Mewujudkan Cinta Halal Bersama Casablanca

Mewujudkan Cinta Halal Bersama Casablanca – Based on True Story

Bagaimana jadinya jika kamu menikah dengan sahabatmu sendiri? Tentu jawabannya sangat beragam. Mungkin akan ada yang menjawab senang, canggung, bingung, dan sebagainya. Namun perlu diketahui bahwa menjalin hubungan pernikahan, entah dengan siapapun itu, semuanya butuh proses. Tak perlu dipikirkan bagaimana nantinya, jalani saja prosesnya seperti air yang mengalir. Jika aku boleh menjawab pertanyaan di awal tadi, maka jawabanku akan sangat panjang seperti kereta angkutan barang. Tetapi tak masalah, aku bersedia untuk menceritakan pengalamanku dalam menikahi sahabatku sendiri. Mulai dari pertemuan, hingga mewujudkan cinta halal yang diridaiNya. Baiklah, silakan simak ceritaku ini dan ambil sisi baiknya, yah!

Aku dan Eiy

Aku adalah seorang pria yang selalu tampil apa adanya, bahkan untuk urusan penampilan. Bagiku pakaian yang rapi, wangi, dan bersih sudah cukup, tak perlu mengikuti pakaian kekinian yang kadang terlihat aneh. Aku juga tak masalah untuk mengenakan pakaian yang tidak bermerek, asalkan layak untuk dipakai. Wewangian yang aku gunakan juga bukan parfum mahal yang banyak digunakan orang-orang, melainkan parfum murah dari Casablanca. Walaupun murah, namun wanginya enak dan aman untuk dipakai, jadi aku tetap menggunakannya.

Pertama kali aku mengenal cinta-cintaan, ketika masih duduk bangku SMA. Meskipun aku tahu bahwa itu adalah cinta monyet yang hanya akan bertahan sementara, namun tetap saja aku tidak bisa lepas dari jeratannya. Mungkin generasi milenial akan menyebutnya dengan istilah ‘Bucin’ atau Budak Cinta.

Ketika kelas 2 SMA, aku dipertemukan dengan seorang wanita bernama Eiy Yuca dalam satu kelas yang sama. Ia adalah wanita yang pandai, namun sikapnya jutek bagaikan macan yang siap menerkam. Sikap juteknya seakan menjadi dinding penghalang bagi para pria yang ingin mendekatinya. Meskipun begitu, terkadang aku bisa melihat sisi menarik darinya. Sisi menarik yang sepertinya selalu disembunyikan di balik dinding penghalang tersebut.

Teman Sekelas

 

Teman Sekelas
Sumber: Dokumentasi Penulis

Kala itu aku dan Eiy tidak terlalu dekat. Sebab, selain ngeri dengan sikap juteknya, aku juga sedang menjalin cinta monyet dengan wanita lain. Di dalam hatiku, tak ada rasa untuk memilikinya. Namun kuakui bahwa kecantikannya memang layak untuk dikagumi. Ya, itulah dia, Eiy Yuca. Wanita jutek yang memiliki paras cantik jelita.

Selepas kelas 2 SMA, aku dan Eiy berpisah, kami tidak satu kelas lagi. Hal ini membuat jarak diantara kami semakin jauh. Mulai dari sini, aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Bahkan saling menyapa pun tidak pernah, padahal kami masih satu sekolah yang sama. Kami menjalani hidup masing-masing karena memang saat itu belum tumbuh perasaan cinta di antara aku dan Eiy. Hingga hari kelulusan tiba, Eiy memutuskan untuk melanjutkan kuliah di bandung dan aku langsung bekerja di bekasi. Kami pun terpisah dan sibuk dengan dunia sendiri.

Berbeda

Sudah dua tahun berlalu tanpa komunikasi apapun dengan Eiy Yuca. Entah mengapa saat itu foto Eiy muncul di beranda media sosial milikku. Kebetulan, aku yang sedang merasakan patah hati karena diduakan, seakan mendapat angin segar. Foto Eiy terlihat sangat anggun, senyumnya berseri dan matanya memancarkan cahaya indah yang mampu melupakan kesedihanku. Sesaat kemudian aku tersadar, rasa terpesonaku ini mungkin karena efek patah hati. Ingin sekali aku lupakan perasaan ini, tapi jari-jariku tanpa dikomando segera mengetik sesuatu di kolom komentar. “Apa kabar?” tanyaku.

Beberapa saat menunggu respon dari Eiy, dengan detak jantung yang sangat cepat, akhirnya aku bisa bernapas lega ketika dia menjawab komentarku. “Alhamdulillah, baik. Kamu?”. Tubuhku seakan melayang ketika menerima balasan komentar dari Eiy. Kukira ia tak akan membalas komentarku. Sebab aku sudah hafal sikapnya yang jutek itu, pasti komentar dariku tak akan dibalas. Akan tetapi diluar dugaan, dia membalasnya, bahkan menanyakan balik keadaanku. Sepertinya Eiy Yuca sudah berubah.

Media Sosial

 

Media Sosial
Sumber: Dokumentasi Penulis

Berawal dari percakapan di komentar, aku memberanikan diri untuk mengirim chat secara personal. Dari situ, aku dan Eiy semakin dekat. Dugaanku ternyata benar, Eiy kini sudah jauh berbeda dengan Eiy yang dulu kukenal. Ia jauh lebih ramah dan tak sejutek dulu, seakan dinding penghalang yang menutupi sisi menariknya, kini sudah hilang. Hal ini membuat aku dan Eiy menjadi terbuka dan lebih memahami satu sama lain.

Semakin lama berbincang dengan Eiy, semakin kagum juga aku dengan dirinya. Ternyata selama ini sikap juteknya digunakan untuk membatasi diri dengan pria agar tidak terjerat cinta monyet. Ia punya target, tidak ingin mengenal cinta-cintaan sampai lulus SMA. Wanita yang luar biasa. Benih cinta di dalam hatiku mulai tumbuh dan berkembang, membuat aku tak bisa terus-terusan menyembunyikan perasaan ini. Aku bertekad untuk menemuinya di bandung dan menyatakan perasaanku kepadanya.

Pertemuan

Pada akhir pekan di bulan Maret tahun 2018, setelah pulang kerja, aku segera bergegas untuk mengunjungi Eiy di bandung. Tentu sebelumnya kami sudah sepakat untuk bertemu. Jujur saja, aku merasa grogi. Sebab ini adalah kali pertama aku bertemu dengan Eiy, setelah sekian lama tak bertemu. Dalam pertemuan ini, aku berencana untuk mengungkapkan perasaan yang kupunya kepadanya. Perasaan yang entah dari mana datangnya, perasaan yang muncul begitu saja, perasaan yang sama sekali tak pernah aku duga.

Aku menginap di kosan temanku yang berada di Jalan Sersan Bajuri, mahasiswa UPI pasti tahu jalan ini. Sedangkan Eiy sendiri merupakan mahasiswa UIN yang kosannya berada di dekat kampus tersebut. Jaraknya lumayan jauh dari kosan temanku. Tak masalah, kuanggap ini adalah salah satu perjuangan dalam mendapatkan secerca harapan.

Setelah semalaman menginap di kosan temanku, keesokan harinya aku sudah bersiap untuk menemui Eiy. Pagi buta aku sudah mengenakan pakaian rapi dengan dibalut jaket dan celana jeans berwarna abu-abu, tak ketinggalan juga aroma parfum casablanca yang biasa kupakai. Aku siap bertemu dengan Eiy.

 

Casablanca Halal Mist
Sumber: Dokumentasi Penulis

Sepeda motorku melaju, membelah dinginnya udara pagi kota bandung. Sempat beberapa kali salah jalan, akhirnya aku berhasil menemukan kosan Eiy. Kuketuk pintu kosannya sambil mengatur napas agar detak jantungku stabil, sebab sedari tadi detak jantung ini berdebar tak karuan.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Sosok wanita yang mengenakan baju berwarna merah dan jilbab panjang berwarna abu-abu, terlihat dihadapanku. Senyumnya sangat manis seperti pelangi yang terbalik, membuat aku terpesona. Ternyata bukan hanya sikapnya yang berubah, tetapi parasnya pun ikut berubah menjadi lebih indah.

Eiy mempersilakan aku masuk, dan selayaknya teman yang tak bertemu dalam waktu lama, kami terlibat perbincangan seru. Membicarakan berbagai hal, mulai dari masalah sekolah, kuliah, dan hal-hal lain yang membuat kami lupa waktu. Sungguh kami terhanyut dalam perbincangan ini, sehingga tak sadar bahwa mentari sudah hampir tenggelam.

Menyatakan Cinta

Malam datang, namun aku tak mau melewatkan waktu sedikitpun bersama Eiy. Aku mengajak Eiy untuk menemaniku berkeliling kota bandung. Sekalian mencari tempat romantis untuk mengungkapkan perasaan ini, pikirku. Eiy setuju dan bersedia menemani aku untuk menyusuri kota bandung.

Setelah beberapa lama mengelilingi kota yang dingin ini, aku meminta Eiy untuk mengantarku ke suatu tempat. Tempat inilah yang nantinya akan menjadi salah satu tempat paling bersejarah bagiku. Tempat yang sangat hidup ketika malam hari dan memiliki nuansa kota Hindia Belanda pada zaman dulu. Tempat inilah yang disebut sebagai Paris van Java. Ya, Jalan Braga, Bandung.

Kami memutuskan untuk duduk di bangku dekat pertigaan, di ujung jalan braga. Di tempat ini tak banyak orang yang berlalu lalang, sehingga aku dan Eiy bisa berbincang dengan santai. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengungkapkan perasaanku pada Eiy. Meskipun aku takut akan ditolak, namun lebih baik seperti itu daripada tidak mengungkapkan sama sekali.

“Aku ada rasa sama kamu” ucapku.

Sejenak Eiy terdiam, matanya menatap layu kearahku. Aku tak mengerti apa maksudnya. Namun sedetik kemudian ia tersenyum. Perilaku Eiy sungguh membuat aku bingung untuk menerjemahkannya. Hingga akhirnya, aku tahu apa arti dari semua itu.

“Aku juga” jawab Eiy singkat.

Menuju Cinta Halal

Sudah dua tahun aku menjalin cinta bersama Eiy. Semakin lama, kami semakin sadar bahwa hubungan ini harus disegerakan untuk menjadi hubungan cinta yang halal. Akhirnya aku dan Eiy bertekad untuk menabung untuk modal pernikahan. Target kami, selama satu tahun seharusnya uang tabungan tersebut sudah terkumpul. Kami sama-sama ingin mewujudkan cinta halal yang diridai Allah SWT dengan hasil jerih payah sendiri.

Setahun berlalu, uang tabungan kami sudah cukup untuk melaksanakan pernikahan, walaupun hanya pernikahan yang sederhana. Memang niat baik akan selalu mendapatkan jalan kemudahan. Bagi kami berdua, pernikahan yang sederhana bukanlah masalah. Sebab kebahagiaan tidak diukur dari seberapa mewah pernikahan yang dilaksanakan, melainkan seberapa mampu dua insan dapat menyatukan perbedaan.

Setelah yakin untuk melangkah lebih jauh, aku mengenalkan Eiy kepada keluargaku, pun sebaliknya. Keluarga kami menyambut niat baik ini dan mendukung sepenuhnya agar segera dilakukan pernikahan. Aku sangat senang mendengar kabar baik ini.

Proses demi proses sudah dilalui, tanggal pernikahan pun sudah ditetapkan, yaitu pada tanggal 21 Juli 2021. Namun setiap langkah perjalanan pasti akan menemui rintangan, demikian pula dalam proses menuju pernikahan kami.

Rintangan

Sekitar dua minggu sebelum hari bahagia itu tiba, pemerintah memutuskan untuk menerapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat. Akibatnya, masyarakat tidak boleh menyelenggarakan kegiatan yang menyebabkan kerumunan. Untungnya saat itu masih diperbolehkan untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan namun jumlah tamu undangan tidak boleh lebih dari 30 orang. Tak masalah pikirku, sebab aku pun tidak berniat untuk mengundang teman-teman, mengingat kondisi yang sedang pandemi.

Akan tetapi masalah terbesar yang aku alami bukan tentang pandemi, melainkan tentang tradisi. Orang tuaku sangat memegang teguh tradisi para leluhur, sehingga acara pernikahan yang akan aku lakukan harus sesuai dengan tradisi tersebut. Sedangkan pelaksanaan tradisi itu pasti membutuhkan biaya yang lebih mahal dan cenderung ke arah syirik. Aku dan Eiy tidak mau mengikuti tradisi yang pada akhirnya mempersulit diri sendiri. Hal ini membuat perdebatan antara aku dan kedua orang tuaku tak dapat dihindari.

Kegiatan Tradisi

 

Kegiatan Tradisi
Sumber: Dokumentasi Penulis

Dari peristiwa tersebut akhirnya aku menyadari satu hal bahwa melawan sebuah kebiasaan yang sudah ada sejak lama, tidak akan mudah. Maka dari itu, akhirnya aku pun menyerah. Kubiarkan kedua orang tuaku melakukan tradisi para leluhur, namun mohon maaf bila pada beberapa bagian tertentu aku tidak bisa mempercayainya.

Rentetan masalah akhirnya dapat kami lalui. Mulai dari masalah yang remeh temeh, hingga masalah yang menurut kami cukup berat. Namun pada akhirnya, Tuhan akan selalu memberikan jalan keluar. Aku percaya bahwa semua masalah yang diberikan oleh Tuhan, pasti dapat diselesaikan.

Hari Bahagia

Akhirnya hari bahagia itu pun tiba, hari di mana aku akan mewujudkan cinta halal yang selama ini kuperjuangkan. Aku dan Eiy sangat bersyukur bisa berada di titik ini. Kami sungguh diselimuti oleh perasaan bahagia yang tiada tara. Saking bahagianya, aku hampir meneteskan air mata, namun segera kuseka agar hari bahagia ini tak diwarnai dengan tangis.

Hari itu Eiy sungguh anggun dengan mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Kecantikannya turut bertambah dengan makeup yang terlihat natural di wajahnya. Aku sendiri memakai jas dan celana panjang berwarna putih, serasi dengan gaun yang dikenakan Eiy. Baju pengantin yang aku kenakan sangat berbeda dengan pakaian keseharianku, sehingga membuat aku terlihat lebih berwibawa. Ditambah aroma manis dari parfum Casablanca Halal Mist yang merupakan produk terbaru, melengkapi penampilanku pada hari yang berbahagia itu.

Aku masih tak menyangka bisa saling melengkapi dan hidup bersama dengan Eiy Yuca, si jutek yang menyeramkan. Seseorang yang dulu hanya menjadi teman biasa, kini sudah sah menjadi teman hidup. Terkadang semesta memang menyembunyikan kebahagiaan di balik misteri, kemudian menampakan kebahagiaan itu tanpa diduga-duga.

Kini aku sudah menghalalkanmu, mari kita jaga cinta halal ini agar tetap abadi hingga akhir hayat nanti, Eiy Yuca.

Penutup

Itulah kisahku dengan Eiy, sahabat yang pada akhirnya menjadi teman hidupku. Silakan kalian simpulkan sendiri jawaban dari pertanyaan di awal tadi: “bagaimana jika kamu menikah dengan sahabatmu sendiri?” Namun yang jelas, aku merasa bahwa ini seperti mimpi indah yang menjadi kenyataan, aku juga merasa bahagia, grogi, dan canggung. Bahkan kami masih merasa takut ketika berduaan di dalam kamar dengan pintu yang tertutup. Lucu memang, sampai-sampai kami harus menonton film dengan genre yang menarik untuk mengatasi rasa canggung tersebut. Biasanya, film-film produksi Teladan Cinema yang kami tonton, sebab banyak genre dan alur film yang kami suka. Sampai akhirnya kami mulai terbiasa dengan ikatan halal ini. Semoga cinta kami dapat segera disempurnakan dengan memiliki buah hati yang kami rindukan. Aamiinn.

Sekian kisah yang aku alami dalam mewujudkan cinta halal yang diridai Allah SWT. Terima kasih.

Noted: Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang mendapatkan “polesan” di beberapa bagian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top