Cover Ayah Tidak Jahat

Ayah (Tidak) Jahat

Namaku Rani. Aku berumur 2 tahun. Meskipun aku berasal dari keluarga yang tidak mampu, tetapi aku merasa bahagia karena memiliki ayah dan ibu yang sangat menyayangiku. Aku pun menyayangi mereka. Apalagi ayah.
Aku memiliki seorang ayah yang sangat baik. Ayah seperti malaikat penolong yang selalu ada, mengajakku bermain, jalan-jalan, bercanda, dan menghiburku ketika aku menangis. Sikap lembut dan perhatian yang dimiliki ayah membuatku merasa tak bisa hidup tanpa dirinya. Aku yakin, ibu pun merasa demikian.
Keluarga kami memang hidup dalam keterbatasan. Kami harus merasakan rumah bocor saat hujan, melihat tembok-tembok rumah yang mengelupas, dan sering diremehkan ketika harus berhutang. Semua itu tak menjadi masalah selagi kami melaluinya bersama. Hanya saja, terkadang aku merasa kasihan ketika melihat ayah sampai memasang muka memelas kepada pemilik warung agar diberikan perpanjangan waktu untuk membayar hutang.
Ada yang bilang kalau uang itu bukan segalanya. Entah benar atau salah, aku tak tahu karena keluargaku tidak pernah memiliki banyak uang. Namun, satu hal yang pasti, aku bisa merasa bahagia hanya dengan memiliki kedua orang tua seperti mereka, kendati tak memiliki uang sepeser pun. Keluarga kami bisa bahagia meskipun tidak bergelimang harta. Itu karena kami memiliki sosok ayah sekaligus suami yang sangat baik.
Hingga di suatu hari, ketika kondisi keuangan kami mulai membaik, aku merasa kehilangan sosok ayah yang selalu ada untukku.

Sore itu, ayah berlari dengan membawa selembar kertas di tangannya. Ayah memeluk ibu sembari mengucap syukur. Keduanya menangis bahagia. Katanya, ayah berhasil di terima bekerja menjadi sales di sebuah dealer mobil. Gajinya lumayan besar, apa lagi kalau ayah berhasil mencapai target penjualan.

Karir ayah sebagai sales ternyata melesat jauh. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, ayah sudah dipromosikan menjadi manajer. Ibu sangat senang melihat pencapaian ayah. Terlebih, kini kami sudah pindah ke rumah baru yang lebih layak dan nyaman. Ayah pun membeli mobil baru untuk kami jalan-jalan. Bukan hanya itu, aku sempat mendengar percakapan ayah dan ibu bahwa kini tabungan mereka sudah lebih dari cukup untuk memberangkatkan kami sekeluarga dan kakek-nenek untuk pergi haji. Ayah juga membeli banyak emas dan tanah sebagai barang investasi. Perekonomian kami sudah sangat membaik.
Namun, di balik kemewahan yang ayah berikan, ada harga yang harus dibayar. Ayah menjadi jauh dariku. Ayah yang dulu selalu ada, ayah yang selalu menghiburku ketika aku menangis, ayah yang selalu perhatian kepadaku. Entah mengapa aku seperti kehilangan semua itu. “Sibuk” adalah alasan yang selalu diberikan ketika aku menuntut agar ia kembali seperti dulu, dengan bahasa seadanya yang aku bisa tentunya. Hingga puncak kekecewaanku terjadi ketika ayah mulai sering ingkar janji.
“Iya, sayang, ayah pasti datang di hari ulang tahunmu,” ayah coba menghibur ketika aku memasang muka cemberut di layar telepon, “Pokoknya nanti ayah belikan kamu kado spesial. Kado yang gede!”.
“Ayah serius?” Tanyaku girang.
Ayah mengangguk sambil tersenyum.
Aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagia ini. Di hari ulang tahunku yang ke-4, ayah akan memberikan kado spesial, katanya. Sungguh, aku sangat senang mendengarnya.
Panggilan telepon itu terjadi 5 hari sebelum hari ulang tahunku. Hari-hari berikutnya ayah terlihat sangat sibuk. Itu aku ketahui ketika menguping pembicaraan ayah dengan ibu di telepon. Berbicara dengan ibu saja ayah hampir tidak memiliki waktu, aku khawatir ayah tidak bisa datang. Sama seperti ketika hari ulang tahunku yang ke-3. Ayah tak bisa datang karena masih menjalankan tugas di luar kota. Saat itu aku merasa kecewa kepada ayah untuk yang pertama kalinya. Sekarang aku takut hal itu akan terulang lagi.
Besok adalah hari ulang tahunku yang ke-4. Sejak panggilan telepon 4 hari yang lalu, ayah tidak sempat berbicara kepadaku lagi. Bahkan, ketika ibu menelepon, ayah hanya menjawab dengan singkat karena alasan sibuk. Aku pun semakin khawatir ayah tidak bisa datang besok. Aku terus memikirkan hal itu sembari menyandarkan kepala di pangkuan ibu.
Ibu sangat baik. Tanpa diminta, ibu terus meyakinkan aku bahwa besok ayah pasti akan datang. Kata-kata ibu seperti obat penenang yang membuatku terlelap.

