Cover Tahun 2026 Di Kupang tidak Bisa Mudik

Sebuah Cerita dari Kupang: Ramadan, Ngabuburit, dan (tidak) Mudik

Setiap tahun, ramadan selalu membawa cerita tersendiri. Namun tahun ini, cerita itu terasa sangat berbeda. Bukan hanya karena aku menjadi minoritas, tetapi juga karena jarak yang terlalu jauh dari kampung halaman. Di kota yang sebelumnya asing, di lingkungan yang belum sepenuhnya kukenal, aku belajar bahwa makna Ramadan bukan hanya tentang tradisi, tetapi tentang tanggung jawab, adaptasi, dan keluarga. Di sinilah aku sekarang, menjalani Ramadan pertama di Kota Kupang. Ada berbagai rasa yang berkecamuk, senang, sedih, rindu, dan sebuah harapan yang entah kapan datang. Namun, aku sadar hanya ada dua pilihan, mati dalam perasaan yang dalam atau bangkit untuk terus memperjuangkan harapan.

Terasa Berbeda

Ramadan kali ini benar-benar terasa berbeda bagiku. Jika sebelumnya aku merasakan suasana Ramadan di Bekasi yang begitu hidup dengan mayoritas masyarakat Muslim, kini, di Kupang ritmenya benar-benar jauh berbeda. Di Bekasi, setiap dini hari ada obrog-obrog berkeliling membangunkan warga. Speaker masjid bersahutan mengingatkan waktu sahur, melantunkan ayat suci, hingga pengumuman menjelang imsak. Sangat ramai sehingga suasana Ramadan begitu terasa.

Menjelang berbuka pun suasananya tak kalah ramai. Jalanan dipenuhi orang-orang yang ngabuburit, berburu takjil, atau sekadar duduk menunggu azan magrib. Pupujian menjelang berbuka terdengar dari masjid-masjid, menciptakan nuansa syahdu yang khas. Rasanya seperti seluruh kota sedang menanti satu momen yang sama, dengan perasaan yang seragam.

Di Kupang, suasananya berbeda. Saat sahur, tidak ada suasana penggugah, semua berjalan seperti hari biasa. Di sini tidak ada obrog-obrog, tidak ada pengeras suara yang membangunkan warga, suasana Ramadan seakan dikalahkan oleh rutinitas biasa. Lingkungan tetap sunyi. Jika bukan karena alarm ponsel yang kusetel sendiri, mungkin waktu sahur akan terasa sama seperti malam-malam lainnya. Ramadan tidak diwarnai oleh suasana khas, melainkan hati yang terasa hampa.

Musholah Kemenkum Kupang

Bukan hanya di dunia nyata, ketika aku menonton televisi pun terasa berbeda. Sebab, pusat dari dunia hiburan digital berada di zona waktu WIB, sedangkan di sini, aku menjalankan keseharian menggunakan zona waktu WITA. Berbeda satu jam, tetapi begitu terasa perbedaannya. Saat aku sahur sembari menonton televisi, program di televisi bukan tayangan sahur, melainkan tayangan dini hari. Pun ketika berbuka puasa, tayangan di televisi menampilkan momen yang berbeda, karena di zona waktu WIB belum masuk berbuka puasa.

Perbedaan-perbedaan kecil itu perlahan membuatku sadar bahwa Ramadan memang tidak selalu hadir dengan suasana yang sama di setiap tempat. Di Bekasi, Ramadan terasa hidup karena ramai oleh tradisi dan kebiasaan masyarakat. Sementara di Kupang, Ramadan terasa lebih sunyi dan berjalan dalam ritme yang sederhana. Awalnya, kesunyian itu membuatku merasa asing, seolah ada bagian dari Ramadan yang hilang. Namun seiring waktu, aku mulai memahami bahwa makna Ramadan sebenarnya tidak ditentukan oleh keramaian atau tradisi yang menyertainya, melainkan oleh bagaimana hati tetap mampu menghadirkannya. Di tengah suasana yang berbeda ini, aku belajar bahwa Ramadan tetap bisa terasa hangat, selama kita sendiri yang berusaha menghidupkannya.

Berteman dengan Perubahan

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa Ramadan memang selalu datang dengan wajah yang berbeda. Setiap tahun membawa cerita baru, suasana baru, dan pengalaman yang tidak selalu sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu aku sering berharap Ramadan selalu terasa sama: ramai, hangat, dan penuh tradisi yang familiar. Namun, perlahan aku memahami bahwa perubahan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidup, termasuk dalam menjalani Ramadan.

Perpindahan tempat juga membuatku belajar melihat Ramadan dari sudut pandang yang berbeda. Jika di tanah jawa Ramadan terasa hidup karena keramaian dan tradisi yang kuat, di kupang Ramadan hadir dengan kesederhanaan dan keheningan. Awalnya perbedaan itu terasa seperti rasa kehilangan sesuatu yang entah apa. Namun setelah dijalani, aku mulai melihat bahwa setiap tempat memiliki cara masing-masing dalam menyambut bulan suci ini.

Baiklah, daripada terus merenungi kebiasaan yang mungkin tak lagi bisa kutemukan, aku memilih untuk berteman dengan perubahan. Kota Kupang memang jauh dari kampung halaman, bahkan tanah yang kupijak terasa begitu berbeda. Namun, bukan berarti aku tidak bisa menikmati Ramadan di kota ini. Ada banyak hal menarik di Kupang, salah satunya deretan pantai indah dengan pasir putih yang membentang di sepanjang pesisirnya.

Pantai Kelapa Lima Di Pinggir Jalan Kota Kupang

Maka dari itu, pada suatu sore di bulan Ramadan 1447, aku mengajak anak dan istriku untuk ngabuburit, menikmati waktu menjelang berbuka dengan cara yang sederhana tetapi bermakna. Ini menjadi salah satu caraku untuk merasakan kehadiran Ramadan sekaligus menikmati keindahan kota yang kini kutinggali.

Perjalanan kami tempuh dengan sepeda motor. Sepanjang jalan, semuanya tampak tenang, bahkan cenderung sepi. Jalanan yang kami lewati terasa biasa saja, tanpa hiruk-pikuk yang sering kutemui dulu. Berbeda dengan di Jawa, di mana suasana ngabuburit selalu dipenuhi keramaian orang-orang yang keluar rumah, berburu takjil, atau sekadar menikmati sore bersama. Namun, beginilah kehidupan, kadang kita harus siap dengan sesuatu yang berbeda, perubahan. 

Ngabuburit Di Kota Kupang

Tujuan kami adalah Pantai Kelapa Lima. Salah satu tempat favorit di Kupang untuk menikmati suasana sore. Sesampainya di sana, hamparan laut langsung menyambut dengan tenang, seolah tak tergesa oleh waktu. Angin berembus lembut, sementara langit perlahan berubah warna menuju senja. Di sepanjang pantai, terlihat beberapa orang duduk santai, ada pula yang berjalan menyusuri tepi jalan, menikmati momen menjelang berbuka dengan cara mereka masing-masing, atau mungkin tidak, mereka sedang beraktivitas seperti biasanya.

Kami memarkir motor tak jauh dari bibir pantai, lalu berjalan santai menyusuri kawasan yang kini telah tertata rapi. Di sepanjang sisi pantai, terlihat deretan penjual makanan, mulai dari ikan bakar hingga jajanan sederhana yang menggoda siapa saja untuk berhenti sejenak. Tempat ini memang tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga menjadi pusat kuliner bagi masyarakat sekitar.

