Cover Tangisan Terakhir

Tangisan Terakhir

Jerit melengking terus mengiringi langkah kaki dan ayunan tangan teraturnya ketika aku mengejar tubuh mungil itu. Ia berlari kencang menuju kamar tidur untuk meminta perlindungan dari sang Ibu. Sedangkan di belakangnya, aku terus merangkak mengejar, berteriak, ingin menerkam. Di sisa tenaganya, ia coba melompat, ingin berlindung di pelukan ibunya. Sayang, sesaat sebelum mendarat di pelukan sang ibu, aku berhasil meraih tubuhnya. Aku berhasil mendapatkan tubuh mungil yang menjadi incaran. Tak pikir panjang, aku langsung membuka mulut lebar-lebar ke arah perutnya yang kembang-kempis karena mengatur napas. Seketika teriakan kencang menggema dan memenuhi seisi ruangan.
“Aaaakhhh… hehehehe…” Jerit melengking itu seketika berubah menjadi tawa.
“Tidaaaak… anak mamah ditangkap Gozilla…” Canda ibunya, istriku tercinta.
Aku sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Terlebih ketika anak semata wayang kami, Chika, sudah bisa berlari ke sana-sini dan bercanda dengan kami. Hal ini juga yang dirasakan oleh Fira, istriku. Hari-harinya lebih berwarna setelah kehadiran Chika. Namun, dibalik kebahagiaan yang kami rasakan, ada kekhawatiran yang menghantui.
Chika yang sudah berusia dua tahun masih belum bisa berbicara dengan lancar. Ia hanya bisa berbicara satu-dua kata yang pelafalannya belum jelas. Untungnya, meskipun belum bisa berbicara tetapi Chika sudah mengerti perkataan kami. Apa yang kami perintahkan, ia bisa mengikutinya. Walaupun hanya bisa memahami kalimat sederhana dengan dibantu sedikit gerakan peraga, tetapi itu sebuah kemampuan yang bisa membuat kami tenang. Semoga tidak ada masalah berarti dengan perkembangannya.
Sebenarnya Chika adalah anak yang baik dan penurut. Apa pun yang kami katakan, ia selalu menurutinya. Namun, entah sejak kapan ia memiliki kebiasaan buruk, yaitu menumpahkan air minum ke lantai. Awalnya aku dan Fira menanggapinya dengan tenang, tetapi lama-kelamaan aku jengkel juga melihatnya. Apa lagi kami sudah menasihatinya berkali-kali. Aku sempat bingung melihat sifat buruknya itu. Sebab untuk masalah ini Chika seperti tidak mengikuti nasihat dari kami. Hingga akhirnya peristiwa yang aku sesali seumur hidup itu terjadi.

Sore itu, aku segera merebahkan badan di atas sofa ketika sampai di rumah. Lelah dan dipenuhi amarah karena di tempat kerja tadi aku berdebat habis-habisan dengan atasan. Padahal aku sama sekali tak melakukan kesalahan apa pun. Aku hanya dijadikan kambing hitam oleh para senior yang mencari muka. Sialnya, masalah itu sampai terbawa ke rumah.

Melihat aku yang kelelahan, Fira segera mengambil air minum dan memberikannya kepadaku. Setelah itu ia kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya.
“Chika di mana, mah?” Tanyaku pada Fira yang masih asik di dapur.
“Lagi nonton TV di kamar, baru selesai makan” Teriak Fira, tak bisa meninggalkan aktivitasnya.
Aku segera menuju ke kamar untuk menemui Chika. Namun, saat aku sampai di depan pintu kamar, tiba-tiba Chika keluar sambil berlari. Entah apa yang sedang ia cari hingga tubuhnya menabrak kakiku. Aku menggendongnya, membawanya masuk kembali. Aku ingin merasakan sejuknya mesin pendingin yang hanya ada di dalam kamar.

Baru saja melangkah masuk, tiba-tiba kakiku menginjak genangan air. Akkhh! ini pasti ulah Chika yang menumpahkan air lagi. Kemarahanku langsung memuncak. Aku mendudukkan Chika di samping ranjang kemudian melihat matanya dengan tajam. Chika seperti tahu akan dinasehati sehingga ia menundukkan kepalanya, menghindari tatapanku.

