Ayah (Tidak) Jahat
Sore itu, ayah berlari dengan membawa selembar kertas di tangannya. Ayah memeluk ibu sembari mengucap syukur. Keduanya menangis bahagia. Katanya, ayah berhasil di terima bekerja menjadi sales di sebuah dealer mobil. Gajinya lumayan besar, apa lagi kalau ayah berhasil mencapai target penjualan.
Dini hari aku terbangun karena mendengar tangisan ibu. Aku belum pernah melihat ibu teramat sedih seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku yakin ayah pasti akan datang. Ayah pasti akan menepati janjinya, membawa kado yang besar untukku. Namun, hingga acara potong kue selesai, hingga semua tamu undangan pulang, hingga ruangan ini sunyi diselimuti kekecewaan, ayah tak juga datang. Aku tak bisa membendung air mataku. Ayah bohong. Ayah ingkar janji lagi.
…
Besok adalah hari ulang tahun Rina, anakku tersayang. Malam ini juga aku akan segera pulang. Sebenarnya beberapa jam yang lalu istriku menelepon, ia melarang aku untuk pulang bila terlalu malam. Istriku khawatir aku kelelahan, apalagi aku mengendarai mobil sendirian. Namun, aku menghiraukannya. Tidak ada waktu. Aku tidak ingin terlambat datang di hari ulang tahun anakku tersayang.
Di pertengahan jalan, rasa kantuk menyerang. Mataku terasa berat, tetapi kakiku enggan melonggarkan gas karena ingin segera sampai. Aku terus melaju sembari menahan kantuk. Sesekali mataku terpejam. Sepersekian detik, kemudian tersadar kembali.
Firasatku mulai buruk, aku harus berhenti. Aku berencana menepi di Rest Area terdekat untuk beristirahat sejenak. Mungkin jaraknya sekitar 5 KM lagi. Aku pun terus melaju dengan kencang agar bisa segera menepi di Rest Area tersebut. Namun, sekitar 2 KM sebelum Rest Area, mataku benar-benar terpejam. Aku terlelap.
…
Ibu sudah menceritakan semuanya kepadaku. Ayah, maafkan aku karena dulu sempat membencimu. Sampai kapan pun, engkau tak akan pernah tergantikan. Kini aku tahu, ayah tidak jahat. Aku sayang ayah.
…