Dini hari aku terbangun karena mendengar tangisan ibu. Aku belum pernah melihat ibu teramat sedih seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

Melihatku terbangun, ibu segera memelukku. Aku mengamati sekitar, berharap bisa menemukan penyebab tangisan ibu. Kulihat tangan ibu menggenggam telepon. Apakah ia habis menerima telepon dari ayah? Apakah ayah yang membuat ibu menangis?
Tangisan ibu bagaikan teka-teki yang sangat sulit terpecahkan, sehingga membuat kepalaku terasa berat. Entah karena terlalu banyak berpikir atau terlalu mengantuk, aku pun kembali terlelap di pelukan ibu.
Hari ulang tahunku tiba. Teman-teman dan keluargaku mulai berdatangan. Semua mata tertuju kepadaku. Namun, mataku selalu tertuju ke arah pintu. Aku berharap sosok itu datang. Sosok yang selama ini menjadi pahlawan bagiku. Ayah.

Aku yakin ayah pasti akan datang. Ayah pasti akan menepati janjinya, membawa kado yang besar untukku. Namun, hingga acara potong kue selesai, hingga semua tamu undangan pulang, hingga ruangan ini sunyi diselimuti kekecewaan, ayah tak juga datang. Aku tak bisa membendung air mataku. Ayah bohong. Ayah ingkar janji lagi.

Melihat aku menangis tanpa suara, ibu segera memelukku. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari pelukan ibu. Di saat seperti ini, biasanya ibu akan menenangkan aku. Membela ayah dengan kata-kata lembutnya hingga aku luluh. Namun, kini tak ada suara yang keluar dari bibir ibu. Hingga akhirnya aku menyadari kalau ibu juga ikut menangis. Aneh. Ada apa dengan ibu?
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Sudah sebulan setelah hari ulang tahunku, tetapi ayah masih belum datang. Jangankan melihatnya di ambang pintu, mendengar suaranya di telepon saja tidak. Pun dengan ibu. Aku tidak pernah melihat ibu menelepon ayah lagi. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua? Apakah ayah tega menyakiti ibu? Jika benar demikian, aku tidak akan memaafkan ayah!
Sudah hampir dua bulan aku tidak mendengar kabar dari ayah. Hingga akhirnya rasa penasaran membuatku bertanya kepada ibu.
“Rina kangen ayah. Ayah masih sibuk, ya, bu?” tanyaku pelan.
Alih-alih menjawab, ibu justru memelukku sembari menangis sejadi-jadinya.
“Ibu, maafin Rina” Aku menyesal telah membuat ibu bersedih.
Namun, ibu terus menangis sembari memelukku erat.
Mulai saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan membahas tentang ayah lagi. Aku akan melupakan ayah. Ayah sudah membuat aku kecewa. Ayah sudah membuat ibu menangis. Ayah jahat!

Dua bulan sebelumnya.
Aku mengangguk sembari tersenyum ketika anak kesayanganku memastikan janji yang ku ucap. Melalui sambungan telepon ini aku bisa melihat kegembiraan yang terpancar dari senyum indahnya.
Aku berjanji akan membuat ulang tahunnya yang ke-4 menjadi istimewa, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aku berniat membalas kesalahanku setahun sebelumnya. Saat aku tidak bisa hadir di hari ulang tahunnya yang ke-3.
Lima hari lagi, aku yakin pekerjaanku pasti akan selesai. Jika semuanya sudah beres, aku akan segera pulang. Aku sudah menyiapkan banyak kado dan sebuah kado istimewa berukuran besar untuknya. Aku sudah tidak sabar hingga hari itu tiba. “Tunggu ayah, ya, sayang”.
Di luar dugaan, ternyata pekerjaanku semakin banyak. Sebagai manajer sales, aku harus mengurus ini-itu dan masih banyak lagi. Sial. Jika seperti ini terus, aku khawatir tidak bisa pulang tepat waktu. Aku pun memaksimalkan kinerjaku. Sampai-sampai aku mengurangi waktu telepon dengan istriku karena terlalu sibuk. Bahkan, aku sampai tidak tidur semalaman atau hanya tidur beberapa jam saja dalam sehari. Tak masalah, asalkan semua bisa selesai tepat waktu. Hitung-hitung berkorban, pikirku.
Kerja kerasku akhirnya membuahkan hasil. Tepat di hari keempat, di malam yang sangat larut, aku berhasil menyelesaikan semua pekerjaan ini.

Besok adalah hari ulang tahun Rina, anakku tersayang. Malam ini juga aku akan segera pulang. Sebenarnya beberapa jam yang lalu istriku menelepon, ia melarang aku untuk pulang bila terlalu malam. Istriku khawatir aku kelelahan, apalagi aku mengendarai mobil sendirian. Namun, aku menghiraukannya. Tidak ada waktu. Aku tidak ingin terlambat datang di hari ulang tahun anakku tersayang.

Malam semakin larut, dini hari, aku mengendarai mobil dengan kencang. Beruntung karena jalanan lengang, aku jadi bisa memacu kendaraan dengan maksimal. Jarak dari sini ke rumah bisa memakan waktu sekitar 9 jam, tetapi bila aku terus melaju dengan kencang, mungkin bisa dipangkas menjadi 6 atau 7 jam saja. Semoga aku tidak terlambat menghadiri ulang tahun Rina.

Di pertengahan jalan, rasa kantuk menyerang. Mataku terasa berat, tetapi kakiku enggan melonggarkan gas karena ingin segera sampai. Aku terus melaju sembari menahan kantuk. Sesekali mataku terpejam. Sepersekian detik, kemudian tersadar kembali.

Firasatku mulai buruk, aku harus berhenti. Aku berencana menepi di Rest Area terdekat untuk beristirahat sejenak. Mungkin jaraknya sekitar 5 KM lagi. Aku pun terus melaju dengan kencang agar bisa segera menepi di Rest Area tersebut. Namun, sekitar 2 KM sebelum Rest Area, mataku benar-benar terpejam. Aku terlelap.

Saat aku membuka mata, mobilku sudah melewati garis jalan. Aku terlambat menginjak rem, benturan pun tak bisa dihindari. Mobilku menabrak pembatas jalan. Berguling tak karuan hingga membuat semua bagiannya hancur. Sama seperti hatiku yang harus hancur karena tidak pernah bisa menghadiri hari ulang tahun anakku lagi.

15 tahun kemudian.

Ibu sudah menceritakan semuanya kepadaku. Ayah, maafkan aku karena dulu sempat membencimu. Sampai kapan pun, engkau tak akan pernah tergantikan. Kini aku tahu, ayah tidak jahat. Aku sayang ayah.

Artikel Serupa

  • Tangisan Terakhir

    Jerit melengking terus mengiringi langkah kaki dan ayunan tangan teraturnya ketika aku mengejar tubuh mungil itu. Ia berlari kencang menuju kamar tidur untuk meminta perlindungan dari sang Ibu. Sedangkan di belakangnya, aku terus merangkak mengejar, berteriak, ingin menerkam. Di sisa tenaganya, ia coba melompat, ingin berlindung di pelukan ibunya. Sayang, sesaat sebelum mendarat di pelukan…

  • Sehabis Hujan

    Aku berjalan gontai menyusuri jalan, menuju terminal terdekat untuk pulang. Kakiku menendang benda apa pun yang menghalangi untuk melampiaskan kekesalan. Sementara di atas sana, langit mendung menemani seakan tahu suasana hatiku yang sedang tidak baik-baik saja. Aku seperti tak memiliki harapan lagi, bahkan terlintas di benakku untuk mengakhiri hidup ini. Air mataku hampir jatuh ketika…

  • Kuarter Terakhir

    2531 Sepuluh tahun yang lalu, Dewan Keselamatan Manusia (DKM) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengumumkan sesuatu yang mengejutkan. Pengumuman tersebut membuat seluruh manusia yang ada di bumi menjadi bangga, sekaligus bersedih dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana tidak, seluruh manusia mendapat kabar bahagia bahwa ekspansi untuk menjadikan Mars sebagai tempat tinggal baru, berjalan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *