Menemukan Surga yang Tersembunyi Di Pulau Semau
Sabtu, 22 November 2025. Mentari belum menampakkan wajahnya tetapi beberapa pegawai dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Nusa Tenggara Timur (Kanwil Ditjen Imigrasi NTT), termasuk aku, sudah berkumpul di halaman Kantor. Pagi ini kami akan bertolak ke Pulau Semau untuk menjalankan tugas. Awalnya aku mengira kalau tugas ini akan terasa melelahkan seperti tugas lapangan pada umumnya. Namun, ternyata dugaanku salah. Tugas ini justru memberikan banyak hal baru dalam hidupku: peristiwa bersejarah, pelajaran hidup, dan menemukan surga yang tersembunyi. Selamat membaca kisah perjalananku dalam menyambangi Pulau Semau. Ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya.Â
Peristiwa Bersejarah
Sabtu pagi, biasanya aku, istri, dan anakku akan menghabiskan waktu untuk berbelanja di Car Free Day (CFD) yang ada di Jalan Eltari, Kupang. Ada banyak penjual bahan makanan di CFD, sehingga istriku memanfaatkan hal tersebut untuk belanja mingguan. Selain lengkap, barang-barang di CFD juga memiliki harga yang murah. Maka dari itu, kami lebih suka berbelanja di sini. Namun, tidak seperti biasanya. Sabtu ini aku harus menunda kegiatan tersebut karena ada panggilan tugas.
Sejak pagi buta, aku dan beberapa rekan lainnya sudah berkumpul di Kanwil Ditjen Imigrasi NTT untuk melakukan persiapan tugas. Kami akan melakukan operasi pengawasan orang asing di Pulau Semau selama dua hari. Awalnya aku mengira kalau tugas ini akan terasa berat dan melelahkan. Namun, siapa sangka justru di sinilah salah satu peristiwa bersejarah dalam hidupku terjadi.

Setelah memastikan semuanya siap, kami segera menuju Pelabuhan Bolok dengan menggunakan empat mobil. Di perjalanan, mobil yang aku naiki mengalami kendala sehingga membuat kami terpisah dengan tiga mobil lainnya. Ada masalah pada ban mobil sebelah kiri-depan. Akh, sial. Kami pun terpaksa berhenti di bengkel terdekat untuk memperbaikinya. Beruntung, perbaikan tidak membutuhkan waktu lama sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Setelah satu jam menyusuri jalanan aspal, akhirnya kami sampai di Pelabuhan Bolok. Kami pun bertemu kembali dengan tiga mobil lainnya di gerbang pelabuhan untuk mengantre masuk ke Kapal Ferry.Â
Antrean tidak terlalu panjang sehingga kami bisa masuk kapal dengan cepat. Ini kali kedua aku menaiki kapal laut. Sebelumnya aku juga pernah menaiki kapal laut (speed boat lebih tepatnya) dari Jakarta menuju Pulau Tidung Besar. Meskipun begitu, rasa takut tetap saja ada karena aku tidak bisa berenang. Kini aku harus melawan rasa takut itu lagi karena inilah satu-satunya cara untuk sampai di Pulau Semau. Perjalanan laut dimulai. Kapal membelah lautan, menciptakan buih panjang di permukaan air.Â

Aku segera naik ke dek atas agar bisa melihat pemandangan yang luas dan merasakan hembusan angin laut yang sejuk. Di ujung sana, sebuah pulau sudah menunggu. Pulau Semau. Ini adalah kali pertama aku mengunjungi pulau tersebut. Rasa takut yang sedari tadi menghantui, seketika hilang tergantikan rasa kagum. Perpaduan antara suara gemuruh angin dan ombak yang menghantam kapal, menciptakan musik indah yang menghipnotis jiwa. Aku seolah dibawa ke dunia yang selama ini kucari, damai.