“Chika, papah kan sudah bilang, jangan suka numpahin air!” Bentakku, “Kamu, koq, susah diomongin, sih!”

Chika hanya berbicara pelan, entah menggerutu, membantah, atau ingin menjelaskan, aku tak tahu karena kata-katanya belum jelas. Aku tidak bisa memahaminya.

“Jawab yang bener! Kamu kenapa, sih!” Nada bicaraku meninggi.
Chika masih menunduk, tetapi celotehan itu sudah tak kudengar lagi. Ia hanya diam. Sesaat kemudian ia bangkit dan hendak berlari, tetapi tanganku lebih cepat dan menariknya kembali untuk duduk di samping ranjang. Saat itulah aku bisa melihat raut wajahnya. Saat itu pula aku menyesal. Sebuah penyesalan yang akan kubawa sepanjang hidupku.
Kulihat ada genangan yang tertahan di mata Chika. Ia sedih. Hendak menangis tetapi ia menahannya. Ia tak ingin aku melihatnya. Aku pun tersadar. Menyesali kemarahan yang telah kulontarkan begitu saja.
“Sayang, maafin papah” Kataku lirih sambil meraih tubuh mungil Chika.
Aku segera memeluk Chika dengan penuh penyesalan. Chika menolak, menghindar, berlari ke sudut ruangan. Ia menghampiri boneka kesayangannya, mencoba menghibur diri sendiri. Aku mendekat. Chika masih membelakangi, bergeming.
Meskipun begitu, aku tetap mendekap tubuhnya. Sungguh, aku sangat menyesal. Tak lama kemudian tangisnya pecah. Chika menangis sejadi-jadinya di pelukanku. Mendengar tangisannya itu membuat hatiku hancur. Apa yang sudah aku lakukan? Aku seharusnya membahagiakannya, bukan malah membuat luka di hatinya. Saat itu juga aku mengutuk diriku sendiri.
Tak terasa aku pun meneteskan air mata. Namun, itu percuma. Semua sudah terjadi. Amarah yang sudah kulontarkan bagaikan pedang yang menusuk hati Chika. Begitu menyakitkan dan pasti akan meninggalkan luka. Kini, hanya penyesalan yang menyelimuti diriku.
Tak berapa lama Fira datang.

“Lain kali jangan terlalu keras, pah,” Fira coba menenangkan “Chika juga kalau habis makan jangan numpahin air, ya. Nanti lantainya becek. Kalau becek nanti Chika bisa kepleset, jatuh, terus sakit”

Di tengah isak tangisnya, Chika mengangguk, tanda ia mengerti. Aku semakin memeluknya erat.
Keesokan harinya, Chika masih tertidur dengan pulas ketika aku terbangun. Sedangkan Fira sudah sibuk di dapur, mengupas bawang, dan memotong sayuran untuk dimasak. Aku duduk di sebelahnya, berinisiatif membantu. Kehadiranku membuat pekerjaan di dapur cepat selesai. Masakan pun siap disajikan.

Selesai memasak, Fira segera membereskan dapur yang terlihat cukup kotor. Banyak sisa sayuran dan kulit bawang berserakan. Ada noda tanah juga yang menempel di lantai, biasanya terbawa bersama akar sayuran. Fira pun menuangkan sedikit air dari gelas kemudian mengelap noda tanah tersebut dengan kain pel. Ia sangat piawai dalam membersihkan dapur sehingga terlihat kinclong dalam sekejap.

Melihat cara Fira dalam membersihkan dapur, aku jadi teringat sesuatu. Aku pun akhirnya menyadarinya. Aku mengerti.

Setelah semuanya beres, aku dan Fira menyempatkan waktu untuk bercengkerama. Berdiskusi ringan untuk meningkatkan keharmonisan rumah tangga, sebelum akhirnya kami dikagetkan dengan kehadiran Chika. Seperti biasa, setelah bangun tidur, Chika akan menuju kulkas untuk mengecek makanan di sana. Kami hanya tertawa melihat tingkahnya itu.

“Sini, makan, sayang. Mamah ambilin nasi, ya” Fira segera bangkit untuk mengambil nasi.

“Aem” Jawab Chika singkat sembari mendekat.

Fira memberikan sepiring kecil makanan untuk Chika. Dibawanya makanan tersebut ke dalam kamar untuk dimakan sambil menonton TV. Walaupun terbilang masih kecil, tetapi Chika sudah bisa makan sendiri. Kami memang ingin mengajarinya hidup mandiri sejak dini.

Melihat Chika yang pergi ke kamar, aku segera menyusulnya sembari membawa secangkir air minum untuknya.
“Ini minumnya, sayang. Papah taruh di sini, ya”
Chika hanya mengangguk.
Aku pun meninggalkan Chika di kamar sendirian dan melanjutkan diskusi dengan Fira di dapur.
“Ga apa-apa, tah, ngasih dia minum sendirian? Nanti ditumpahin lagi, loh” Kata Fira dengan nada khawatir.
“Ga apa-apa. Coba lihat aja…” Jawabku.
Benar saja, tak berapa lama terdengar suara air menetes. Sudah dipastikan lantai kamar akan tergenang air. Kami segera menuju kamar dan berpapasan dengan Chika yang hendak keluar. Awalnya Fira ingin menggendong Chika untuk dinasehati, tetapi aku melarangnya. Aku justru membiarkan Chika berlari ke dapur.
“Kenapa, pah?” Tanya Fira bingung.
“Coba lihat aja, mah”
Kami pun menunggu Chika di kamar, membiarkan makanan yang jatuh dan air menggenang di lantai begitu saja. Aku sengaja membiarkannya seperti itu, bahkan melarang Fira untuk membersihkannya.
“Tunggu aja, mah. Tunggu Chika masuk” Jelasku.
“Emang kenapa, pah? Jangan marahin Chika lagi, ya” Pintanya.
Aku hanya menggeleng sembari tersenyum.
Akhirnya Chika pun masuk ke kamar. Dugaanku benar. Chika masuk sambil membawa kain pel. Ia pun mengelap genangan air itu dengan kain tersebut.
Melihat kejadian itu, Fira memandangku dengan mata berkaca. Terharu.
Ternyata selama ini Chika menumpahkan air untuk membersihkan makanan yang jatuh ke lantai. Chika mendapatkan cara tersebut dari Fira. Ya, Fira selalu menumpahkan air ke lantai yang kotor sebelum mengelapnya dengan kain pel.
“Masyaa Allah…” Fira tak bisa membendung air matanya.
Sedangkan aku hanya tertunduk malu dengan dipenuhi penyesalan yang mendalam.
Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyakiti hatinya lagi. Aku pastikan itu adalah tangisan terakhirnya. Aku tidak akan membiarkannya menangis lagi.

Artikel Serupa

  • Ayah (Tidak) Jahat

    Namaku Rani. Aku berumur 2 tahun. Meskipun aku berasal dari keluarga yang tidak mampu, tetapi aku merasa bahagia karena memiliki ayah dan ibu yang sangat menyayangiku. Aku pun menyayangi mereka. Apalagi ayah.Aku memiliki seorang ayah yang sangat baik. Ayah seperti malaikat penolong yang selalu ada, mengajakku bermain, jalan-jalan, bercanda, dan menghiburku ketika aku menangis. Sikap…

  • Sehabis Hujan

    Aku berjalan gontai menyusuri jalan, menuju terminal terdekat untuk pulang. Kakiku menendang benda apa pun yang menghalangi untuk melampiaskan kekesalan. Sementara di atas sana, langit mendung menemani seakan tahu suasana hatiku yang sedang tidak baik-baik saja. Aku seperti tak memiliki harapan lagi, bahkan terlintas di benakku untuk mengakhiri hidup ini. Air mataku hampir jatuh ketika…

  • Kuarter Terakhir

    2531 Sepuluh tahun yang lalu, Dewan Keselamatan Manusia (DKM) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengumumkan sesuatu yang mengejutkan. Pengumuman tersebut membuat seluruh manusia yang ada di bumi menjadi bangga, sekaligus bersedih dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana tidak, seluruh manusia mendapat kabar bahagia bahwa ekspansi untuk menjadikan Mars sebagai tempat tinggal baru, berjalan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *