Sehabis Hujan
Aku berjalan gontai menyusuri jalan, menuju terminal terdekat untuk pulang. Kakiku menendang benda apa pun yang menghalangi untuk melampiaskan kekesalan. Sementara di atas sana, langit mendung menemani seakan tahu suasana hatiku yang sedang tidak baik-baik saja. Aku seperti tak memiliki harapan lagi, bahkan terlintas di benakku untuk mengakhiri hidup ini.
Air mataku hampir jatuh ketika melewati sebuah taman. Lelah. Sejenak kuistirahatkan raga ini di atas bangku panjang di samping taman. Wajahku hanya bisa menunduk penuh beban. Sembari menahan tangis, kucoba untuk menguatkan. Sesekali tanganku mengacak-acak rambut berharap beban ini pergi dari kepalaku, meskipun itu tak membantu. Sebab beban yang ada, tetap pada tempatnya.
Di tengah taman yang mulai sepi dengan diatapi mendung pertanda akan turun hujan, aku melihat seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun sedang duduk sendirian di atas ayunan. Tangannya erat memeluk boneka beruang yang sudah lusuh. Hentakan kaki yang pelan, membuat ayunan bergerak perlahan.
“Anak sekecil itu, apa, sih, masalah yang membebaninya? Tidak mau makan? Dimarahi orang tua? Hih!” Pikirku dalam hati, meremehkan.
Sebelum kaki ini benar-benar melangkah pergi, aku tertegun melihat air mata yang jatuh di pipi anak itu. Prasangka yang tadi menyelimuti, seketika hilang tergantikan oleh rasa bersalah. Aku duduk kembali menyaksikan pemandangan di depanku. Entah mengapa, kini aku seperti bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh anak itu. Kesedihan yang sangat dalam dan menyakitkan.
Wajahnya menengadah ke atas layaknya seorang hamba yang sedang berdiskusi dengan Sang Pencipta, memohon agar semua doanya dapat terkabul dengan cepat. Namun, terkadang kenyataan tak seperti yang diharapkan. Hanya lelah yang ia rasakan, sehingga membuat air matanya mengalir membawa luka yang lama tertahan. Ia membenamkan seluruh wajahnya ke punggung boneka dengan bahu bergetar seperti menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Apa yang sedang terjadi dengan anak itu? Mengapa dia seperti merasakan kesedihan yang sangat dalam? Di mana orang tuanya? Apakah tidak ada yang mencarinya meskipun akan turun hujan? Bagaimana kalau ada orang yang ingin berbuat jahat kepadanya?” Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepalaku, menggantikan masalah yang sedari tadi membebani. Aku seperti benda di angkasa yang terbang bebas, sedangkan anak itu bagaikan lubang hitam yang menarik perhatianku.
Aku masih terpaku menatap anak itu ketika hujan mulai turun, membasahi tanah, dedaunan, dan semua yang ditimpanya. Tak pikir panjang, aku langsung berdiri, menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat berteduh. Namun, kuurungkan karena mataku menangkap anak itu tetap bergeming. Masih dengan tatapan kosong, anak itu tetap pada posisinya sembari memeluk boneka sekuat tenaga, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Aku membeku melihat kejadian itu. Perlahan langkahku bergerak melawan logika. Aku yang awalnya ingin mencari tempat berteduh, justru pasrah membiarkan hujan menimpa seluruh tubuh. Kakiku melangkah mendekat ke arah anak itu.
Sungguh, aku tak tahu apa yang sedang aku lakukan. Namun, yang pasti aku tidak ingin melihat anak itu sendirian dalam menghadapi rasa sedihnya. Setidaknya aku ingin menemaninya hingga hujan reda. Sebab aku tahu bagaimana tersiksanya menghadapi kesedihan dalam kesendirian.
Langkahku berhenti tepat di sampingnya, di dekat bangku kecil yang mulai rapuh.
“Nak… Hujan-hujan gini, kok, masih di sini?” Tanyaku dengan ragu.
“Aku sedang menunggu mereka… Mereka pasti akan datang…” Jawabnya lirih.
“Mereka?” Tanyaku bingung, “Siapa?”
“Mama… Papa…” Jawabnya dengan suara yang terdengar lebih pelan, “Aku sudah menunggu lama. Mereka pasti akan datang, entah besok atau lusa. Mereka tidak akan membiarkanku sendirian…”
Aku mengerti. Anak ini sedang menunggu dua orang yang mungkin tak akan pernah datang, meskipun ia sudah menunggu lama dan menyakitkan. Aku bisa merasakan betapa pahit hari-hari yang dilaluinya, yang dipenuhi dengan penantian sia-sia.
“Mereka pasti akan datang…” Ucapnya lagi nyaris tak terdengar, yang entah ditunjukkan kepada siapa.
“Tuhan, tolong izinkan aku bertemu dengan Mama Papa, walaupun hanya sebentar saja” Harapnya sambil terisak.
“Kamu tinggal di mana? Ayo Kakak antar pulang.”
“Aku tidak mau pulang sebelum mereka menjemputku…” Jawabnya sembari menghapus air mata yang mengalir bersama hujan.
“Sekarang pulang dulu aja, ya… Nanti setelah hujan reda, kamu bisa ke sini lagi.”
Langit mulai cerah dihiasi cahaya mentari sore yang sedari tadi bersembunyi. Aroma petrikor terasa menusuk hidung seakan memberikan ketenangan di tengah kemelutnya hati dan pikiran. Sejujurnya, aku tak tahu harus berbuat apa untuk mengobati luka anak ini.
Hingga sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan.
“Putri! Kakak, kan, sudah bilang, kalau mau hujan langsung pulang,” Kata seorang wanita yang datang mendekat. Usia wanita itu sekitar 20-an tahun, sepertinya dia adalah Kakak dari anak kecil yang bernama Putri ini.
“Syukurlah, setidaknya ia masih memiliki keluarga yang memperhatikannya,” Pikirku.
“Baju kamu sampai basah kuyup seperti ini, nanti sakit. Tolong dengarkan kata Kakak, Putri!” Ucapnya penuh kekhawatiran.
“Ayo kita pulang, terus mandi air hangat.”
Ada kelegaan di hatiku ketika melihat Putri digendong pulang oleh kakaknya. Namun, itu tak bertahan lama. Sebab sebelum benar-benar bangkit untuk melanjutkan perjalanan, aku sempat menoleh ke arah wanita yang sedang menggendong Putri. Mereka pergi menjauh, membelakangiku. Terlihat di bagian punggung baju wanita itu, sebuah tulisan yang membuat jantungku hampir berhenti: Panti Asuhan Yatim-Piatu.





