Tangisan Terakhir
Sore itu, aku segera merebahkan badan di atas sofa ketika sampai di rumah. Lelah dan dipenuhi amarah karena di tempat kerja tadi aku berdebat habis-habisan dengan atasan. Padahal aku sama sekali tak melakukan kesalahan apa pun. Aku hanya dijadikan kambing hitam oleh para senior yang mencari muka. Sialnya, masalah itu sampai terbawa ke rumah.
Baru saja melangkah masuk, tiba-tiba kakiku menginjak genangan air. Akkhh! ini pasti ulah Chika yang menumpahkan air lagi. Kemarahanku langsung memuncak. Aku mendudukkan Chika di samping ranjang kemudian melihat matanya dengan tajam. Chika seperti tahu akan dinasehati sehingga ia menundukkan kepalanya, menghindari tatapanku.
Chika hanya berbicara pelan, entah menggerutu, membantah, atau ingin menjelaskan, aku tak tahu karena kata-katanya belum jelas. Aku tidak bisa memahaminya.
“Lain kali jangan terlalu keras, pah,” Fira coba menenangkan “Chika juga kalau habis makan jangan numpahin air, ya. Nanti lantainya becek. Kalau becek nanti Chika bisa kepleset, jatuh, terus sakit”
Selesai memasak, Fira segera membereskan dapur yang terlihat cukup kotor. Banyak sisa sayuran dan kulit bawang berserakan. Ada noda tanah juga yang menempel di lantai, biasanya terbawa bersama akar sayuran. Fira pun menuangkan sedikit air dari gelas kemudian mengelap noda tanah tersebut dengan kain pel. Ia sangat piawai dalam membersihkan dapur sehingga terlihat kinclong dalam sekejap.
Melihat cara Fira dalam membersihkan dapur, aku jadi teringat sesuatu. Aku pun akhirnya menyadarinya. Aku mengerti.
Setelah semuanya beres, aku dan Fira menyempatkan waktu untuk bercengkerama. Berdiskusi ringan untuk meningkatkan keharmonisan rumah tangga, sebelum akhirnya kami dikagetkan dengan kehadiran Chika. Seperti biasa, setelah bangun tidur, Chika akan menuju kulkas untuk mengecek makanan di sana. Kami hanya tertawa melihat tingkahnya itu.
“Sini, makan, sayang. Mamah ambilin nasi, ya” Fira segera bangkit untuk mengambil nasi.
Fira memberikan sepiring kecil makanan untuk Chika. Dibawanya makanan tersebut ke dalam kamar untuk dimakan sambil menonton TV. Walaupun terbilang masih kecil, tetapi Chika sudah bisa makan sendiri. Kami memang ingin mengajarinya hidup mandiri sejak dini.




