kebijakan pemerintah yang memutuskan bergabung dengan negara penjahat. Aksi boikot yang aku lakukan mungkin tak akan berdampak besar dan tak tercatat dalam laporan ekonomi dunia, tetapi aku sudah bertekad untuk terus melawan dengan kekuatan sekecil apa pun. Sebab sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa, tetapi juga siapa yang memilih diam, dan siapa yang menolak lupa“.
Suara samar dari televisi: “Pemirsa, beberapa hari setelah penandatanganan perjanjian perdamaian, serangan udara kembali dilancarkan oleh negara yang sama. Pengeboman dilaporkan menghantam wilayah Gaza sejak dini hari, menyebabkan puluhan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak“.