Menikmati hembusan angin dan suara lautan membuat waktu seakan cepat berlalu, hingga tak terasa kapal sudah bersandar di Pelabuhan Hansisi, Pulau Semau. Sejarah baru dalam hidupku, dimulai.
Pelajaran Hidup Di Kolam Uisimu
Sampai di Pelabuhan Hansisi, kami segera menuju tempat bertugas. Ada beberapa tempat yang harus kami kunjungi, maka dari itu, kami tidak ingin membuang-buang waktu. Sebab meskipun luas pulau ini dapat dijangkau menggunakan kendaraan bermotor dengan cepat, tetapi kondisi jalan yang sebagian besar masih tanah dan bebatuan menjadi tantangan tersendiri.Â
Setelah mengunjungi beberapa tempat tugas, akhirnya kami sampai di sisi lain Pulau Semau, tepatnya di Desa Otan. Sebuah desa yang di dalamnya terdapat kolam penangkaran penyu. Kolam penangkaran penyu inilah yang menjadi tujuan kami. Jalanan menuju kolam ini cukup menantang karena masih tanah dan dihiasi lubang-lubang kecil. Belum lagi kontur jalan yang bergelombang, membuat pengemudi harus ekstra hati-hati.

Beberapa menit kemudian kami sampai di penangkaran penyu, Kolam Uisimu. Kami pun segera menjalankan tugas berikutnya. Namun, saat sedang mendokumentasikan kegiatan, aku sempat terdiam melihat kolam tersebut. Dejavu. Kolam ini mengingatkanku pada sebuah tempat indah yang pernah aku kunjungi. Seketika aku mengangan, hingga akhirnya ingatanku menemukan sesuatu. Telaga Biru, Situ Cicerem. Ya, warna Kolam Uisimu mengingatkanku pada Situ Cicerem yang ada di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Spontan aku jadi teringat kampung halaman. Akh, sudahlah.

Di Kolam Uisimu, aku bertemu dengan Warga Negara Asing (WNA) yang berasal dari Perancis. Ia adalah orang yang merawat penyu di kolam ini. Penyu-penyu yang terluka dan butuh rehabilitasi akan dirawat sementara di Kolam Uisimu hingga sembuh, sebelum akhirnya dilepas kembali ke alam liar. WNA tersebut sudah lama tinggal di Indonesia untuk merawat penyu-penyu, hingga akhirnya memutuskan menetap di Pulau Semau. Jujur saja, hal ini membuatku bertanya-tanya.
Mengapa ia rela pergi jauh dari negaranya dan memutuskan tinggal di Pulau Semau demi merawat penyu-penyu? Bagaimana dengan kehidupannya? Apakah dengan merawat penyu bisa mensejahterakan hidupnya? Apa yang sebenarnya ia cari? Kekayaan, popularitas, atau sesuatu yang aku tidak ketahui?
Berbagai pertanyaan muncul di kepala, tetapi tak pernah kuungkapkan karena takut membuatnya tersinggung. Namun, setelah melihat rumahnya yang sederhana, sepertinya bukan kekayaan yang ia cari. Bukan pula popularitas, sebab ia tak memiliki satu pun akun media sosial.Â
Aku bisa sedikit memahami ketika melihatnya bercengkerama dengan penyu-penyu di Kolam Uisimu; ketika melihatnya bercerita tentang penyu dengan antusias; ketika melihat semangatnya dalam mengantarkan kami ke salah satu pantai di Pulau Semau, tempatnya melepas penyu-penyu ke alam liar; ketika melihatnya marah saat bercerita tentang jahatnya manusia kepada penyu-penyu. Matanya seakan memancarkan ketulusan. Aku mengerti.Â
Tak disangka, ternyata aku mendapatkan pelajaran baru dari orang asing di Kolam Uisimu ini. Pelajaran hidup yang sangat berharga. Pelajaran tentang arti ketulusan.Â

Menjalankan tugas membuat kami lupa waktu, hingga tanpa disadari matahari sudah tepat di atas kepala. Perut pun mulai menagih haknya, memaksa kami segera mencari rumah makan terdekat. Namun, sebelum benar-benar pergi, aku berdiri sejenak di tepi Kolam Uisimu, membiarkan angin lembut dan kejernihan airnya menenangkan pikiran. Ada sesuatu yang terasa hangat di tempat sederhana itu. Dari airnya yang jernih hingga suasana sunyinya, kolam ini seakan mengajarkan arti ketulusan: bahwa sesuatu tidak harus besar atau gemerlap untuk memberi makna, cukup hadir apa adanya.

