Menikmati Keindahan Leuwi Benjol, Leuwi Hejo, Leuwi Cepet, dan Leuwi Lieuk dalam Sekali Trekking
Sabtu, 18 Januari 2025. Pukul 05.00 WIB. Aku sudah siap memacu sepeda motorku untuk membelah dinginnya pagi. Rintik hujan tak menghalangi langkahku untuk terus melanjutkan sebuah rencana penjelajahan. Rencana yang sudah disepakati bersama dengan teman-temanku. Pada penjelajahan kali ini, aku akan menyambangi empat destinasi wisata alam yang ada di Bogor, yaitu Leuwi Benjol, Leuwi Hejo, Leuwi Cepet, dan Leuwi Lieuk. Ini akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan untukku. Sebab seingatku, terakhir kali aku melakukan trekking bersama teman-teman, itu dilakukan sekitar 12 tahun yang lalu. Aku memang jarang melakuan perjalanan dengan banyak orang, paling hanya dengan satu atau dua orang saja. Itu pun dengan orang-orang yang sudah kenal baik denganku. Maka dari itu, penjelajahan kali ini akan terasa berbeda dari sebelumnya.
Sebuah Rencana
Penjelajahan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan sudah direncanakan jauh-jauh hari, beberapa bulan yang lalu tepatnya. Saat itu, aku dan teman-teman kerja dari Satgas yang sama mulai membicarakan sebuah petualangan untuk menyegarkan pikiran. Petualangan yang juga bertujuan untuk mempererat tali persahabatan di antara kami sehingga membuat lingkungan kerja menjadi lebih hangat.
Kami sepakat untuk melakukan perjalanan/trekking ringan dengan rute yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu panjang, bisa diselesaikan hanya dengan waktu 1-3 jam saja agar kami tak kelelahan. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah informasi mengenai tempat yang dicari. Kebetulan juga ada perusahaan tour dan traveling yang menyediakan perjalanan ke tempat tersebut. Bahkan, bukan hanya satu tempat, melainkan empat tempat sekaligus dalam satu trekking.

Seperti mendapat angin segar, kami semua setuju menggunakan jasa traveling tersebut untuk menuju tempat itu. Kelebihan dari menggunakan jasa ini, selain mendapat tour guide berpengalaman, juga bisa mencegah kami dari pungli. Hal ini dikarenakan guide yang akan mengantar kami adalah warga sekitar. Musabab pertimbangan inilah kami langsung sepakat.
Setelah menentukan tempat, tibalah kami pada pembahasan yang lebih sulit, yaitu menentukan waktu keberangkatan. Tentu saja ini akan menjadi pembahasan yang sangat sulit karena kami harus menyesuaikan dengan jadwal masing-masing agar semuanya bisa ikut. Setelah melewati beberapa kali diskusi, menunda waktu pemberangkatan, hingga penjadwalan ulang, akhirnya kami sepakat untuk melakukan trekking di tanggal 18 Januari 2025.
Namun, rencana hanyalah rencana. Bisa berubah sewaktu-waktu. Awalnya kami semua bisa mengikuti trekking pada tanggal yang sudah ditentukan, tetapi sehari sebelum melakukan trekking, beberapa teman kami mengundurkan diri, tidak bisa ikut karena suatu hal. Kami tidak bisa mengundur atau menjadwalkan ulang waktu keberangkatan karena sudah mendaftar untuk trekking di tanggal tersebut. Alhasil, enam dari lima belas orang di Satgas kami tidak bisa ikut. Jadi, hanya ada sembilan orang (termasuk aku) yang bisa melanjutkan trekking di tanggal tersebut.
Drama Menuju Lokasi
Beberapa hari sebelum hari trekking tiba, hujan turun dengan intens. Bahkan, pada pagi hari ketika aku ingin menuju lokasi, hujan kembali melanda. Sebenarnya aku agak khawatir karena lokasi trekking yang akan kami lalui berada di daerah aliran sungai. Bagaimana kalau terjadi banjir? Bagaimana kalau ada air bah? Bagaimana kalau airnya keruh sehingga tidak indah? Akh! Membayangkannya saja sudah malas.
Pukul 05.00 WIB aku sudah berangkat dari rumah untuk menuju titik kumpul yang berada di Sentul City. Meskipun cuaca sedang tidak bersahabat, tetapi aku masih semangat untuk melanjutkan rencana. Hujan di pagi hari bukan halangan untuk membuatku menyerah. Meskipun sempat terhampat karena hujan, tetapi aku bisa sampai di titik kumpul pada pukul 07.00 WIB, satu jam sebelum waktu yang telah ditentukan. Mantap!

Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya semua teman-temanku sampai, tepat waktu. Dua orang tour guide menghampiri kami, salah seorang memperkenalkan namanya: Bang Bojes dan rekannya (lupa namanya). Mereka kemudian mengantar kami menuju lokasi start trekking yang harus ditempuh menggunakan sepeda motor sekitar 20-30 menit dari titik kumpul. Tak buang-buang waktu, kami pun segera berangkat.
Sesekali gerimis menemani perjalanan kami, membuat rasa khawatir semakin besar. Sebab aku benar-benar takut bila sungai meluap dan airnya kotor. Apalagi ada ancaman bahaya yang mengintai, banjir bandang. Hal tersebut membuat perasaanku tak menentu, menjadi mudah overthinking, dan sedikit lebay layaknya aktor dalam sinetron. Hingga akhirnya, aku menyerahkan semua kepadaNya. Semoga Tuhan tetap menjaga keindahan sungai dan keselamatan kami semua. Aamiin.
Setelah melewati medan jalan yang menanjak, menurun, dan menikung, serta mengabaikan perasaan overthingking, akhirnya aku dan teman-teman sampai di tujuan, lokasi start trekking (kita sebut saja basecamp untuk memudahkan). Di basecamp terdapat dua gerbang tinggi yang digunakan untuk keluar dan masuk kendaraan. Di sampingnya terdapat bangunan untuk staff yang berjaga menerima pembayaran. Masuk ke dalam, ternyata cukup luas. Di mana terdapat tempat parkir untuk motor dan mobil, beberapa warung, serta toilet. Terdapat juga tempat untuk menyewa peralatan trekking seperti trekking pole dan sebagainya.
Mulai Menjelajah
Sebelum mulai trekking, Bang Bojes memandu kami untuk melakukan pemanasan terlebih dulu. Ini sangat penting karena medan yang akan kami lalui cukup berat untuk pemula. Setelah semua anggota tubuh menghangat, kami sudah siap untuk melakukan penjelajahan. Empat destinasi, bersama sembilan orang, dalam satu hari. Gaaassss!
Jalan setapak yang terbuat dari tanah dan dibasahi oleh hujan, menanti di depan sana. Kami dihadapkan banyak turunan diawal perjalanan. Andaikan saja jalanan tidak basah, tentu kami akan dengan mudah melewatinya. Namun, hujan menyebabkan jalan menjadi becek dan sangat licin. Kami harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Melihat kontur jalan yang tidak terlalu curam, memang tergelincir bukan sesuatu yang membahayakan tetapi bayangkan saja bila kamu jatuh di tengah tanah yang becek, bukan hanya seluruh badan yang kotor tetapi juga rasa malu yang akan kamu dapatkan.

Kondisi jalan sempat membaik ketika kami melewati rumah-rumah warga. Kami pun berjalan dengan santai, menikmati pedesaan yang masih asri. Beberapa warga yang sedang melakukan aktivitas, menyapa kami dengan ramah. Hal ini membuat citra Bogor yang dikenal dengan Kota Pungli, hilang seketika. Sangat jauh dari bayangan banyak orang, tidak ada Pungli di sini. Bahkan, lihat, warga menyapa kami dengan ramahnya. Setelah beberapa puluh meter melintasi pedesaan, kondisi jalan berubah. Persawahan hijau membentang sejauh mata memandang.
Kami kembali dihadapkan jalanan yang menantang, pematang sawah. Sama seperti jalanan tanah, pematang sawah yang harus kami lewati sangat becek dan licin. Hal ini membuat tantangan tersendiri buat kami, apalagi terdapat saluran irigasi di samping pematang, basah kuyup sudah badan ini bila kami terjatuh. Benar saja, beberapa dari kami tumbang, terpleset, jatuh. Untungnya, aku bukan salah satu yang terjatuh. Alhamdulillah… Jangan ditanya seperti apa malunya ketika jatuh. Sebab bukan hanya kelompok kami saja yang melakukan trekking, tetapi juga ada kelompok lain yang melakukan trekking di depan dan belakang kami.

