Cover Bumi Itu Bulat

Bumi itu Bulat

Pada tahun 8360, di Planet Yandex, kata “Bumi” adalah tabu yang paling ditakuti oleh Majelis Tertinggi—sekelompok pimpinan berpengaruh yang mengontrol seluruh narasi sejarah.

Ribuan tahun lalu, manusia terpaksa melarikan diri dari Bumi karena kehancuran ekologis yang parah akibat kebakaran hutan dan lahan yang tak terkendali. Namun, para elit Yandex enggan mengakui keaiban tersebut. Bagi mereka, mengakui bahwa nenek moyang mereka telah menghancurkan rumahnya sendiri karena keserakahan adalah sebuah kekalahan moral. Maka, dibentuklah narasi baru: manusia lahir dan berkembang pertama kali di Planet Yandex. Buku-buku lama dimusnahkan, dan ingatan tentang Bumi perlahan menguap ditelan zaman.

Namun, di sebuah sudut sempit Distrik 62, seorang remaja 17 tahun bernama Alo menyimpan sebuah rahasia besar.
Sebagai keturunan langsung dari seorang ilmuwan arsiparis generasi pertama, Alo memiliki satu-satunya artefak terlarang yang lolos dari pembakaran: sebuah buku fisik bersampul kulit kusam. Di balik lembaran kertasnya yang mulai rapuh, tertulis sejarah kelam manusia saat melarikan diri dari Bumi.
Di luar rumah Alo, Planet Yandex telah terbagi menjadi 100 distrik. Dari seluruh distrik yang ada, Distrik 62 dikenal sebagai wilayah yang paling bebal. Para penguasa dan korporasi di Distrik 62 terus menebangi hutan bio-sintetis, mengeruk sumber daya tanpa henti, dan membakar lahan demi ekspansi industri yang cepat dan murah.

Setiap kali musim kering tiba, langit Distrik 62 berubah warna menjadi merah darah. Asap tebal merayap masuk ke perumahan warga, memicu batuk massal dan gangguan pernapasan. Namun, para pejabat Distrik 62 selalu merilis pernyataan resmi yang sama di layar-layar publik:

“Kondisi udara masih aman dan terkendali. Ini hanya fenomena alam tahunan biasa. Pemerintah telah membagikan masker gratis dan membentuk tim pemantau.”

Alo menatap layar propaganda itu sambil mengelus sampul buku tua di pangkuannya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan dada yang sesak bukan hanya karena asap, tetapi juga karena kepalsuan di sekelilingnya. Dengan senyum pahit, Alo bergumam pelan:

“Yaa… Begitulah hidup… Kadang diterbangkan hingga mengudara, kadang diberi tumpangan agar melesat di darat, kadang juga didorong ke kolam agar tenggelam…“

Ia menyadari betapa para penguasa Distrik 62 memainkan nasib rakyatnya persis seperti itu—disanjung saat butuh dukungan, diberi janji manis dan fasilitas semu saat dikritik, lalu dibiarkan tenggelam dalam kabut racun saat bencana benar-benar terjadi.
Suatu hari, pembakaran lahan di Distrik 62 lepas kendali. Kebakaran hebat melalap vegetasi utama penyokong oksigen. Asap pekat mulai melintasi batas distrik, membuat distrik-distrik tetangga meradang. Majelis Tertinggi panik, bukan karena rakyat yang sesak napas, melainkan karena reputasi politik mereka tercoreng. Pejabat Distrik 62 sibuk saling lempar tanggung jawab, menyalahkan angin, menyalahkan oknum kecil, lalu diam-diam menandatangani izin pembukaan lahan baru di balik meja rapat.
Alo tahu, ia tidak bisa terus-menerus membiarkan mereka berpura-pura.
Menggunakan jaringan peretas kuno yang diajarkan mendiang kakeknya, Alo membobol siaran utama Majelis Tertinggi saat siaran pidato kelayakan udara sedang berlangsung. Layar-layar raksasa di seluruh sudut Distrik 62 tiba-tiba berganti menampilkan dokumen arsip asli Bumi: foto-foto hutan yang berubah jadi arang, langit yang memerah darah di masa lalu, serta reruntuhan kota Bumi yang mati. Di samping foto-foto itu, Alo menyandingkan kondisi Distrik 62 hari ini.
Suara Alo bergema jernih di seluruh penjuru kota:

“Kalian menghapus nama Bumi dari sejarah karena malu mengakui kebodohan masa lalu. Kalian berbohong kepada generasi kami bahwa Yandex adalah tanah air pertama, agar kalian bisa terus bersikap serakah tanpa takut dinilai gagal. Tapi lihatlah keluar jendela! Kebodohan itu tidak pernah hilang. Ia hanya berganti nama dan berpindah planet!“

Siaran itu terputus setelah tiga menit. Pasukan keamanan menggerebek kediaman Alo. Buku sejarah tua milik kakeknya disita dan dibakar. Alo dijatuhi hukuman pengasingan permanen karena dianggap menyebarkan “hoaks yang merusak stabilitas distrik”.
Beberapa tahun berlalu setelah Alo diasingkan.
Buku sejarah itu telah menjadi abu, dan nama Alo perlahan dilupakan. Majelis Tertinggi kembali menguasai narasi, menegaskan bahwa Distrik 62 kembali menuju “era keemasan”. Pembukaan lahan dan pembakaran vegetasi berlanjut seolah tak terjadi apa-apa.
Namun, alam tidak peduli pada propaganda politik.
Tanpa vegetasi yang cukup untuk menyerap emisi dan memproses atmosfer sintesis Yandex, suhu planet melonjak drastis. Api di Distrik 62 tak lagi bisa dipadamkan oleh teknologi canggih sekalipun. Api itu menjalar, membakar akar-akar tanah gambut sintetis, dan menghasilkan kabut abadi yang mengunci seluruh Planet Yandex.
Tanpa vegetasi yang cukup untuk menyerap emisi dan memproses atmosfer sintesis Yandex, suhu planet melonjak drastis. Api di Distrik 62 tak lagi bisa dipadamkan oleh teknologi canggih sekalipun. Api itu menjalar, membakar akar-akar tanah gambut sintetis, dan menghasilkan kabut abadi yang mengunci seluruh Planet Yandex.
Filter udara canggih di gedung-gedung megah milik elit Majelis Tertinggi mulai mampet satu per satu. Untuk pertama kalinya, para penguasa yang biasanya duduk nyaman di ruang ber-AC mulai terbatuk-batuk, menghirup udara beracun yang sama dengan rakyat kecil yang dulu mereka acuhkan.
Dari balik jendela ruang pengasingannya di pinggiran planet, Alo menatap langit Yandex yang kini berwarna merah pekat—persis seperti foto di halaman terakhir buku kakeknya sebelum manusia meninggalkan Bumi.
Judul buku itu kini terasa kian nyata: Bumi itu Bulat. Bukan sekadar bentuk fisik sebuah planet, melainkan sebuah siklus karma. Apa yang dilontarkan ke masa lalu akan berputar dan kembali menghantam di masa depan.
Para penguasa Distrik 62 akhirnya menyadari sebuah kebenaran mutlak yang terlambat:

Sejarah mungkin bisa dihapus dari buku pelajaran, dan kebenaran bisa dibungkam dengan kekuasaan. Namun, kehidupan ini berputar seperti bumi yang bulat. Pemimpin yang menolak belajar dari kesalahan masa lalu pada akhirnya hanya memutar roda waktu untuk mengulang kehancuran yang sama di tempat yang berbeda.

Artikel Serupa

  • Harga Sebuah Perdamaian

    Aku melihat kacaunya dunia melalui ponsel yang salah satu sudut layarnya sudah retak. Retakannya menjalar ke semua area layar, sama seperti peta Gaza yang tak beraturan, tajam, dan sulit untuk disatukan. Hampir setiap pagi aku mendengar, menyaksikan, dan membaca berita tentang kejahatan kemanusiaan yang terjadi di sana. Namun, entah bagaimana, dunia seakan bungkam. Bahkan, organisasi…

  • Ayah (Tidak) Jahat

    Namaku Rani. Aku berumur 2 tahun. Meskipun aku berasal dari keluarga yang tidak mampu, tetapi aku merasa bahagia karena memiliki ayah dan ibu yang sangat menyayangiku. Aku pun menyayangi mereka. Apalagi ayah.Aku memiliki seorang ayah yang sangat baik. Ayah seperti malaikat penolong yang selalu ada, mengajakku bermain, jalan-jalan, bercanda, dan menghiburku ketika aku menangis. Sikap…

  • Tangisan Terakhir

    Jerit melengking terus mengiringi langkah kaki dan ayunan tangan teraturnya ketika aku mengejar tubuh mungil itu. Ia berlari kencang menuju kamar tidur untuk meminta perlindungan dari sang Ibu. Sedangkan di belakangnya, aku terus merangkak mengejar, berteriak, ingin menerkam. Di sisa tenaganya, ia coba melompat, ingin berlindung di pelukan ibunya. Sayang, sesaat sebelum mendarat di pelukan…

  • Sehabis Hujan

    Aku berjalan gontai menyusuri jalan, menuju terminal terdekat untuk pulang. Kakiku menendang benda apa pun yang menghalangi untuk melampiaskan kekesalan. Sementara di atas sana, langit mendung menemani seakan tahu suasana hatiku yang sedang tidak baik-baik saja. Aku seperti tak memiliki harapan lagi, bahkan terlintas di benakku untuk mengakhiri hidup ini. Air mataku hampir jatuh ketika…

  • Kuarter Terakhir

    2531 Sepuluh tahun yang lalu, Dewan Keselamatan Manusia (DKM) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengumumkan sesuatu yang mengejutkan. Pengumuman tersebut membuat seluruh manusia yang ada di bumi menjadi bangga, sekaligus bersedih dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana tidak, seluruh manusia mendapat kabar bahagia bahwa ekspansi untuk menjadikan Mars sebagai tempat tinggal baru, berjalan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *