Menggapai Mimpi Di Tanah Flores: Cunca Plias, Tiwu Galong, Kolam Di Atas Awan, dan Senja yang Dirindukan
Setiap perjalanan selalu menyimpan kisahnya sendiri. Ada yang sekadar menjadi jejak di peta, ada yang mengendap jadi kenangan, dan ada pula yang tanpa disadari mengajarkan cara baru dalam memandang sebuah tempat. Langkahku kali ini kembali menapak di Tanah Flores untuk ketiga kalinya, sekaligus kunjungan kedua di Labuan Bajo. Rencananya, selama tiga hari dua malam ini aku akan kembali berada di Negeri Seribu Sunset dalam bingkai tanggung jawab yang harus dituntaskan dengan sepenuh hati. Namun, dalam jeda di luar bingkai tanggung jawab itu, Flores selalu punya cara menyapa. Catatan ini tentang cerita kecil yang tumbuh di antara jeda kewajiban: tentang kenangan yang muncul kembali di permukaan, tentang sebuah mimpi yang akhirnya menemukan jalannya untuk diwujudkan, dan tentang harapan untuk menatap senja yang dulu dirindukan.
Kesempatan Mengenal Flores Lebih Jauh
Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya meninggi ketika aku dan rombongan tiba di Bandara El Tari, Kupang. Suasana bandara sudah cukup ramai dipenuhi orang-orang dengan kesibukan masing-masing. Di antara mereka, aku membawa semangat yang sedikit berbeda.
Perjalanan kali ini bukanlah perjalanan untuk berlibur, melainkan menjalankan tanggung jawab yang membawaku kembali ke Labuan Bajo selama tiga hari dua malam.
Tepat sekitar pukul 07.00 WITA, pesawat yang kami tumpangi lepas landas meninggalkan Pulau Timor dan membawa berbagai harapan yang terbang bersama awan cirrus di cakrawala. Dari balik jendela, hamparan laut biru perlahan menggantikan daratan yang semakin mengecil. Perjalanan udara menuju Flores hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam, tetapi pemandangan sepanjang penerbangan selalu berhasil mengingatkanku bahwa Indonesia memang dianugerahi bentang alam yang luar biasa.
Sekitar pukul 08.30 WITA, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Komodo. Udara hangat khas Labuan Bajo langsung menyambut begitu pintu pesawat dibuka. Meski baru tiba, kami tidak memiliki banyak waktu untuk menikmati suasana karena agenda pertama sudah menanti dan harus segera diselesaikan.

Di bandara, kami langsung menuju Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Udara Labuan Bajo untuk menjalankan agenda yang telah dijadwalkan. Sebagaimana mestinya tanggung jawab, seluruh kegiatan hari itu menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan dengan baik. Syukurlah, seluruh rangkaian agenda pada sesi pagi berjalan lancar hingga menjelang siang.
Saat semua tanggung jawab telah diselesaikan, waktu masih menunjukkan pukul 10.00 WITA. Hotel tempat kami menginap baru melayani proses check-in mulai pukul 14.00 WITA, sementara agenda berikutnya baru akan dilaksanakan sore hari setelah seluruh rombongan beristirahat sejenak di hotel. Artinya, masih ada jeda waktu sekitar empat jam yang belum terisi.
Daripada menghabiskan waktu hanya dengan menunggu di sekitar hotel, kami mulai berdiskusi mencari kegiatan yang dapat dilakukan tanpa mengganggu jadwal yang sudah tersusun. Sebab kesempatan berada di Flores terlalu berharga jika hanya dihabiskan dengan duduk menunggu waktu berlalu.
Setelah berdiskusi singkat, kami sepakat memanfaatkan waktu luang tersebut untuk mengunjungi Desa Wae Lolos. Beberapa rekan yang pernah mendengar tentang desa itu mengatakan bahwa Wae Lolos memiliki panorama alam yang masih sangat alami dengan beberapa cunca atau air terjun yang menarik untuk dijelajahi. Musabab waktu yang tersedia masih cukup panjang, rencana itu terasa masuk akal.
Kunjungan tersebut kami lakukan sebagai kegiatan pribadi untuk mengisi waktu luang sebelum agenda sore dimulai, sehingga tidak menjadi bagian dari rangkaian tanggung jawab. Bagiku, setiap kali berkesempatan mengunjungi daerah baru, selalu ada rasa ingin tahu untuk mengenal lebih dekat dengan alam dan kehidupan masyarakatnya. Tidak harus mengunjungi tempat yang sudah terkenal, justru lokasi-lokasi yang masih tenang sering kali menyimpan pengalaman yang lebih berkesan. Dengan rasa penasaran itulah kami meninggalkan pusat Kota Labuan Bajo dan mulai bergerak menuju kawasan perbukitan tempat Desa Wae Lolos berada.

Semakin jauh kendaraan melaju, pemandangan di sepanjang perjalanan perlahan berubah. Hiruk pikuk kawasan wisata Labuan Bajo mulai tergantikan oleh jalan yang berkelok mengikuti kontur perbukitan, hamparan pepohonan hijau, serta rumah-rumah penduduk yang berdiri sederhana di tepi jalan. Sesekali terlihat anak-anak bermain di halaman rumah, sementara beberapa warga melanjutkan aktivitas mereka tanpa tergesa-gesa.
Udara yang berembus melalui jendela kendaraan terasa lebih sejuk dan membawa aroma tanah yang khas. Suasana yang tenang itu menghadirkan kesan bahwa Flores memiliki wajah lain yang mungkin tidak banyak dikenal oleh wisatawan yang hanya singgah di pusat kota. Di balik popularitas Labuan Bajo, ternyata masih tersimpan sudut-sudut alam yang menawarkan keteduhan, keheningan, dan keindahan yang sederhana.
Saat kendaraan akhirnya memasuki kawasan Desa Wae Lolos, aku belum menyadari bahwa langkah kecil yang akan dimulai dari tempat itu kelak menjadi salah satu bagian paling berkesan dari seluruh perjalananku di Tanah Flores.
Treking Menyusuri Desa Wae Lolos
Sekitar pukul 11.00 WITA, kendaraan kami akhirnya berhenti di area pos sekretariat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias, Desa Wae Lolos. Di balik pos pendaftaran yang bersahaja itu, pemandangan khas pegunungan Manggarai Barat terhampar dengan cantiknya.
Desa ini dijuluki sebagai desa “Seribu Air Terjun”, sebuah nama yang tidak berlebihan mengingat kawasan ini dikelilingi oleh hutan tropis yang rindang, pepohonan mahoni serta kemiri milik warga, hamparan persawahan terasering yang membingkai lereng perbukitan dengan teduh, dan tentu saja banyak cunca yang bisa dijumpai. Udara sejuk pegunungan langsung menyapa kulit, sementara dari kejauhan comulus mulai melambai pada pegunungan di depan, menciptakan keheningan alami yang seketika meluruhkan penat perjalanan.

Sebelum melangkah, kami mendapat gambaran singkat dari pemandu lokal mengenai rute yang akan dilalui. Medan yang membentang ternyata cukup menantang: sebuah trekking menembus hutan, jalur naik-turun, dan menyusuri aliran sungai sekitar 30 hingga 45 menit sebelum akhirnya tiba di titik puncak tujuan kami.
Menurut penuturan mereka, sepanjang rute ini kami akan melewati beberapa tingkatan air terjun dan kolam alami yang masih sangat asri. Rencananya, sebelum mencapai tujuan utama di Kolam Di Atas Awan, kami akan menyusuri air terjun Cunca Plias 01, melewati Cunca Plias 02, lalu menyeberangi ketenangan Tiwu Galong, hingga akhirnya menjejak di titik akhir yang dirindukan. Dengan rasa penasaran yang kian meluap dan bekal semangat yang terisi penuh, langkah kami pun resmi dimulai membelah rimbunnya pepohonan Wae Lolos.

Jalur Menantang
Usai menyelesaikan proses pendaftaran, langkah kami resmi dimulai menyusuri jalanan yang masih beralaskan cor semen. Di sisi kiri jalan, terhampar lahan warga yang diselingi komoditas lokal khas perbukitan Manggarai Barat, seperti pohon cengkeh, kompi atau kemiri, pohon cokelat (kakao), hingga tanaman kopi yang tumbuh subur menancap di tanah Flores.
Sementara di sisi kanan, semak belukar yang rindang menjadi pembatas alami. Jauh di hadapan kami, berdiri gagah benteng perbukitan hijau yang puncaknya dihiasi gumpalan awan putih tipis. Jalur berbeton yang didominasi kontur menurun ini perlahan membawa kami melangkah semakin jauh meninggalkan pemukiman warga, menuju rimba Wae Lolos yang hening.


Tak berselang lama, landasan cor semen berakhir dan berganti menjadi jalanan tanah padat. Vegetasi di sekeliling kami mendadak berubah menjadi jauh lebih rimbun, memeluk alur perjalanan dengan sangat rapat. Meski sengatan terik matahari Flores terasa begitu dahsyat di atas sana, tetapi kanopi alami dari pepohonan rimba bertindak bagai atap pelindung yang menaungi tiap helai napas kami.
Di tengah langkah yang terus bergerak, rasa penasaran mulai berbisik halus di dalam kepala. Cunca, kata sang pemandu. Ya, sebuah air terjun. Namun, entah seperti apa pesonanya kali ini? Ingatanku seketika melayang pada deretan air terjun yang pernah kusinggahi di tempat lain, seperti Curug Putri di Palutungan, Curug Ngelay, hingga Curug Cipayung. Setiap air terjun yang pernah kujumpai selalu membawa ciri khasnya masing-masing, atau setidaknya menyisakan ‘rasa’ yang unik di dalam ingatan. Kira-kira, rasa seperti apa yang akan disuguhkan oleh belantara Flores kali ini?
Belum sempat pertanyaan dalam hati itu menemukan jawabannya, trek yang kami lalui mulai memperlihatkan wujud aslinya yang kian menantang. Jalur tanah semakin menyempit, diapit oleh tebing tebal bervegetasi rapat di sisi kanan dan jurang curam di sisi kiri. Di pertengahan rute, kami harus melangkah ekstra hati-hati melintasi jembatan kayu dan bambu yang dibangun menempel rapat pada dinding tebing.


Kontur jalan yang meliuk dan naik-turun dengan curam memaksa jemari ini sesekali erat menggenggam titian pegangan bambu di pinggir jalur. Gemercik air yang samar-samar mulai terdengar di sebelah kiri seolah menandakan bahwa objek yang dicari sudah berada sangat dekat.
Namun, ada satu hal yang membuatku keheranan: mengapa langkah kaki ini rasanya justru semakin menjauh dari riuh gemericik air tersebut? Bukankah tujuan kami adalah air terjun itu? Mengapa alih-alih mendekat, suaranya justru perlahan mengayup dan menghilang ditelan lebatnya hutan? Melihat raut wajahku yang dipenuhi tanda tanya, pemandu lokal yang berjalan mengawal kami akhirnya tersenyum dan memberikan penjelasan.
Ia menceritakan bahwa strategi perjalanan ini sengaja membawa kami menuju Kolam Di Atas Awan terlebih dahulu sebagai titik terjauh. Nanti, ketika arah pulang, barulah kami dapat singgah meluapkan kegembiraan di setiap air terjun yang akan kami lewati. Kami bisa menikmati segarnya air tanpa perlu khawatir pakaian basah mengganggu perjalanan berangkat. Penjelasan sederhana itu seketika menuntaskan kebingunganku, sekaligus membakar kembali semangat kami untuk terus menanjak menuju puncak tertinggi.
Kolam Di Atas Awan yang Menawan
Setelah menempuh perjalanan yang menguras tenaga selama kurang lebih 30 menit, langkah kami akhirnya terhenti di titik puncak: Kolam Di Atas Awan. Sebuah bentang alam tak biasa menyapa pandangan dengan begitu megah.
Kolam alami berair jernih itu berada persis di bibir tebing ketinggian, dengan batuan hitam yang membingkai tepiannya secara alami. Airnya yang tenang memantulkan warna langit Flores, sementara limpasan airnya meluncur bebas menuju jurang di bawah sana, membentuk cunca yang gagah.
Dari tepi kolam ini, pemandangan lembah hijau yang membentang luas di bawahnya dan benteng perbukitan Manggarai Barat terhampar tanpa batas. Berdiri di sisinya benar-benar menghadirkan sensasi seolah sedang berada di atas awan, di mana batas antara bumi dan langit terasa menyatu dalam keheningan yang anggun.

Kecantikan tempat ini rupanya telah menyihir banyak orang. Di sekitar kolam, tampak beberapa pengunjung sedang berfose mengabadikan momen, bahkan tak sedikit wisatawan mancanegara yang rela datang jauh-jauh untuk menikmati pesona tempat ini secara langsung. Beberapa rekan dari rombongan kami pun antusias berbaris, mengantre giliran demi mendapatkan sudut foto terbaik sebagai kenang-kenangan.
Namun, entah mengapa, aku justru tidak tergerak untuk ikut berswafoto di tempat yang sangat populer itu. Langkahku lebih memilih hening, membawaku berdiri sedikit menarik diri ke tepi, membiarkan mata ini leluasa menatap lepas ke arah pegunungan hijau yang berdiri gagah di seberang sana.

Di tengah angin sejuk yang berembus pelan membelai wajah, pikiranku mendadak melayang jauh. Aku membayangkan betapa tenangnya jika suatu saat bisa menghabiskan malam di sini, mendirikan tenda dan menikmati keheningan malam Flores di tepi kolam. Namun, mataku yang menyapu sekeliling tak menemukan adanya tanah lapang yang cukup landai untuk sekadar membangun tempat bernaung. Aku tersenyum kecil dalam hati, menyadari bahwa bayangan itu mungkin hanyalah angin lalu yang sekadar melintas. Lagi pula, keberadaanku di sini hanyalah untuk mengisi jeda waktu luang sebelum tugas utama menanti.
Sebuah keinginan sederhana yang rasanya terlalu mustahil untuk terwujud dalam kesempatan ini. Meski begitu, hidup selalu punya cara untuk memberi kejutan. Mungkinkah suatu hari nanti aku benar-benar bisa kembali dan bermalam di tempat ini? Entahlah. Biarlah waktu dan takdir yang menyimpan jawabannya.
Tiwu Galong yang Menyimpan Ketenangan
Puas meresapi keindahan Kolam Di Atas Awan, kami akhirnya memutuskan untuk berputar arah dan kembali menyusuri rute semula. Perjalanan pulang ini sekaligus membawa kami menuju destinasi berikutnya yang telah direncanakan. Sesuai dengan urutan yang dijelaskan pemandu sejak awal, titik pemberhentian kami selanjutnya adalah Tiwu Galong.
Langkah kaki kembali menjejak mantap di atas jalan setapak tanah, membelah rindangnya kanopi hutan Wae Lolos yang kini terasa lebih ramah karena mulai terbiasa. Tak butuh waktu lama, kami pun tiba di lokasi Tiwu Galong. Saat memandangnya lebih dekat, barulah aku menyadari bahwa tempat ini sebenarnya sudah kami lewati ketika berangkat tadi. Namun, saat itu aku tidak begitu menyadarinya karena suasana Tiwu Galong yang begitu hening dan bersahaja.

Tempat ini berupa ceruk kedung atau kolam sungai alami dengan cerukan air yang jernih berwarna hijau kebiruan. Aliran airnya sangat tenang, nyaris tanpa riak, diapit oleh tebing-tebing batu alam yang kokoh serta pepohonan rindang yang menaungi permukaannya, menciptakan lanskap yang sangat teduh dan menenangkan jiwa.
Tiwu Galong sendiri merupakan bahasa lokal Manggarai yang memiliki arti sangat erat dengan karakteristik alamnya. Kata Tiwu berarti “kolam” atau “kedung air”, sedangkan Galong merujuk pada bentuknya yang melengkung atau memanjang dengan kedalaman tertentu. Menurut penuturan warga sekitar, tempat ini secara turun-temurun dikenal sebagai salah satu titik perairan alami yang sakral dan dijaga keasriannya oleh masyarakat Desa Wae Lolos. Kedalamannya yang tenang menyimpan keseimbangan ekosistem hutan sekitar, menjadikannya oase ketenangan di tengah riuhnya aliran sungai perbukitan.

Melihat jernihnya air yang memantulkan bayangan hijau dedaunan, sempat terbersit keinginan kuat di dalam dada untuk membasahi diri dan merasakan segarnya air Tiwu Galong. Namun, niat itu terpaksa kuurungkan karena menyadari keterbatasanku yang tidak bisa berenang. Sebagai gantinya, bayangan untuk bisa berkemah dan menghabiskan malam di tepi tiwu yang sunyi ini justru kembali menyeruak di dalam pikiran.
Aku sempat terdiam cukup lama, berdiri mematung menatap permukaan air Tiwu Galong yang begitu menenangkan, membiarkan rombongan melangkah mendahuluiku dan membiarkan beberapa pengunjung lain berlalu-lalang di sekitar. Di tengah suasana yang sangat tenang itu, pikiranku kembali berkelana. Hingga akhirnya aku tersadar dari lamunan pendek tersebut, mengembangkan napas panjang, dan kembali melangkah menyusul rombongan untuk melanjutkan perjalanan.
Cunca Plias Di Tengah Sunyi
Di tengah perjalanan menuju titik selanjutnya, barisan rombongan kami perlahan mulai terpecah menjadi beberapa bagian. Ada yang melangkah cepat jauh di depan, dan ada pula yang santai tertinggal di belakang. Tak berapa lama, rombongan kecil di depanku kembali terbagi dua. Sebagian terus berjalan lurus menyusuri jalur utama, sementara beberapa rekan lainnya memilih melipir ke sisi kanan jalur, sedikit menuruni jalanan curam ke arah jurang.
Rombongan yang belok ke kanan itu rupanya menuju destinasi selanjutnya (sepertinya Cunca Plias 02 atau Tiwu Plias), yaitu tingkatan air terjun yang berada persis di bawah aliran Tiwu Galong. Namun, saat itu aku belum mengetahuinya, sehingga langkahku memilih untuk terus lurus menyusuri jalan utama.
Mengikuti jalur lurus berarti membawaku menuju destinasi air terjun terakhir sebelum kembali ke pos, yaitu Cunca Plias 01. Saat perjalanan berangkat tadi, aku memang sempat melihat plang penunjuk arahnya. Mengetahui bahwa titik di depan adalah Cunca Plias 01, langkah kakiku kian dipercepat. Ada rasa rindu yang membuncah di dalam dada untuk segera berdiri di hadapan air terjun, meresapi kembali keindahannya setelah sekian lama tak menjejak di tempat seperti itu.

Di tengah langkah lurus itu, sayup-sayup terdengar suara teriakan kegembiraan dari rombongan yang tadi melipir ke bawah sana, berpadu dengan gemericik air yang samar. Rasa menyesal mendadak menyelinap halus dalam hati. Mengapa tadi aku tidak ikut menuruni jalur kanan itu dulu? Siapa tahu di bawah sana ada keindahan air terjun yang juga tak kalah memukau. Namun, nasi telah menjadi bubur, aku memilih menepis rasa penasaran itu dan terus melangkah maju.
Hingga akhirnya, rasa lelah itu terbayar tuntas saat langkahku tiba di Cunca Plias 01. Sebuah pemandangan yang begitu menyegarkan terhampar di depan mata. Cunca Plias 01 menyuguhkan tebing batu hitam yang gagah dengan aliran air jernih yang jatuh membelah dinding batu, mengalir menuju sungai dangkal bebatuan di bawahnya. Suasana di sekitarnya begitu tenang dan alami, dinaungi oleh lebatnya vegetasi hutan yang membentang luas. Gemericik air yang jatuh menghantam batuan sungai bergema lembut di tengah kesunyian perbukitan Wae Lolos, menghadirkan atmosfer yang sangat damai.

Tanpa berpikir panjang, aku segera melangkah masuk menyusuri aliran sungai dangkalnya. Keinginan untuk melompat dan berenang sejenak sempat melintas, tetapi aku menyadari akan merepotkan jika harus melanjutkan perjalanan nanti dengan pakaian yang basah kuyup. Maka, aku memutuskan untuk menikmati keindahan ini dalam keadaan tetap kering.
Aku berjalan mendekat ke arah pancuran air terjun melalui tebing batu di sampingnya, membiarkan hempasan angin lembap yang membawa bulir-bulir air dingin menerpa lembut wajahku. Suara gemuruhnya yang menenangkan seketika menuntaskan rindu yang sejak awal kupendam. Setelah puas meresapi kesegaran Cunca Plias 01 dan mengabadikan momen di sana, aku pun berbalik arah, melangkah mantap menyusuri jalur kembali menuju pos sekretariat.
Menumbuhkan Ingatan
Usai melepas lelah sejenak di pos pendaftaran dan memastikan seluruh anggota rombongan berkumpul tanpa ada yang tertinggal, kami memutuskan untuk kembali bergerak menuju pusat Kota Labuan Bajo. Kendaraan melaju perlahan meninggalkan keheningan perbukitan Wae Lolos, membawa kami menuju penginapan untuk bersiap menghadapi agenda tugas berikutnya.
Di sepanjang perjalanan pulang, pandanganku terlempar keluar jendela, menatap pepohonan yang perlahan melaju surut. Langkah-langkah kecil yang baru saja tuntas di bumi Flores ini rupanya tidak sekadar meninggalkan jejak fisik, melainkan seperti mengetuk pintu ruang sunyi di dalam ingatan. Membuka kembali lembar demi lembar kenangan masa lalu yang tersimpan rapi.

Perjalanan menembus rimbunnya hutan dan dinginnya aliran sungai Wae Lolos seketika menerbangkan ingatanku pada sebuah masa. Momen itu membawaku kembali pada kenangan ketika aku melangkah bersama rekan-rekan seperjuangan di Lembaga tempatku bertumbuh dulu, sebuah ruang yang pernah mengajarkan arti integritas dan kebersamaan yang kokoh. Aku teringat tawa dan peluh saat kami bersama-sama menyusuri jajaran leuwi berair jernih di pelosok Bogor, menembus trek alami yang menguji ketahanan. Menyusuri jalur Flores hari ini terasa seperti memutar kembali pita kenangan manis itu, menghadirkan rasa hangat yang serupa di antara jejak-jejak langkah yang pernah terukir bersama.

Tidak hanya itu, gemericik cunca yang menghantam tebing batu juga memanggil kembali ingatan tentang tanah kelahiran. Langkah-langkah di Wae Lolos secara perlahan memunculkan nostalgia saat dulu aku sering menjelajahi sudut-sudut Curug yang tersembunyi di Kabupaten Kuningan, sebuah tempat yang dekat dengan kampung halaman. Aroma tanah basah, keheningan rimba, dan dinginnya air seolah membawaku pulang sejenak ke kampung halaman. Di tengah perantauan yang cukup jauh, bayangan tentang rumah hadir begitu dekat, memberikan rasa nyaman dan damai yang sulit dijelaskan. Flores, dengan caranya yang begitu lembut, telah menjadi perantara yang mempertemukanku kembali dengan kenangan di kampung halaman.
Di atas segala ingatan, perjalanan singkat di jeda waktu luang ini bertindak bagai pemantik bagi mimpi yang pernah kupendam. Ingatanku melayang pada kunjungan pertama ke Labuan Bajo beberapa waktu lalu. Saat itu, harapan sederhana yang tercipta terpaksa kubawa pulang sebagai penyesalan: menikmati mentari terbenam dari ketinggian Puncak Waringin. Berada kembali di tanah ini, melihat bagaimana tekad-tekad kecil di Wae Lolos bisa terpenuhi, perlahan membuka kembali pintu kemungkinan yang dulu sempat tertutup rapat. Walau belum tahu pasti apakah sore nanti langit akan bersahabat dan mengizinkan keinginan itu menjadi nyata, perjalanan hari ini telah berhasil menumbuhkan kembali asa. Senja yang dulu begitu dirindukan, kini terasa bergerak makin dekat, menunggu saat yang tepat untuk disapa.
Menggapai Senja yang Dirindukan
Setibanya di hotel, kami memanjakan diri sejenak untuk melepaskan lelah dan membersihkan badan setelah penjelajahan di Wae Lolos. Tanpa menunda waktu, kami langsung beralih memfokuskan diri pada prioritas utama: menyelesaikan persiapan bahan dan berkas untuk agenda esok hari. Berkat kerja sama dan koordinasi yang baik, seluruh bahan dan materi yang dibutuhkan berhasil dirampungkan dengan cepat dan lancar. Dengan tuntasnya tanggung jawab tersebut, sore itu kami resmi tinggal menunggu jadwal kegiatan esok pagi.
Di saat matahari mulai bergerak condong ke ufuk barat, keinginan lama itu kembali berbisik kuat di dalam dada: aku ingin segera menuju Puncak Waringin untuk menatap senja yang dirindukan. Namun, tentu tidak semudah itu. Jarak hotel yang cukup jauh dan keputusan rombongan untuk mencari tempat makan sekaligus menikmati sore bersama, membuatku hanya bisa pasrah mengalir mengikuti keadaan.
Rasa lapar yang mengusik sejak pagi membuat kami bergegas menuju tempat makan yang telah disepakati. Kendaraan melaju menyusuri kawasan pesisir, hingga akhirnya berhenti di sebuah tempat makan. Siapa sangka, di balik kepasrahanku, takdir ternyata menyimpan kejutan manis. Tempat makan ini ternyata berdiri tepat di deretan kawasan Puncak Waringin, berada di ketinggian kontur jalan yang sejajar dan menyuguhkan sudut pandang lanskap yang sama persis.

Tempat makan bergaya modern dengan area outdoor terbuka ini menghadap langsung ke arah barat laut Labuan Bajo, tempat tenggelamnya sang mentari. Kami pun mengambil tempat duduk terbaik, memesan hidangan untuk memulihkan tenaga, sambil membiarkan mata ini leluasa menatap hamparan laut luas yang bertabur pulau-pulau kecil di kejauhan.
Matahari sore perlahan mulai tenggelam, membiaskan semburat jingga, keemasan, hingga keunguan yang meleleh lembut di atas permukaan laut. Siluet kapal-kapal pinisi yang bersandar tenang di dermaga dan tiupan angin pantai yang sejuk makin melengkapi magisnya suasana. Dari sudut ini, aku berdiri diam meresapi detik demi detik perubahan warna langit Flores.


Meski langkahku tidak secara fisik berpijak di dalam area bangunan Puncak Waringin, lanskap dan keindahan senja yang kunikmati adalah keindahan yang sama persis. Sebuah panorama yang dulu hanya bisa kubayangkan dengan rasa sesal. Sore itu, dengan penuh rasa syukur, aku menganggap mimpi sederhanaku untuk merangkul senja di Puncak Waringin telah tergapai dengan tuntas dan sempurna.
Kami menghabiskan waktu di tempat itu hingga temaram sore benar-benar berganti menjadi malam yang pekat dan lampu-lampu kapal mulai berpendar terang di atas laut. Setelahnya, kami pun melangkah kembali menuju hotel untuk beristirahat. Malam itu, di ambang lelap menjelang tidur, bayangan perjalanan hari pertama ini berputar kembali di dalam ingatan.

Senja yang dulu dirindukan kini telah resmi menjadi kenangan manis yang nyata. Dari atas tempat tidur yang tenang, pikiranku perlahan melayang pada daftar mimpi-mimpi lainnya yang pernah kupendam saat kunjungan pertama di Labuan Bajo dulu. Semoga esok pagi, mentari yang terbit mampu membawaku melangkah lebih jauh, memeluk dan mewujudkan mimpi-mimpi yang masih menunggu di depan sana.