Setelah melewati beberapa puluh meter pematang sawah dengan kontur yang miring, turun, menikung, akhirnya kami sampai di vegetasi baru. Pepohonan rindang meneduhkan. Di sini, kami sudah bisa mendengar suara aliran sungai. Dapat dipastikan bahwa sebentar lagi kami akan sampai di daerah aliran sungai. Kontur tanah yang awalnya curam, menurun, berganti landai. Beberapa menit kemudian kami benar-benar bertemu dengan aliran sungai.
Sungai yang Jernih
Sampai di samping sungai, bunyi air yang mengalir dan menghantam bebatuan sangat mendominasi. Suaranya seakan masuk ke dalam telinga dan menyebar ke seluruh tubuh, membuat energi baru menggantikan energi yang hampir habis. Saat kaki kami melangkah, menyeberangi aliran sungai, airnya terasa sangat menyegarkan. Pijakan kaki pada bebatuan di dasar sungai terasa kokoh, memantapkan langkah kami. Sejenak aku berhenti di tengah sungai. Mengambil air dengan telapak tangan, sebelum akhirnya menyiramkannya pada seluruh wajah. Segar!

Mulai dari sini kami sering bertemu dengan aliran sungai, bahkan beberapa kali kami harus turun dan menyeberanginya. Hal itu tak disia-siakan, aku, dan beberapa dari kami, selalu mengambil kesempatan untuk membasuh muka tatkala turun ke sungai. Aku jadi penasaran, bagaimana rasanya bila berkemah di tepi sungai ini? Mungkin suatu saat nanti, bila ada kesempatan, aku akan melakukannya. Bermalam di tepi sungai yang jernih dengan ditemani gemintang dan suara-suara yang menenangkan.
Di sepanjang perjalanan kami selalu tersenyum gembira. Lelah seakan tak berarti. Hingga di suatu titik, di bawah rindangnya pepohonan, di pinggiran sungai dan dikelilingi bebatuan, di air yang tak mengalir, tanpa sadar aku mengucapkan sebuah kata: Mengagumkan. Air jernih yang berhenti di tepian itu bergradasi dengan warna-warna di dasar sungai. Memancarkan warna biru kehijauan yang mampu memanjakan mata. Tanpa disuruh, aku dan teman-teman segera turun menghampiri titik itu.

Salah satu dari kami mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen ini. Bang Bojes berinisiatif memotret. Jadilah foto kami bersembilan di tempat indah, di tepian sungai yang airnya berwarna biru kehijauan. Sebenarnya aku ingin berenang, tetapi mengingat perjalanan masih cukup panjang, aku mengurungkannya. Aku tak mau melakukan perjalanan dengan kondisi basah kuyup. Nanti saja di destinasi terakhir aku akan berenang, pikirku. Setelah puas bermain air dan berfoto di tempat tersebut, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Mulai dari sini, kami berjalan dengan pakaian yang setengah basah. Bagaimana tidak, kami sangat sering menyeberangi sungai dengan kedalaman hingga setinggi paha. Bahkan, bila kami salah melangkah, kedalaman sungai bisa sampai pinggang. Maka dari itu, kami harus pintar-pintar memilih pijakan di dasar sungai. Berjalan di bebatuan itu merupakan pilihan yang bagus. Namun begitu, meskipun harus jatuh dan basah-basahan, kami tidak akan menyesal karena air sungai ini sangat jernih, menyegarkan.
Tempat Indah itu Bernama Leuwi
Setelah berjalan beberapa lama, kami bertemu kembali dengan titik indah seperti tadi. Bagian sungai yang airnya tenang, berbeda dengan bagian lainnya yang arusnya cukup deras. Penasaran, akhirnya aku pun bertanya kepada Bang Bojes tentang tempat ini. Bang Bojes pun menjelaskan dengan antusias. Setelah mendengarkan penjelasan dari Bang Bojes, akhirnya aku tahu bahwa nama tempat indah tersebut adalah Leuwi.
Leuwi berasal dari bahasa Sunda yang berarti kolam alami atau bagian sungai yang dalam dan tenang. Biasanya leuwi terbentuk secara alami di antara aliran sungai atau di bawah air terjun. Tempat semacam ini banyak ditemukan di sungai-sungai pegunungan yang dihiasi oleh bebatuan. Ada empat leuwi unggulan yang bisa kami temui dalam perjalanan ini, yaitu Leuwi Benjol, Leuwi Hejo, Leuwi Cepet, dan Leuwi Lieuk. Dari keempat leuwi tersebut, Leuwi Hejo adalah yang paling terkenal.

Bang Bojes menjelaskan kalau leuwi yang pertama kami jumpai tadi adalah Leuwi Benjol. Sedangkan leuwi yang saat ini sedang kami nikmati adalah Leuwi Hejo. Berarti masih ada dua leuwi lagi yang akan kami temui, yaitu Leuwi Cepet dan Leuwi Lieuk. Awalnya kami ingin lebih lama di Leuwi Hejo, menikmati setiap kesegaran air dan gradasi warna yang memukau. Namun, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan terlebih dahulu. Nanti ketika pulang, barulah kami bisa menikmati semuanya dengan santai. Rencananya seperti itu.
Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Meniti anak tangga, naik ke atas perbukitan yang rindang. Melewati jajaran warung di samping jalan setapak, yang beberapa terlihat tutup. Terus naik, kondisi di sekitar jalan berubah. Semak belukar dan pepohonan rindang mulai menemani, menghiasi sisi jalan. Beberapa monyet terlihat bergelantungan di salah satu pohon. Suaranya sangat khas untuk menggambarkan bahwa kami sedang berada di dalam hutan.

Kami menyusuri punggungan bukit selama beberapa menit. Berjalan dengan riang menikmati setiap hirupan napas, detak jantung yang kencang, dan ikatan kebersamaan yang erat. Hingga akhirnya kami menemukan turunan. Dapat dipastikan bahwa ujung dari turunan tersebut adalah sungai, sebab dari kejauhan suara alirannya sudah terdengar samar. Benar saja. Beberapa menit setelah melewati turunan dan kelokan, kami pun sampai di tepi sungai. Di seberang sana terlihat tempat indah itu lagi. Kami sampai di destinasi ketiga, Leuwi Cepet.
Menikmati Kegagalan
Kami berhenti di sebuah warung yang berada tepat sebelum turunan terakhir menuju tepian sungai. Sejenak kami duduk di bangku panjang warung tersebut, menyantap beberapa gorengan dan semangkok mie instan. Di bawah sana, tak jauh dari warung, kami bisa melihat Leuwi Cepet dengan sangat jelas. Bentuk sungai menyerupai sebuah lingkaran besar yang airnya tenang. Di salah satu ujungnya, air mengalir dengan deras menerpa formasi bebatuan yang membentuk semacam dinding kolam. Sementara itu, di ujung lainnya yang mengarah ke hulu, terdapat dua buah tebing membentuk lorong. Di tengah lorong tebing itu mengalir dengan tenang aliran sungai, tanpa penghalang. Indah. Dan di ujung lorong sana, bebatuan terjal menghiasi setiap bagian sungai, membentuk jeram-jeram kecil.

Selepas menyantap makanan, rencananya kami ingin segera pergi menuju destinasi terakhir. Namun, kenyataan berkata lain. Salah satu dari kami mengalami kelelahan sehingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Sesaat kami berdiskusi untuk mencari solusi. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk menghentikan penjelajahan. Tak mengapa bila saat ini kami tidak sampai ke Leuwi Lieuk, toh suatu saat nanti kami bisa mencobanya lagi. Selain dari pada itu, hal terpenting yang menjadi pertimbangan adalah kesehatan teman kami.
Percaya atau tidak, permasalahan seperti ini memang bisa saja terjadi, sehingga dapat menghancurkan rencana yang sudah disusun dengan rapi. Pun dalam kehidupan yang kita jalani. Pasti ada masalah menghadang yang bisa menghancurkan rencana indah dalam hidup. Bahkan, tak jarang masalah tersebut sampai membuat kita putus asa. Namun, pegang kata-kataku, percayalah bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambaNya. Percayalah bahwa setiap rencana indah yang telah hancur akan digantikan dengan rencana Tuhan yang jauh lebih indah.

Alih-alih meratapi rencana yang gagal, kami lebih memilih untuk menikmatinya. Ya sudah, tak mengapa bila tidak menyelesaikan perjalanan ini. Tak mengapa bila kami belum bisa menyambangi Leuwi Lieuk. Saat ini yang terpenting adalah menikmati apa yang ada di depan mata, Leuwi Cepet. Beberapa dari kami segera turun ke sungai untuk mandi, menikmati kesegaran air Leuwi Cepet, meluruhkan semua ingatan karena kegagalan ini. Berhasil. Akhirnya beban itu hilang, berganti dengan rasa riang gembira.
Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang ada di ujung lorong, di antara dua tebing itu, yang terlihat banyak bebatuan dan menciptakan air terjun kecil. Namun, sungai di lorong tersebut ternyata sangat dalam, sehingga aku harus merayap di dinding tebing untuk sampai di ujung. Belum lagi terdapat jarak sekitar 5 meter antara ujung tebing dan bebatuan tersebut. Alhasil, aku pun tidak berani untuk memenuhi rasa penasaranku, tentang apa yang ada di ujung lorong sana. Aku takut tenggelam.

Kembali Pulang
Setelah puas menikmati kesegaran air Leuwi Cepet, kami memutuskan untuk kembali, pulang. Pada perjalanan pulang, kami memutuskan untuk melalui jalur evakuasi. Takut teman kami kelelahan lagi. Jadi, kami tidak melalui jalur yang sebelumnya, melainkan jalur evakuasi yang lebih mudah. Sebenarnya ada keuntungan dan kerugian tersendiri ketika melewati jalur ini. Keuntungannya, kami jadi cepat sampai ke tempat parkir. Bahkan ada jalur motor di sini. Kerugiannya, kami tidak bisa menikmati Leuwi Benjol dan Leuwi Hejo yang tadi kami lewati. Sangat disayangkan memang, tetapi apa mau dikata. Kesehatan teman kami jauh lebih penting.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalanan setapak. Tak jarang kami melewati jalur motor yang berupa aspal. Beberapa kali kami juga melewati rumah-rumah warga dan warung yang menjual berbagai macam makanan. Meskipun jaraknya tempuhnya lebih pendek, tetapi rute ini tidak mengurangi tingkat kesulitannya. Kami tetap harus melewati tanjakan, turunan, dan kelokan yang cukup melelahkan. Sesekali kami berhenti untuk memulihkan tenaga. Saat berhenti, diam sejenak, suara yang terdengar hanya desiran angin yang menyejukkan. Teriknya mentari tak mampu membendung kesejukkan hembusan angin yang menerpa wajah.




Setelah beberapa puluh menit menapakkan kaki, melewati jalan aspal, jalan tanah, kemudian jalan aspal lagi. Berubah berkali-kali. Akhirnya kami sampai di basecamp. Alhamdulillah, semuanya selamat. Kami pun segera membersihkan diri lalu menikmati kudapan yang ada di warung sekitar parkiran. Setelah itu, kami berbincang-bincang sejenak, menceritakan pengalaman yang baru saja kami alami. Semuanya sepakat kalau pengalaman kali ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Walaupun kami tidak bisa sampai di titik akhir, tetapi kami tetap merasa bahagia. Bahkan beberapa dari kami ikut berkomentar, mengungkapkan pendapat, pengalaman, dan harapannya.
“Seru, ya! Ini adalah hal yang ga biasa aku lakuin. Unlocked experience. Walaupun ini adalah treking pertama, tapi ga bikin kapok. Untuk firstime, okelah! Semoga bisa mencoba kegiatan seperti ini lagi di tempat lain”
Fitri Amelia
“Jangan menunggu kehilangan jika mengerti arti kebersamaan – Pendaki Tolak Angin”
Indah Sundari
“Seenggaknya, lu harus coba pengalaman seperti ini sekali dalam hidup lu. Yolo!”
Om Hendro
Perbincangan berhenti ketika mendung mengingatkan kami untuk segera pulang. Bergegas pulang atau hujan akan membasahi seluruh pakaian lagi? Mungkin seperti itu pilihan yang diberikan oleh Comulonimbus di atas sana. Segera kami hentikan percakapan hangat ini untuk menuju ke kendaraan masing-masing. Kami pulang, meniti jalan yang berbeda-beda. Meskipun arah dan tujuan kami berbeda, aku berharap kebersamaan ini tetap sama sampai nanti, sampai kapan pun.