Parkir Motor Di Pantai Kelapa Lima

Anakku tampak begitu menikmati suasana, berlari kecil sambil sesekali menunjuk ke arah laut. Sementara itu, aku dan istriku duduk di salah satu anak tangga yang menghadap laut sembari mengawasi anak kami, membiarkan waktu berjalan pelan. Tidak banyak percakapan, tetapi justru keheningan itu terasa penuh seakan-akan kami sedang diajak untuk benar-benar hadir di momen ini.

Di Pantai Kelapa Lima, aku kembali belajar bahwa Ramadan tidak selalu tentang keramaian yang riuh. Di sini, di tepi laut yang sederhana, aku menemukan bentuk lain dari kebahagiaan yang lebih tenang, lebih dalam, dan entah kenapa, terasa lebih dekat.
Pantai Kelapa Lima Di Samping Jalan Kota Kupang
Pantai Pasir Putih Di Kota Kupang

Saat mentari mulai berada di kaki langit, kami pun tersadar bahwa sudah waktunya kembali. Kami bergegas pulang untuk bersiap menyambut berbuka puasa. Perjalanan pulang terasa hening tetapi hangat, seolah menyimpan sisa-sisa senja yang baru saja kami nikmati. Di tengah kesederhanaan hari itu, aku kembali memahami bahwa Ramadan tidak harus selalu sama, cukup dengan kebersamaan dan hati yang belajar menerima, semuanya sudah terasa utuh.

TPI Pantai Kelapa Lima Kota Kupang

(Tidak) Mudik

Setelah hampir sebulan penuh dilalui, aku masih tak percaya bahwa Ramadan kali ini sudah sampai di penghujungnya. Hari-hari terasa berjalan dengan pola yang hampir sama, mulai dari bangun sahur, menjalani aktivitas kerja, ngabuburit, lalu ditutup dengan berbuka bersama keluarga. Untungnya ada anak dan istriku yang menemani dalam menjalani Ramadan di kota ini. Sehingga perubahan yang drastis pada Ramadan kali ini bisa dilalui dengan hati yang tenang. Entah apa jadinya bila tidak ada mereka.

Menjelang akhir Ramadan, suasana mulai terasa berbeda. Waktu seperti melambat, seolah enggan benar-benar pergi. Di sela-sela itu, televisi mulai menayangkan berita tentang arus mudik, jalanan yang dipenuhi kendaraan, wajah-wajah lelah tetapi bahagia, dan cerita orang-orang yang pulang ke kampung halaman. Setiap tayangan itu seperti membuka kembali ruang rindu yang selama ini kutahan.

Tahun 2026 Tidak Bisa Mudik

Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa tahun ini aku tidak bisa mudik. Tidak ada perjalanan panjang menuju rumah, tidak ada pelukan hangat keluarga besar, dan tidak ada suasana khas Lebaran yang selama ini begitu akrab. Kupang yang selama ini terasa tenang, tiba-tiba menghadirkan sepi yang berbeda, sepi yang datang dari dalam diri, bukan dari keadaan sekitar.

Namun, di tengah perasaan itu, aku mulai memahami sesuatu yang perlahan tumbuh. Kebersamaan yang selama ini ada di sekitarku, istri, anak, dan momen-momen kecil yang kami lalui setiap hari ternyata adalah bentuk lain dari “pulang”. Bahwa rumah tidak selalu tentang tempat yang jauh di sana, tetapi juga tentang siapa yang ada di samping kita, menemani setiap langkah yang dijalani.

Dan di akhir Ramadan ini, aku belajar menerima dengan lebih utuh. Bahwa tidak semua rindu harus terbayar dengan pertemuan, dan tidak semua kebahagiaan harus hadir dalam bentuk yang sama seperti sebelumnya. Dalam diamnya Kupang, dalam rutinitas yang nyaris serupa setiap hari, aku justru menemukan makna baru: bahwa Ramadan bukan tentang di mana aku berada, melainkan bagaimana aku menjalaninya dengan hati yang lapang dan penuh syukur.
Di Kota Kupang Tidak Mudik 2026

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *