Cover Resign 2

RESIGN 2

Sejak memutuskan untuk RESIGN dari kantor lama, ada banyak hal yang aku pelajari dan rasakan. Mulai dari pengalaman mencari pekerjaan, bertemu dengan loker palsu, melihat isi kepala para pekerja dari sudut pandang yang berbeda-beda, hingga berada di persimpangan keputusan yang cukup sulit untuk dipilih. Ada masa ketika semuanya terasa berat, membingungkan, bahkan membuatku bertanya-tanya apakah langkah yang kuambil sudah benar. Namun perlahan, takdir Tuhan yang awalnya terlihat seperti beban mulai menunjukkan maksudnya sedikit demi sedikit. Meskipun pada akhirnya aku harus kembali melepaskan sesuatu yang sempat datang, aku tetap percaya bahwa jalan yang ditentukan Tuhan selalu membawa manusia menuju tempat yang lebih baik, karena itulah yang selama ini aku yakini.

Tempat Kerja Baru

Tujuh bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk RESIGN dan menyandang status sebagai pengangguran. Akhirnya aku benar-benar bisa bernapas lega karena ketika tabungan keluarga mulai menipis dan pikiranku dipenuhi berbagai kekhawatiran, Tuhan kembali membukakan jalan. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan tempatku bekerja sebelumnya. Bahkan, pekerjaan yang harus kulakukan pun tidak jauh berbeda. Rasanya seperti kembali ke dunia yang sudah sangat kukenal. Bedanya, suasana kerja di tempat baru ini jauh lebih santai. Tidak ada aturan yang terlalu mengekang. Atasan memberikan kebebasan untuk bekerja dari mana saja di dalam kantor, entah itu di ruang kerja, balkon, bahkan taman. Selama pekerjaan selesai tepat waktu dan tanggung jawab dijalankan dengan baik, mereka tidak pernah mempermasalahkannya.

Tempat kerjaku sebenarnya bukan berada di sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi seperti kebanyakan kantor di Jakarta. Tempat kerja ini merupakan sebuah rumah dua lantai di kawasan Jakarta Selatan yang dialihfungsikan menjadi kantor. Lantai bawah digunakan untuk kegiatan operasional, sementara lantai atas menjadi area office tempat dokumen-dokumen berada. Suasananya terasa hangat dan tidak terlalu formal, bahkan lebih mirip sebuah rumah daripada tempat kerja. Mungkin itulah yang membuatku cepat merasa nyaman di sini.

Sayangnya, ada satu hal yang cukup menguras tenaga, yaitu perjalanan menuju kantor. Lokasinya cukup jauh dari stasiun KRL, sehingga sepeda motor menjadi satu-satunya pilihan yang paling masuk akal. Dari rumah, aku harus menempuh perjalanan sekitar dua jam setiap hari. Sebenarnya, jika jalanan lengang, satu jam saja sudah cukup. Namun, Jakarta dan kemacetannya seolah menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja. Dua jam berangkat, dua jam pulang. Empat jam dihabiskan di atas motor setiap harinya.

Awalnya perjalanan itu terasa melelahkan. Punggung pegal, tangan mulai kebas karena terlalu lama menggenggam setang, belum lagi panas matahari yang bergantian dengan hujan. Namun, karena akhirnya aku kembali memiliki pekerjaan setelah berbulan-bulan menganggur, rasa lelah itu terasa seperti harga yang pantas untuk dibayar. Setidaknya, aku kembali memiliki tujuan untuk berangkat setiap pagi dan alasan untuk pulang dengan membawa harapan.

