Bumi itu Bulat
Pada tahun 8360, di Planet Yandex, kata “Bumi” adalah tabu yang paling ditakuti oleh Majelis Tertinggi—sekelompok pimpinan berpengaruh yang mengontrol seluruh narasi sejarah.
Ribuan tahun lalu, manusia terpaksa melarikan diri dari Bumi karena kehancuran ekologis yang parah akibat kebakaran hutan dan lahan yang tak terkendali. Namun, para elit Yandex enggan mengakui keaiban tersebut. Bagi mereka, mengakui bahwa nenek moyang mereka telah menghancurkan rumahnya sendiri karena keserakahan adalah sebuah kekalahan moral. Maka, dibentuklah narasi baru: manusia lahir dan berkembang pertama kali di Planet Yandex. Buku-buku lama dimusnahkan, dan ingatan tentang Bumi perlahan menguap ditelan zaman.
Setiap kali musim kering tiba, langit Distrik 62 berubah warna menjadi merah darah. Asap tebal merayap masuk ke perumahan warga, memicu batuk massal dan gangguan pernapasan. Namun, para pejabat Distrik 62 selalu merilis pernyataan resmi yang sama di layar-layar publik:
“Kondisi udara masih aman dan terkendali. Ini hanya fenomena alam tahunan biasa. Pemerintah telah membagikan masker gratis dan membentuk tim pemantau.”
“Yaa… Begitulah hidup… Kadang diterbangkan hingga mengudara, kadang diberi tumpangan agar melesat di darat, kadang juga didorong ke kolam agar tenggelam…“
“Kalian menghapus nama Bumi dari sejarah karena malu mengakui kebodohan masa lalu. Kalian berbohong kepada generasi kami bahwa Yandex adalah tanah air pertama, agar kalian bisa terus bersikap serakah tanpa takut dinilai gagal. Tapi lihatlah keluar jendela! Kebodohan itu tidak pernah hilang. Ia hanya berganti nama dan berpindah planet!“
Sejarah mungkin bisa dihapus dari buku pelajaran, dan kebenaran bisa dibungkam dengan kekuasaan. Namun, kehidupan ini berputar seperti bumi yang bulat. Pemimpin yang menolak belajar dari kesalahan masa lalu pada akhirnya hanya memutar roda waktu untuk mengulang kehancuran yang sama di tempat yang berbeda.