Pantai Otan yang Mempesona
Siang itu, kami sampai di sebuah tempat makan yang berada persis di samping laut. Angin yang bertiup lembut dan aroma laut yang pekat menyambut kedatangan kami, sangat menenangkan. Sementara itu, gemuruh ombak terdengar seperti bisikan alam yang mengajak kami untuk sejenak melupakan hiruk pikuk pekerjaan.

Sembari menunggu makanan siap, aku sedikit melipir ke sisi lain ruangan. Di sana ada sofa dan tempat untuk tiduran. Tak pikir panjang, aku pun segera merebahkan tubuh di tempat itu. Nyaman, seakan semesta menyediakan ruangan khusus untuk beristirahat. Dari tempat ini aku bisa melihat birunya lautan secara langsung. Merasakan setiap hembusan angin yang akan meninggalkan jejak cerita, bahwa aku pernah mengunjungi tempat indah ini. Di sini kami memang duduk bersama, tetapi masing-masing larut menikmati anugerah dari semesta.


Dari kejauhan, hamparan pasir putih dan gulungan ombak tampak memantulkan cahaya yang memanggil-manggil. Perlahan aku tersadar bahwa keindahan itulah yang sedari tadi menarik perhatianku dari tempat rebahan. Namanya Pantai Otan, pantai yang seolah berbisik lewat hembusan angin, mengajakku untuk merasakan lembut pasirnya. Seperti terhipnotis, kaki ini segera melangkah mendekatinya.Â
Semakin dekat, suara ombak semakin pekat. Hembusan angin yang menerpa wajah pun semakin kencang, membawa ketenangan di dalam pikiran. Jauh di ujung sana, garis horizon tidak berperan seperti semestinya. Garis yang seharusnya memisahkan antara bumi dan langit, justru terlihat menyatukan keduanya dalam perpaduan yang menakjubkan. Kesunyian yang tercipta, membuatku merasa bahwa Pantai Otan adalah rahasia kecil bumi yang tak pernah terungkap.


Sejenak kupejamkan mata, merasakan angin yang menghempas seluruh tubuh, menikmati alunan deburan ombak yang menenangkan. Seandainya aku tidak mengenakan pakaian kerja, mungkin aku sudah menyambut ajakan semesta untuk merasakan segarnya air laut Pantai Otan. Sayang, aku belum berkesempatan bermain air di sini. Aku hanya bisa merasakan pasir lembutnya yang jatuh dari genggaman melalui sela-sela jari tangan.

Tak terasa mentari mulai berpindah posisi. Piring-piring yang awalnya penuh mulai kosong, hanya menyisakan noda-noda makanan yang kontras. Perut kami sudah mendapatkan haknya, itu berarti kami harus segera bergegas meninggalkan tempat ini. Mau tak mau, aku harus meninggalkan Pantai Otan dengan kesunyian yang hakiki dan menenangkan.

Senja Di Pantai Liman
Menjelang sore hari, kami beranjak dari Pantai Otan dan kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju penginapan. Jarak antara penginapan dan Pantai Otan sekitar 20 KM. Normalnya, bisa ditempuh dalam waktu tiga puluh menit saja. Namun, kondisi jalanan yang tidak sepenuhnya aspal membuat waktu tempuh bisa bertambah hingga satu jam. Selama dalam perjalanan itu, Pulau Semau seakan menampilkan sisi tersembunyinya yang sunyi, tenang, dan memikat. Saat tiba di penginapan, aku baru menyadari bahwa tempatnya begitu dekat dengan pantai. Bahkan, aku bisa mendengar dengan jelas deburan ombaknya.Â

Setelah selesai membereskan barang bawaan, kami semua pergi ke pantai itu. Pantai yang pasirnya putih dan halus, seakan memaku kaki agar tidak melangkah. Di sini, suasana jauh lebih sunyi dari tempat manapun yang kami lalui sebelumnya. Pantai ini berada hampir di ujung selatan Pulau Semau, sehingga angin yang datang cukup kencang, tanpa penghalang. Namun, kesunyian itu tidak berarti hampa. Ada banyak hal yang bisa dicerna menjadi makna.

Aku tak bisa mendeskripsikan pantai ini dengan detail, karena kata-kata tak akan mampu menggambarkannya secara sempurna. Namun, izinkan aku mengenalkan keindahan pantai ini dengan sederhana. Pantai sunyi dan mempesona, tersembunyi dari hiruk pikuk manusia, inilah Pantai Liman.
Pantai Liman berbentuk melengkung seperti bulan sabit, seakan memeluk lautan biru yang tak pernah berhenti memancarkan gradasi mengagumkan. Di salah satu ujungnya terhampar tebing karang yang kokoh, dekat dengan penginapan kami. Sementara di ujung lainnya berdiri sebuah bukit hijau yang cukup tinggi, seolah menjadi penjaga abadi yang mengawasi garis pantai. Bukit itu memikat mataku sejak pertama kali terlihat. Entah mengapa aku merasa ingin mendakinya, seolah ada sesuatu yang ingin ditunjukkan kepadaku.


Tak ingin menyia-nyiakan airnya yang jernih, kami segera melepas alas kaki dan berlari menuju laut. Ombaknya cukup besar tetapi masih bersahabat. Setiap gulungan air yang menghantam kaki terasa seperti sapaan hangat dari laut. Kami berenang, tertawa, dan saling memanggil, menikmati hempasan ombak yang datang seperti belaian alam terhadap tubuh yang lelah. Tak terasa, waktu berjalan cepat tanpa kami sadari.


Hingga akhirnya, langit mulai berubah warna. Mentari mulai tenggelam perlahan. Gradasi cakrawala berubah, menyiram Pantai Liman dengan warna jingga yang menawan. Senja datang. Aku terdiam beberapa saat, membiarkan suara ombak dan angin menjadi satu-satunya percakapan sore itu. Tidak ada yang perlu dijelaskan, semuanya terasa cukup, sempurna, dan tak tergantikan. Aku begitu menikmati diskusi bersama semesta dengan suasana indah ini.Â


Di bawah langit yang mulai temaram, aku melihat kembali bukit kokoh di ujung pantai. Siluetnya mulai muncul ketika warna hijau di permukaannya memudar, tergantikan bayangan hitam yang membuatnya tampak misterius sekaligus memanggil jiwa. Seolah ada bisikan dari alam yang mengajakku untuk mendaki, menapaki jalur yang mungkin tersembunyi di balik semak dan batuan. Panggilan itu begitu nyata, seperti undangan yang datang langsung dari jantung pulau ini.

Namun senja bergerak cepat menuju gelap, dan waktu tidak lagi bersahabat. Angin mulai mengantar dingin malam, memenuhi undangan untuk mendekati bukit itu hanya akan dipenuhi risiko. Maka ajakan itu terpaksa kuabaikan, setidaknya untuk hari ini. Meski begitu, hatiku telah lebih dahulu mengambil keputusan. Besok aku akan mendaki bukit itu. Ada sesuatu di sana yang ingin kujelajahi, entah pemandangannya, keheningannya, atau sekadar memenuhi panggilan alam yang misterius. Entah apa pun itu, yang jelas aku merasa wajib menuntaskan panggilan tersebut, seolah pulau ini sudah menyimpan cerita yang menunggu untuk aku temukan.

Mendaki Bukit Liman
Angin malam mulai datang perlahan, menyelimuti penginapan kecil kami yang terletak tak jauh dari bibir Pantai Liman. Suasana berubah menjadi hangat ketika rekan-rekan mulai berkumpul, memasak bersama dengan riang, menyiapkan barbeque sederhana yang memenuhi udara dengan aroma asap dan laut yang berpadu harmonis. Gelak tawa berbaur dengan suara ombak, menciptakan satu harmoni yang hanya bisa diinstrumenkan di tempat-tempat terpencil seperti ini. Di tengah keriuhan yang penuh keakraban itu, aku memutuskan untuk berdiri sedikit menjauh, menjaga api unggun agar tetap hidup. Cahaya jingga yang menari di kulit kayu membuat suasana terasa begitu syahdu.

Saat rekan-rekan mulai bernyanyi gembira, aku justru menata hammock di bawah pohon berkanopi lebar, bersiap merebahkan tubuh untuk merenung. Sembari berbaring, aku melihat cabang yang bergerak pelan tertiup angin, membuatku penasaran muka langit yang penuh gemintang di balik cabang-cabang itu. Pikiranku kembali melayang ke ujung pantai, ke arah bukit yang sejak tadi memanggil namaku dalam diam. Bukit itu ternyata bernama Bukit Liman.Â
Entah mengapa, ada dorongan dari dalam diri untuk merasakan suasana malam di puncaknya, melihat gemintang secara utuh tanpa terhalang cabang pohon atau apa pun. Bahkan memotret Bima Sakti yang mungkin hadir mewarnai langit Pulau Semau. Namun, setiap panggilan selalu datang bersama pertimbangan. Faktor keamanan memaksaku menunda keinginan itu. Sendirian di malam pekat, tanpa penerangan, jelas bukan keputusan yang bijak. Akhirnya aku menyerah pada rasa kantuk dan memutuskan untuk tidur lebih cepat agar esok pagi bisa bangun sebelum fajar dan menuntaskan panggilan yang menggema dari bukit itu.

Pagi datang, setelah menunaikan ibadah Subuh, aku melangkah keluar penginapan. Langit masih kelabu, mentari belum menampakkan wajahnya. Suasana terasa benar-benar tenang, hanya ada hembusan angin pagi dan deburan ombak yang ritmis menyentuh pantai. Ketika pandanganku menangkap siluet Bukit Liman dari kejauhan, ada suatu getaran halus di dadaku. Itulah tujuanku hari ini. Langkahku terasa ringan, seakan aku sedang berjalan menuju janji yang sudah lama dibuat. Aku seperti terhipnotis, tanpa sadar terus melangkah mendekati Bukit Liman. Semakin dekat aku berjalan ke arah bukit itu, semakin kuat rasa panggilannya. Ada sedikit kekhawatiran, itu wajar, tetapi entah mengapa, kekhawatiran itu tidak melebihi rasa ingin tahu yang begitu kuat.

Setibanya di ujung pantai, tepat di kaki Bukit Liman, sebuah pemandangan lain menanti. Ada semacam danau kecil atau genangan luas yang tersembunyi di balik pepohonan. Suasananya sangat berbeda dengan suasana pantai. Pekat, tenang, misterius. Seperti memasuki ruang lain yang tidak terjamah manusia. Tak jauh dari sana, di lereng bukit, tampak beberapa kuda dan sapi sedang merumput dengan damai. Pemandangan itu membuatku sempat gugup dan berpikir ulang: apakah aku tetap mendaki atau membatalkan? Namun, setelah menarik napas panjang, memohon perlindungan dari Sang Pencipta, meminta izin dari sang empunya wilayah, aku memutuskan untuk melanjutkan. Panggilan itu terlalu kuat untuk diabaikan.


Pendakian dimulai. Bukit Liman dengan ketinggian kurang dari seratus meter, bukanlah bukit yang berbahaya, tetapi tetap menuntut kewaspadaan. Suasananya sunyi. Hanya suara angin dan ombak dari kejauhan yang menemani perjalanan ini. Setiap langkah terasa seperti sedang diantar oleh sesuatu yang tak terlihat, seakan alam setempat menerima dan mempersilakanku menaiki punggungnya. Hingga akhirnya, ketika aku mencapai puncak, aku seperti tersentak oleh keindahan yang langsung menyergap.

Puncak Bukit Liman memanjakan mata dengan panorama mempesona. Dunia tampak luar biasa luas dari sini. Saat aku menatap lautan biru terhampar, aku merasakan keindahan semesta di setiap penjuru arah. Di kanan, Pantai Liman terbentang tenang dengan pasir putihnya yang melengkung elegan. Di kiri, sebuah pantai lain yang sangat mirip Pantai Liman berdiri sebagai bayangannya. Di belakang, rangkaian pegunungan hijau menjulang kokoh, dan di depan sana, hamparan lautan biru membentang tak berujung. Sejenak aku terdiam, menyalurkan rasa tak percaya bahwa aku sedang berada di titik yang begitu indah, sendirian, ditemani angin dan semesta. Aku mengucap syukur berulang kali kepada Sang Pencipta. Aku juga sangat berterima kasih kepada ‘apa pun’ yang telah mengantarku hingga tiba di tempat ini. Bukit Liman, terima kasih sudah menyambutku.




Aku duduk cukup lama di puncak Bukit Liman. Berbicara pelan dengan sang empunya wilayah, menikmati angin yang menyapu wajah, dan sesekali memejamkan mata untuk merasakan kehadiran semesta lebih dalam. Rasanya seperti menjadi tamu yang sedang dijamu oleh tuan rumah yang penuh welas asih. Tuan rumah seakan ingin aku menemukan banyak fakta menarik lainnya, hingga akhirnya pandanganku fokus pada bayangan pulau besar dari kejauhan. Pulau Rote. Pulau itu sangat menggoda untuk dikunjungi. Aku bertekad suatu saat nanti akan mengunjungi pulau paling selatan wilayah Indonesia itu. Entah berapa lama aku larut dalam kontemplasi. Waktu tak terasa berlalu, hingga sinar mentari mulai menyentuh punggungku perlahan. Aku tahu sudah waktunya turun, sebelum udara berubah panas dan terik mulai menyengat kulit.

Dengan penuh hormat, aku mengucapkan salam perpisahan kepada Bukit Liman. Ada rasa hangat, seolah bukit itu mengizinkanku pergi dengan tenang. Aku berharap suatu hari nanti bisa kembali untuk melihat gemintang dari puncaknya atau mungkin hanya untuk mengulang pertemuan hangat ini. Apa pun itu, yang aku tahu satu hal: Bukit Liman telah menyimpan sebagian kecil dari diriku, dan aku membawa pulang sebagian kecil dari bukit itu bersamaku. Terima kasih, Bukit Liman, telah menerima kehadiranku dengan begitu ramah. Semoga kita berjumpa lagi.
Menutup Jejak Di Pulau Semau
Saat mentari tepat di atas kepala, kami mulai berkemas. Suasana penginapan yang sejak pagi dipenuhi tawa perlahan meredup menjadi kesibukan yang teratur. Satu per satu barang dimasukkan ke dalam tas, ke dalam mobil. Namun, ada sesuatu yang justru terasa tertinggal, rasa enggan. Perjalanan ini bukan sekadar tugas, melainkan rangkaian momen yang ditenun oleh alam Pulau Semau untuk dijadikan sebagai pelajaran hidup. Dengan langkah yang sedikit berat, kami meninggalkan Pantai Liman yang sejak pagi menyinari dengan kehangatannya.

Sebelum benar-benar meninggalkan penginapan, aku sempat menoleh ke belakang, seolah ingin memastikan bahwa semua keindahan yang kutemui di Pulau Semau benar-benar tersimpan dalam ingatan. Barulah setelah itu, perjalanan menuju Pelabuhan Hansisi dimulai. Perjalanan menuju Pelabuhan Hansisi memakan waktu sekitar satu setengah jam. Jalanan tanah berbatu yang kami lewati terasa berbeda, seakan setiap tikungan menyapa kami untuk terakhir kalinya.
Di dalam mobil, pikiranku dipenuhi berbagai rasa: senang karena telah menuntaskan tugas, sedih karena harus berpisah dengan keindahan yang baru saja kukenal, dan hening yang hadir sebagai tanda bahwa pengalaman ini akan mengendap lama di ingatan. Aku meninggalkan jejak-jejak kecil di Pulau Semau, di Pantai Liman dan bukitnya yang pekat dengan misteri, di Pantai Otan yang sunyi, dan di Kolam Uisimu yang mengajarkan banyak hal.

Sesampainya di Pelabuhan Hansisi, kami menemukan kerumunan orang yang sedang menunggu kapal. Dari kejauhan, tampak kapal yang seharusnya kami tumpangi terparkir tak berdaya, rusak dan tak bisa beroperasi. Ada rasa jengkel bercampur lelah, tetapi di balik itu terselip firasat seolah semesta belum mengizinkan kami pergi. Angin laut yang berhembus membawa aroma asin, seakan memintaku untuk tinggal sedikit lebih lama. Namun, waktu terus berputar, dan kami harus tetap melanjutkan perjalanan pulang.

Setelah berdiskusi, keputusan pun diambil. Kami harus membagi diri menjadi dua tim. Satu tim tetap menjaga mobil sambil menunggu kapal diperbaiki, sementara tim lainnya termasuk aku akan pulang menggunakan perahu klotok, kapal kayu milik nelayan. Keputusan ini diambil karena kami tetap harus melanjutkan rutinitas kerja esok hari.
Saat kaki ini melangkah ke atas kapal yang bergoyang, ada rasa aneh yang menelusup. Seperti melangkah keluar dari sebuah cerita yang belum selesai. Namun, mesin klotok akhirnya benar-benar menutup bab cerita di Pulau Semau. Klotok itu bergerak perlahan meninggalkan dermaga, dan bersamaan dengan itu aku meninggalkan jejak terakhirku di Pulau Semau.

Perjalanan laut terasa menegangkan. Ombak kecil yang memukul lambung kapal membuat detak jantungku berayun tak beraturan. Maklum, aku tak bisa berenang. Setiap gerakan kapal kurasakan penuh, seakan-akan Selat Semau ingin menguji keberanianku untuk terakhir kali. Meskipun demikian, dalam ketegangan itu laut juga memberi keteduhan. Angin sore mengusap wajah, dan pemandangan Pulau Semau yang perlahan memudar membuatku sadar betapa singkat dan berartinya perjalanan ini. Hingga akhirnya, setelah sekitar setengah jam perjalanan menembus arus Selat Semau, klotok kami merapat di Pelabuhan Tenau. Alhamdulillah, kami tiba dengan selamat.

Di Pelabuhan Tenau, kami dijemput dua mobil kantor. Kami kembali ke Kanwil Ditjen Imigrasi NTT untuk berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Perjalanan ini mungkin hanya beberapa hari, tetapi meninggalkan kesan yang seolah menambah satu bab baru dalam hidupku. Tugas kali ini bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan, tetapi tentang menemukan hal-hal yang tak tertulis di rencana perjalanan. Surga-surga tersembunyi, pelajaran hidup yang muncul tanpa dipanggil, dan rasa syukur atas kesempatan melihat Indonesia dari sisi yang tak pernah terlihat sebelumnya. Terima kasih, Pulau Semau. Sampai bertemu pada jejak berikutnya.