Rekan Kerja

Jumlah karyawan di tempat ini sebenarnya tidak banyak, mungkin hanya sekitar belasan orang. Meski begitu, aku justru menemukan banyak orang baik di dalamnya, termasuk atasanku sendiri. Usianya mungkin hanya terpaut beberapa tahun dariku, tetapi kemampuan yang dimilikinya benar-benar membuatku kagum. Bukan hanya kemampuan teknis yang sangat mumpuni, tetapi juga cara ia memimpin tim. Ia tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang atasan yang harus selalu ditakuti. Sebaliknya, ia mampu menjadi pemimpin yang membuat setiap anggota tim merasa dihargai. Banyak sekali hal baru yang kupelajari darinya, baik tentang pekerjaan maupun cara menyikapi berbagai persoalan di dunia kerja.

Di sisi lain, rekan-rekan kerjaku juga sangat ramah. Sebagai orang yang cenderung pendiam dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi, aku sempat khawatir akan kesulitan berbaur. Namun, kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti. Mereka menerima kehadiranku dengan sangat baik. Hampir tidak ada budaya senioritas di tempat ini. Meski begitu, aku tetap menghormati mereka yang lebih dulu bekerja sebagai senior, kendati beberapa di antaranya memiliki usia yang lebih muda dariku. Satu hal yang paling kusukai adalah mereka tidak pernah pelit berbagi ilmu. Apa pun yang kutanyakan, selalu dijawab dengan pengetahuan yang mereka miliki. Tidak ada kesan bahwa mereka sengaja menyimpan informasi agar terlihat lebih hebat daripada orang lain.

Bahkan, ada seorang senior yang secara khusus kumintai bantuan untuk mengajarkanku lebih dalam mengenai berbagai hal teknis di pekerjaan ini. Sejak dulu, aku memang selalu bersemangat jika diberi kesempatan untuk belajar sesuatu yang kusukai. Tanpa ragu, ia menyambut semangatku dengan tangan terbuka. Ia bahkan rela meluangkan waktunya di luar jam kerja hanya untuk berbagi ilmu kepadaku. Bagiku, itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Berkat bimbingannya, pengetahuanku berkembang jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan. Aku merasa tidak hanya datang ke kantor untuk bekerja, tetapi juga untuk belajar. Rasanya seperti pepatah lama yang mengatakan, “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.” Aku memperoleh penghasilan sekaligus ilmu yang kelak akan sangat berguna dalam perjalanan karierku.

Namun, seperti umumnya tempat kerja, tidak ada lingkungan yang benar-benar sempurna. Di balik banyaknya orang-orang baik, tetap ada satu atau dua orang yang memiliki sifat sebaliknya. Ada yang lebih suka menghindari tanggung jawab ketika muncul masalah teknis, ada yang hanya ingin menikmati hasil tanpa mau ikut repot, dan ada pula yang selalu berusaha mencari jalan paling mudah meskipun harus mengorbankan orang lain. Sejak hari-hari pertamaku bekerja di sana, entah mengapa ada satu orang yang membuatku menaruh garis batas lebih lebar. Saat itu aku belum mengetahui apa yang akan terjadi. Akan tetapi, belakangan aku baru menyadari bahwa orang inilah yang nantinya menjadi tokoh antagonis. Kelak, dalam kisah ini aku memberikan orang ini julukan sebagai T-REX.

Mulai Menikmati Proses

Hari demi hari mulai kulalui dengan penuh rasa syukur. Akhirnya, aku kembali memiliki rutinitas yang kurindukan. Bangun pagi, berangkat bekerja, menyelesaikan berbagai tugas, lalu pulang dengan perasaan lega karena hari itu masih bisa memberikan nafkah untuk keluarga. Sesederhana itu kebahagiaanku saat itu. Pengalaman menjadi pengangguran membuatku jauh lebih menghargai setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Aku tidak lagi mengeluh karena harus berangkat pagi atau pulang malam. Bagiku, memiliki pekerjaan di bidang yang disukai merupakan sebuah nikmat yang patut disyukuri.

Di tempat kerja ini, aku juga kembali menemukan semangat untuk terus belajar. Hampir setiap ada hal baru, aku selalu berusaha mencari tahu bagaimana cara kerjanya. Jika ada sesuatu yang belum kupahami, aku tidak pernah sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekan yang lebih berpengalaman. Selama ada kesempatan untuk menambah ilmu, aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Sedikit demi sedikit, kemampuan yang kumiliki pun mulai berkembang. Aku merasa menjadi versi diriku yang lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Bukan hanya kemampuan teknis yang bertambah, tetapi cara berpikirku juga ikut berubah. Pengalaman menganggur selama berbulan-bulan mengajarkanku bahwa pekerjaan bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Pekerjaan juga menjadi tempat untuk bertumbuh, belajar, dan membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar. Karena itu, aku berusaha menikmati setiap proses yang kulalui tanpa terlalu terburu-buru mengejar hasil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mulai berpikir bahwa mungkin inilah tempat yang selama ini kucari. Tempat yang membuatku bisa bekerja dengan tenang, terus belajar, dan pulang ke rumah dengan hati yang ringan.
Namun, hidup memang sering kali memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan sesuatu. Ketika aku mulai merasa semuanya berjalan sebagaimana mestinya, ketika aku mulai percaya bahwa akhirnya telah menemukan tempat yang tepat, perlahan-lahan muncul kejadian-kejadian kecil yang awalnya tampak sepele. Saat itu aku menganggapnya sebagai hal biasa. Aku tidak pernah menyangka bahwa rangkaian kejadian kecil itulah yang nantinya mengubah banyak hal, bahkan kembali membawaku pada sebuah keputusan besar dalam hidupku.

Prasangka

Saat pertama kali bergabung, perusahaan menjelaskan bahwa aku akan menjalani masa percobaan selama tiga bulan. Jika dinilai memenuhi harapan, statusku akan diangkat menjadi karyawan tetap. Mendengar hal itu, aku merasa tenang. Bagiku, tiga bulan bukanlah waktu yang lama. Aku hanya perlu menunjukkan kemampuan terbaik yang kumiliki. Lagi pula, pekerjaan ini berada di bidang teknologi, bidang yang memang sudah lama kusukai. Setiap hari aku datang dengan semangat, menikmati setiap tantangan, dan berusaha memberikan hasil terbaik.
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, masa percobaan itu hampir berakhir. Anehnya, tidak ada pembicaraan apa pun mengenai kelanjutan status kerjaku. Tidak ada evaluasi, tidak ada pemberitahuan, bahkan sekadar obrolan singkat pun tidak ada. Awalnya aku mencoba berpikir positif. Mungkin perusahaan sedang sibuk, atau mungkin memang proses administrasinya membutuhkan waktu. Namun, semakin hari, pikiran-pikiran lain mulai bermunculan. Apakah aku tidak lolos? Apakah kontrakku akan berakhir? Atau justru mereka memang belum memutuskan apa pun?
Pengalaman menganggur selama tujuh bulan sebelumnya membuatku tidak ingin lagi mengambil risiko yang sama. Aku tidak mau kembali kehilangan pekerjaan tanpa memiliki rencana cadangan. Karena itulah, diam-diam aku mulai mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan lain. Bukan karena aku sudah tidak nyaman bekerja di tempat ini, melainkan sebagai bentuk antisipasi. Aku belajar dari pengalaman bahwa rasa nyaman tidak boleh membuatku lengah. Jika nanti ternyata perusahaan memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrakku, setidaknya aku sudah selangkah lebih siap dibandingkan ketika pertama kali mengundurkan diri dari pekerjaan lamaku.
Di tengah kegelisahan itu, sebuah kesempatan datang dari arah yang tidak pernah kuduga. Paman dari istriku memberi kabar bahwa di tempatnya bekerja sedang membuka lowongan. Perusahaannya bergerak di bidang outsourcing dan sedang mencari karyawan untuk ditempatkan di salah satu instansi pemerintah. Mendengar informasi itu, aku tidak berpikir terlalu lama. Tanpa banyak pertimbangan, aku segera menyiapkan berkas lamaran dan mengirimkannya. Saat itu aku belum tahu ke mana jalan ini akan membawaku. Yang ada di kepalaku hanya satu, jangan sampai aku kembali menghadapi masa-masa sulit tanpa memiliki persiapan.

Sosok T-REX

Di antara banyaknya orang baik yang kutemui di tempat kerja ini, ada satu sosok yang sejak awal membuatku kurang nyaman. Dialah T-REX, sosok pemangsa yang akan menerkam makhluk-makhluk lemah di sekitarnya. Julukan itu kuberikan bukan tanpa alasan. Sejak pertama kali bekerja bersamanya, aku sudah melihat gelagat yang menurutku kurang menyenangkan. Cara ia berbicara, memperlakukan orang lain, hingga sikapnya dalam bekerja membuatku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Salah satu kejadian yang masih kuingat adalah ketika ada keluhan dari klien dalam bahasa Inggris. Karena kemampuan bahasa Inggrisku masih terbatas, aku ingin menerjemahkannya menggunakan Google Translate. Namun, T-REX justru memaksaku membaca seluruh isi keluhan itu terlebih dahulu. Aku sempat menjelaskan bahwa itu percuma karena aku memang tidak memahami bahasa Inggris dengan baik, tetapi ia tetap bersikeras. Akhirnya aku hanya mengalah dan berpura-pura membaca keluhan itu.

Entah kebetulan atau memang sudah menjadi takdir, aku justru sering mendapat jadwal kerja bersamanya. Semakin lama bekerja dengannya, semakin terlihat sifat aslinya. Ia cenderung menghindari pekerjaan yang rumit dan melimpahkan tugas-tugas berat kepadaku. Awalnya kupikir hanya perasaanku saja, tetapi pola itu terus berulang. Meski begitu, aku memilih menahan diri. Pengalaman di tempat kerja sebelumnya mengajarkanku bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan emosi. Aku datang ke tempat ini untuk mencari nafkah dan menambah ilmu, bukan mencari musuh.

Suatu malam ketika aku sedang berjaga sendirian, T-REX tiba-tiba menghubungiku dan meminta akses login akun administrator. Tanpa rasa curiga sedikit pun, aku memberikannya. Keesokan paginya, suasana kantor yang biasanya tenang mendadak ramai oleh keluhan dari klien. Setelah kuperiksa, seluruh keluhan tersebut memiliki pola yang sama, yaitu adanya perubahan konfigurasi sistem. Anehnya, perubahan konfigurasi itu hanya dapat dilakukan melalui akun administrator. Karena malam sebelumnya yang berjaga hanya aku, meskipun tidak ada yang menuduh secara langsung, aku tahu kecurigaan itu mengarah kepadaku. Bahkan, di tengah percakapan yang tidak ada hubungannya dengan masalah tersebut, seorang rekan tiba-tiba berkata, “…Makanya jangan asal ubah konfigurasi…”. Apa maksudnya kalau tidak menyindirku secara halus?

Aku tidak membela diri. Aku hanya mengingat satu fakta bahwa malam itu bukan hanya aku yang memiliki akses ke akun administrator. T-REX juga memilikinya karena akulah yang memberikan akses tersebut atas permintaannya. Namun, aku tidak memiliki bukti siapa yang benar-benar melakukan perubahan konfigurasi itu. Daripada melontarkan tuduhan tanpa dasar, aku memilih diam. Sejak hari itulah aku mulai lebih berhati-hati terhadap T-REX. Rasa percaya yang semula masih ada perlahan menghilang, dan tanpa kusadari, kejadian itu menjadi awal dari berbagai peristiwa lain yang akan terjadi kemudian.

Pilihan Sulit

Tak terasa, tiga bulan sudah aku bekerja di perusahaan ini. Sesuai kesepakatan di awal, masa tersebut merupakan masa percobaan. Setelahnya, perusahaan akan menentukan apakah aku diangkat menjadi karyawan tetap atau justru harus mengakhiri pekerjaanku. Namun, hari yang kutunggu tak kunjung datang. Seminggu berlalu setelah masa percobaan berakhir, tetapi belum ada satu pun pembicaraan mengenai statusku. Akhirnya, aku memberanikan diri bertanya kepada HRD. Ia mengatakan bahwa keputusan masih menunggu direktur yang sedang melakukan perjalanan dinas. Entah mengapa, jawaban itu justru membuatku semakin gelisah. Bukankah keputusan seperti itu bisa saja disampaikan melalui telepon atau WhatsApp? Kecurigaanku mulai muncul. Jangan-jangan, aku memang tidak akan dilanjutkan.
Di tengah ketidakpastian itu, kabar baik datang dari arah yang tidak kusangka. Lamaran yang sebelumnya kukirim ke sebuah perusahaan outsourcing untuk penempatan di salah satu instansi pemerintah ternyata lolos seleksi administrasi. Aku diundang mengikuti wawancara. Karena statusku di kantor saat itu masih menggantung, aku memutuskan mengikuti proses tersebut diam-diam. Menariknya, meskipun aku melamar melalui perusahaan outsourcing, proses wawancaranya justru dilakukan langsung oleh pihak instansi pemerintah yang nantinya menjadi tempat penugasanku. Setelah wawancara selesai, aku diminta menunggu beberapa hari untuk mengetahui hasilnya.
Beberapa hari kemudian, ketidakpastian di kantor akhirnya berakhir. HRD memanggilku dan menyampaikan bahwa aku dinyatakan lulus masa percobaan. Aku resmi diangkat menjadi karyawan tetap. Mendengar kabar itu, tentu saja aku merasa lega. Setidaknya, kekhawatiran selama beberapa minggu terakhir akhirnya terjawab. Namun, rasa lega itu ternyata tidak bertahan lama. Selang beberapa hari kemudian, telepon yang kutunggu datang. Pihak outsourcing mengabarkan bahwa aku diterima dan diminta bersiap karena bulan berikutnya sudah bisa mulai bekerja di instansi pemerintah tersebut.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku justru dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama baik. Di satu sisi, ada perusahaan yang baru saja memberiku kepercayaan sebagai karyawan tetap, tempat yang membuatku nyaman dan memberiku banyak ilmu. Di sisi lain, ada kesempatan baru untuk bekerja di instansi pemerintah, sesuatu yang sejak lama selalu memiliki daya tarik tersendiri bagiku. Tidak ada pilihan yang benar-benar salah. Namun, aku tahu, apa pun keputusan yang kuambil nanti pasti akan membawa konsekuensinya masing-masing.

Logika yang Berbicara

Pilihan itu benar-benar membuatku bingung. Selama beberapa hari, kepalaku dipenuhi berbagai kemungkinan. Bertahan di tempat kerja yang baru saja mengangkatku menjadi karyawan tetap atau menerima tawaran baru yang sama-sama menjanjikan. Aku pun mengajak istri berdiskusi untuk membantu memilih. Seperti biasa, ia tidak pernah memaksakan pendapatnya. Apa pun keputusanku, ia akan mendukung. Namun, keputusan sebesar ini rasanya terlalu berat jika hanya mengandalkan logika manusia. Di sepertiga malam, aku lebih sering meminta petunjuk kepada Tuhan. Aku percaya, ketika seseorang berada di persimpangan jalan, tidak semua jawaban bisa ditemukan melalui perhitungan. Ada kalanya kita hanya perlu meminta agar diberi pilihan yang terbaik.

Jika dipikir secara objektif, tempat kerjaku saat itu memiliki banyak kelebihan. Aku baru saja diangkat menjadi karyawan tetap sehingga pekerjaanku terasa lebih terjamin. Lingkungan kerjanya nyaman, atasanku sangat baik, dan rekan-rekan di sana tidak pelit berbagi ilmu. Bidang pekerjaannya pun sudah sangat kukuasai sehingga aku bisa bekerja dengan percaya diri. Namun, ada beberapa hal yang sulit kuabaikan. Gajinya masih tergolong standar, bahkan bisa dibilang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Belum lagi jarak kantor yang sangat jauh dari rumah. Setiap hari aku harus berjibaku dengan kemacetan Jakarta selama berjam-jam karena tidak ada pilihan transportasi umum yang murah dan praktis menuju kantor. Hal ini sangat berimbas pada kesehatanku, yaitu pada pergelangan tangan yang sempat terkilir.

Di sisi lain, tawaran pekerjaan baru juga memiliki daya tarik yang tidak sedikit. Aku akan ditempatkan di sebuah instansi pemerintah, sebuah pengalaman baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gajinya pun hampir dua kali lipat dibandingkan pekerjaanku saat ini. Angka yang tentu sangat berarti bagi seseorang yang sudah berkeluarga. Namun, pekerjaan itu juga memiliki risiko. Statusku bukan sebagai pegawai tetap, melainkan melalui perusahaan outsourcing. Artinya, kontrakku bisa saja berakhir sewaktu-waktu. Selain itu, aku juga menyimpan kekhawatiran lain. Beberapa waktu sebelumnya aku sempat membaca berita tentang seorang anak magang di instansi pemerintah lain yang dijadikan tersangka dalam sebuah perkara. Entah mengapa, berita itu terus terngiang di kepalaku dan membuatku bertanya-tanya, apakah aku sedang melangkah menuju kesempatan yang lebih baik atau justru memasuki ketidakpastian yang baru.

Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya logika yang berbicara. Aku sadar bahwa kini aku bukan lagi laki-laki yang hanya memikirkan diri sendiri. Ada istri dan anak yang menjadi tanggung jawabku. Kenyamanan bekerja memang penting, tetapi kebutuhan keluarga juga tidak bisa diabaikan. Dengan mengucap basmallah, aku memutuskan menerima tawaran dari perusahaan outsourcing untuk penempatan di instansi pemerintah. Keputusan itu bukanlah keputusan yang mudah, tetapi aku yakin itulah jalan terbaik yang harus kupilih.

Shock Therapy

Meskipun sudah menerima pekerjaan baru, aku masih harus menyelesaikan tanggung jawabku di perusahaan ini. Hari pertamaku bekerja di tempat baru akan dimulai awal bulan depan, sehingga masih ada waktu untuk menuntaskan semua pekerjaan dan bila memungkinkan berpamitan. Hari terakhirku jatuh pada shift kedua, pukul tiga sore hingga sebelas malam. Seperti sebuah kebetulan yang terus berulang, malam itu aku kembali bertemu dengan T-REX karena dialah yang menggantikanku berjaga.

Sore itu tidak berjalan setenang biasanya. Salah satu perangkat mengalami gangguan yang cukup rumit. Aku sudah berusaha memperbaikinya semampuku, bahkan meminta bantuan tim ahli dari jarak jauh. Kami mencoba berbagai cara, tetapi hingga jam pulang tiba, masalahnya belum juga selesai. Tak lama kemudian T-REX datang untuk pergantian shift. 

Masalahnya sudah selesai?” tanyanya.

Belum nih, masih coba aku perbaiki sama tim ahli dari jarak jauh,” jawabku. 

Bukannya membantu mencari solusi, ia justru menyalahkanku, Lah, gimana sih! Masalah dari tadi sore kok belum selesai!

Kalimat itu langsung mengingatkanku pada sikapnya selama ini. Mudah menghakimi, tetapi enggan ikut memikul beban.

Biasanya aku akan memilih diam. Mengalah jauh lebih mudah daripada memperpanjang masalah. Namun, malam itu berbeda. Aku sadar, ini adalah hari terakhirku bekerja di sini. Entah mengapa, aku ingin memberikan sedikit shock therapy untuk orang seperti T-REX. Bukan karena dendam, melainkan agar ia tahu bahwa tidak semua orang akan terus diam diperlakukan seperti itu. 

Lah gimana lagi, orang aku udah berusaha. Bahkan tim ahli juga masih coba perbaiki tapi belum bisa,” jawabku. 

Ia masih menggerutu pelan. 

Kalau kerja yang ikhlas,” kataku. 

Ia langsung membalas, “Bukan masalah ikhlas, ini trouble udah dari tadi sore loh, kok belum selesai.” 

Kali ini aku menatapnya dan berkata dengan nada lebih tegas, “Ya memang masih dicari solusinya. Tim ahli saja masih bingung. Terus maunya apa?

 Jujur saja, saat itu aku sudah siap jika ia kembali menantang. Bukan karena ingin berkelahi, tetapi aku ingin menunjukkan padanya bahwa orang yang selalu diam itu bukan berarti takut. Selama ini aku hanya tidak ingin mendapat musuh di tempat kerja.

Namun, yang terjadi justru di luar dugaanku. Ia memilih diam. Tidak ada lagi bantahan, tidak ada lagi gerutuan. Ia hanya menatap layar komputer di depannya. Mungkin ia terkejut karena orang yang selama ini memilih diam akhirnya berani bersuara. Malam itu aku belajar satu hal. Bersikap sabar bukan berarti membiarkan orang lain terus merendahkan kita. Ada saatnya seseorang perlu menunjukkan batas yang tidak boleh dilewati. Bukan dengan kemarahan, apalagi kekerasan, melainkan dengan keberanian untuk berkata, “Cukup.” Dan kurasa, itulah shock therapy terbaik yang bisa kuberikan sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat ini.

Perpisahan yang Tak Terucap

Sebenarnya, aku sudah memiliki rencana untuk hari terakhirku di kantor. Malam itu aku berniat menginap di kantor, lalu keesokan paginya menyerahkan surat resign secara langsung kepada atasan dan berpamitan dengan semua orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalananku. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan baik. Namun, rencana itu berubah setelah konflik dengan T-REX. Entah mengapa, setelah kejadian itu aku sudah kehilangan keinginan untuk menghabiskan satu malam lagi di kantor. Rasanya, aku hanya ingin segera pulang dan menutup lembaran itu.
Surat resign yang sudah kutulis akhirnya kutinggalkan begitu saja di dalam laci meja kerjaku. Sesampainya di rumah, aku mengirimkan pesan kepada atasan untuk memberitahukan bahwa aku memutuskan resign. Saat itu hanya ada tiga orang yang mengetahui keputusanku, yaitu atasan, senior yang selama ini banyak mengajariku, dan HRD. Selebihnya, tidak ada yang kuberi tahu. Biarlah mereka mengetahuinya dengan sendirinya ketika aku benar-benar tidak lagi datang bekerja.

Mungkin bagi sebagian orang, cara berpamitanku terasa ‘kurang’. Tidak ada jabat tangan, tidak ada foto bersama, bahkan tidak ada ucapan selamat tinggal kepada sebagian besar rekan kerja. Padahal, di tempat itu aku bertemu dengan banyak orang baik yang telah memberiku ilmu, pengalaman, dan pelajaran hidup. Jika boleh jujur, hingga kini aku masih menyimpan sedikit penyesalan karena tidak sempat mengucapkan terima kasih secara langsung kepada mereka.

Malam itu aku meninggalkan kantor dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa lega karena akan memulai perjalanan baru, tetapi ada juga rasa berat karena harus meninggalkan orang-orang yang telah menjadi bagian dari prosesku. Aku pun menyadari bahwa caraku berpisah memang salah. Bagaimanapun juga, orang-orang di kantor itu telah menerimaku dengan baik, mengajariku banyak hal, dan memberiku kesempatan untuk berkembang. Mereka pantas mendapatkan ucapan terima kasih dan perpisahan yang layak, bukan sekadar sebuah surat di dalam laci dan pesan singkat melalui chat. Mungkin saat itu emosiku terlalu dipengaruhi oleh satu orang hingga tanpa sadar aku mengorbankan perpisahanku dengan banyak orang baik. Penyesalan itu masih ada hingga sekarang. Namun, dari situlah aku belajar bahwa sebuah akhir seharusnya tidak ditentukan oleh satu pengalaman buruk, melainkan oleh rasa hormat kepada semua orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kita.

Jakarta, 30 Juni 2024.

Artikel Serupa

  • Setelah Setahun Tinggal Di Kupang: Di Antara Keindahan dan Kerinduan

    Banyak yang bilang bahwa: seindah apa pun tempat perantauan, seorang perantau tetap akan merindukan kampung halamannya. Apakah benar demikian? Pertanyaan itu terus menggema di kepalaku selama hampir setahun ini. Sebenarnya, Kota Kupang yang menjadi tempat perantauanku sekarang menyuguhkan banyak keindahan, mulai dari cakrawala biru yang luas membentang, mega-mega dengan berbagai variasi menghiasi langit, dan laut…

  • Luka Kecil

    Tak ada yang peduli dengan luka kecil ini, termasuk diriku sendiri. Luka di ruas jari yang disebabkan karena udara panas, seakan menjadi hal biasa yang aku alami. Wajar, panas Kota Kupang cukup menyengat sehingga membuat permukaan kulit menjadi kering dan mudah luka. Musabab sering mengalami luka seperti ini, aku menjadi terbiasa. Sedikit pedih memang, tetapi…

  • Pejalan Pelan

    Pertengahan 2024. Stasiun Metland Telaga Murni pukul 06.00 WIB. Seperti biasa, pagi ini aku melihat pemandangan yang menjadi teman rutinitasku selama tiga bulan terakhir. Entah kesibukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sepagi ini di sebuah stasiun kecil yang berada di pinggiran Kota Bekasi. Mereka sudah berjajar dengan rapi di sepanjang peron, ada yang duduk di…

  • RESIGN

    Aku duduk di tengah ruangan 3×4 meter dengan dikelilingi tiga manajer dan seorang HRD. Dua manajer bersikap pasif, hanya berbicara seperlunya saja. Sedangkan seorang manajer lainnya sangat aktif menjawab, bahkan melebihi jumlah kata yang dikeluarkan oleh HRD yang sedang berbicara denganku. Meskipun singkat, tetapi pembicaraan itu terasa menegangkan, seolah menentukan hidup dan mati seseorang. Mungkin…

  • Setelah Sebulan Tinggal Di Kupang, Nusa Tenggara Timur

    Waktu berlalu, hari berganti, minggu telah berubah, sudah genap sebulan aku tinggal di Kota Koral ini. Ada banyak pelajaran yang aku dapatkan, mulai dari arti rindu, adaptasi, bertahan hidup, hingga penerimaan terhadap takdir Tuhan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semua itu akan aku ceritakan dalam tulisan singkat ini. Perlu diketahui bahwa tujuanku menulis catatan ini bukan…

  • Ingin yang Terbaik atau Serakah?

    Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Sebab, manusia memiliki perangkat yang lengkap untuk menjalani hidup ini. Perangkat yang dimaksud adalah pikiran, hati, akal, nafsu, dan sebagainya. Kendati perangkat yang dimiliki oleh manusia tidak sama seperti malaikat, yang semuanya serba baik, tetapi hal itulah yang justru membuat manusia menjadi sempurna.  Pikiran yang dimiliki oleh…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *