RESIGN 2
Sejak memutuskan untuk RESIGN dari kantor lama, ada banyak hal yang aku pelajari dan rasakan. Mulai dari pengalaman mencari pekerjaan, bertemu dengan loker palsu, melihat isi kepala para pekerja dari sudut pandang yang berbeda-beda, hingga berada di persimpangan keputusan yang cukup sulit untuk dipilih. Ada masa ketika semuanya terasa berat, membingungkan, bahkan membuatku bertanya-tanya apakah langkah yang kuambil sudah benar. Namun perlahan, takdir Tuhan yang awalnya terlihat seperti beban mulai menunjukkan maksudnya sedikit demi sedikit. Meskipun pada akhirnya aku harus kembali melepaskan sesuatu yang sempat datang, aku tetap percaya bahwa jalan yang ditentukan Tuhan selalu membawa manusia menuju tempat yang lebih baik, karena itulah yang selama ini aku yakini.
Tempat Kerja Baru
Tujuh bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk RESIGN dan menyandang status sebagai pengangguran. Akhirnya aku benar-benar bisa bernapas lega karena ketika tabungan keluarga mulai menipis dan pikiranku dipenuhi berbagai kekhawatiran, Tuhan kembali membukakan jalan. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan tempatku bekerja sebelumnya. Bahkan, pekerjaan yang harus kulakukan pun tidak jauh berbeda. Rasanya seperti kembali ke dunia yang sudah sangat kukenal. Bedanya, suasana kerja di tempat baru ini jauh lebih santai. Tidak ada aturan yang terlalu mengekang. Atasan memberikan kebebasan untuk bekerja dari mana saja di dalam kantor, entah itu di ruang kerja, balkon, bahkan taman. Selama pekerjaan selesai tepat waktu dan tanggung jawab dijalankan dengan baik, mereka tidak pernah mempermasalahkannya.
Tempat kerjaku sebenarnya bukan berada di sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi seperti kebanyakan kantor di Jakarta. Tempat kerja ini merupakan sebuah rumah dua lantai di kawasan Jakarta Selatan yang dialihfungsikan menjadi kantor. Lantai bawah digunakan untuk kegiatan operasional, sementara lantai atas menjadi area office tempat dokumen-dokumen berada. Suasananya terasa hangat dan tidak terlalu formal, bahkan lebih mirip sebuah rumah daripada tempat kerja. Mungkin itulah yang membuatku cepat merasa nyaman di sini.
Awalnya perjalanan itu terasa melelahkan. Punggung pegal, tangan mulai kebas karena terlalu lama menggenggam setang, belum lagi panas matahari yang bergantian dengan hujan. Namun, karena akhirnya aku kembali memiliki pekerjaan setelah berbulan-bulan menganggur, rasa lelah itu terasa seperti harga yang pantas untuk dibayar. Setidaknya, aku kembali memiliki tujuan untuk berangkat setiap pagi dan alasan untuk pulang dengan membawa harapan.
Rekan Kerja
Di sisi lain, rekan-rekan kerjaku juga sangat ramah. Sebagai orang yang cenderung pendiam dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi, aku sempat khawatir akan kesulitan berbaur. Namun, kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti. Mereka menerima kehadiranku dengan sangat baik. Hampir tidak ada budaya senioritas di tempat ini. Meski begitu, aku tetap menghormati mereka yang lebih dulu bekerja sebagai senior, kendati beberapa di antaranya memiliki usia yang lebih muda dariku. Satu hal yang paling kusukai adalah mereka tidak pernah pelit berbagi ilmu. Apa pun yang kutanyakan, selalu dijawab dengan pengetahuan yang mereka miliki. Tidak ada kesan bahwa mereka sengaja menyimpan informasi agar terlihat lebih hebat daripada orang lain.
Namun, seperti umumnya tempat kerja, tidak ada lingkungan yang benar-benar sempurna. Di balik banyaknya orang-orang baik, tetap ada satu atau dua orang yang memiliki sifat sebaliknya. Ada yang lebih suka menghindari tanggung jawab ketika muncul masalah teknis, ada yang hanya ingin menikmati hasil tanpa mau ikut repot, dan ada pula yang selalu berusaha mencari jalan paling mudah meskipun harus mengorbankan orang lain. Sejak hari-hari pertamaku bekerja di sana, entah mengapa ada satu orang yang membuatku menaruh garis batas lebih lebar. Saat itu aku belum mengetahui apa yang akan terjadi. Akan tetapi, belakangan aku baru menyadari bahwa orang inilah yang nantinya menjadi tokoh antagonis. Kelak, dalam kisah ini aku memberikan orang ini julukan sebagai T-REX.
Mulai Menikmati Proses
Hari demi hari mulai kulalui dengan penuh rasa syukur. Akhirnya, aku kembali memiliki rutinitas yang kurindukan. Bangun pagi, berangkat bekerja, menyelesaikan berbagai tugas, lalu pulang dengan perasaan lega karena hari itu masih bisa memberikan nafkah untuk keluarga. Sesederhana itu kebahagiaanku saat itu. Pengalaman menjadi pengangguran membuatku jauh lebih menghargai setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Aku tidak lagi mengeluh karena harus berangkat pagi atau pulang malam. Bagiku, memiliki pekerjaan di bidang yang disukai merupakan sebuah nikmat yang patut disyukuri.
Di tempat kerja ini, aku juga kembali menemukan semangat untuk terus belajar. Hampir setiap ada hal baru, aku selalu berusaha mencari tahu bagaimana cara kerjanya. Jika ada sesuatu yang belum kupahami, aku tidak pernah sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekan yang lebih berpengalaman. Selama ada kesempatan untuk menambah ilmu, aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Sedikit demi sedikit, kemampuan yang kumiliki pun mulai berkembang. Aku merasa menjadi versi diriku yang lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Prasangka
Sosok T-REX
Di antara banyaknya orang baik yang kutemui di tempat kerja ini, ada satu sosok yang sejak awal membuatku kurang nyaman. Dialah T-REX, sosok pemangsa yang akan menerkam makhluk-makhluk lemah di sekitarnya. Julukan itu kuberikan bukan tanpa alasan. Sejak pertama kali bekerja bersamanya, aku sudah melihat gelagat yang menurutku kurang menyenangkan. Cara ia berbicara, memperlakukan orang lain, hingga sikapnya dalam bekerja membuatku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Salah satu kejadian yang masih kuingat adalah ketika ada keluhan dari klien dalam bahasa Inggris. Karena kemampuan bahasa Inggrisku masih terbatas, aku ingin menerjemahkannya menggunakan Google Translate. Namun, T-REX justru memaksaku membaca seluruh isi keluhan itu terlebih dahulu. Aku sempat menjelaskan bahwa itu percuma karena aku memang tidak memahami bahasa Inggris dengan baik, tetapi ia tetap bersikeras. Akhirnya aku hanya mengalah dan berpura-pura membaca keluhan itu.
Suatu malam ketika aku sedang berjaga sendirian, T-REX tiba-tiba menghubungiku dan meminta akses login akun administrator. Tanpa rasa curiga sedikit pun, aku memberikannya. Keesokan paginya, suasana kantor yang biasanya tenang mendadak ramai oleh keluhan dari klien. Setelah kuperiksa, seluruh keluhan tersebut memiliki pola yang sama, yaitu adanya perubahan konfigurasi sistem. Anehnya, perubahan konfigurasi itu hanya dapat dilakukan melalui akun administrator. Karena malam sebelumnya yang berjaga hanya aku, meskipun tidak ada yang menuduh secara langsung, aku tahu kecurigaan itu mengarah kepadaku. Bahkan, di tengah percakapan yang tidak ada hubungannya dengan masalah tersebut, seorang rekan tiba-tiba berkata, “…Makanya jangan asal ubah konfigurasi…”. Apa maksudnya kalau tidak menyindirku secara halus?
Aku tidak membela diri. Aku hanya mengingat satu fakta bahwa malam itu bukan hanya aku yang memiliki akses ke akun administrator. T-REX juga memilikinya karena akulah yang memberikan akses tersebut atas permintaannya. Namun, aku tidak memiliki bukti siapa yang benar-benar melakukan perubahan konfigurasi itu. Daripada melontarkan tuduhan tanpa dasar, aku memilih diam. Sejak hari itulah aku mulai lebih berhati-hati terhadap T-REX. Rasa percaya yang semula masih ada perlahan menghilang, dan tanpa kusadari, kejadian itu menjadi awal dari berbagai peristiwa lain yang akan terjadi kemudian.
Pilihan Sulit
Logika yang Berbicara
Pilihan itu benar-benar membuatku bingung. Selama beberapa hari, kepalaku dipenuhi berbagai kemungkinan. Bertahan di tempat kerja yang baru saja mengangkatku menjadi karyawan tetap atau menerima tawaran baru yang sama-sama menjanjikan. Aku pun mengajak istri berdiskusi untuk membantu memilih. Seperti biasa, ia tidak pernah memaksakan pendapatnya. Apa pun keputusanku, ia akan mendukung. Namun, keputusan sebesar ini rasanya terlalu berat jika hanya mengandalkan logika manusia. Di sepertiga malam, aku lebih sering meminta petunjuk kepada Tuhan. Aku percaya, ketika seseorang berada di persimpangan jalan, tidak semua jawaban bisa ditemukan melalui perhitungan. Ada kalanya kita hanya perlu meminta agar diberi pilihan yang terbaik.
Jika dipikir secara objektif, tempat kerjaku saat itu memiliki banyak kelebihan. Aku baru saja diangkat menjadi karyawan tetap sehingga pekerjaanku terasa lebih terjamin. Lingkungan kerjanya nyaman, atasanku sangat baik, dan rekan-rekan di sana tidak pelit berbagi ilmu. Bidang pekerjaannya pun sudah sangat kukuasai sehingga aku bisa bekerja dengan percaya diri. Namun, ada beberapa hal yang sulit kuabaikan. Gajinya masih tergolong standar, bahkan bisa dibilang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Belum lagi jarak kantor yang sangat jauh dari rumah. Setiap hari aku harus berjibaku dengan kemacetan Jakarta selama berjam-jam karena tidak ada pilihan transportasi umum yang murah dan praktis menuju kantor. Hal ini sangat berimbas pada kesehatanku, yaitu pada pergelangan tangan yang sempat terkilir.
Di sisi lain, tawaran pekerjaan baru juga memiliki daya tarik yang tidak sedikit. Aku akan ditempatkan di sebuah instansi pemerintah, sebuah pengalaman baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gajinya pun hampir dua kali lipat dibandingkan pekerjaanku saat ini. Angka yang tentu sangat berarti bagi seseorang yang sudah berkeluarga. Namun, pekerjaan itu juga memiliki risiko. Statusku bukan sebagai pegawai tetap, melainkan melalui perusahaan outsourcing. Artinya, kontrakku bisa saja berakhir sewaktu-waktu. Selain itu, aku juga menyimpan kekhawatiran lain. Beberapa waktu sebelumnya aku sempat membaca berita tentang seorang anak magang di instansi pemerintah lain yang dijadikan tersangka dalam sebuah perkara. Entah mengapa, berita itu terus terngiang di kepalaku dan membuatku bertanya-tanya, apakah aku sedang melangkah menuju kesempatan yang lebih baik atau justru memasuki ketidakpastian yang baru.
Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya logika yang berbicara. Aku sadar bahwa kini aku bukan lagi laki-laki yang hanya memikirkan diri sendiri. Ada istri dan anak yang menjadi tanggung jawabku. Kenyamanan bekerja memang penting, tetapi kebutuhan keluarga juga tidak bisa diabaikan. Dengan mengucap basmallah, aku memutuskan menerima tawaran dari perusahaan outsourcing untuk penempatan di instansi pemerintah. Keputusan itu bukanlah keputusan yang mudah, tetapi aku yakin itulah jalan terbaik yang harus kupilih.
Shock Therapy
Meskipun sudah menerima pekerjaan baru, aku masih harus menyelesaikan tanggung jawabku di perusahaan ini. Hari pertamaku bekerja di tempat baru akan dimulai awal bulan depan, sehingga masih ada waktu untuk menuntaskan semua pekerjaan dan bila memungkinkan berpamitan. Hari terakhirku jatuh pada shift kedua, pukul tiga sore hingga sebelas malam. Seperti sebuah kebetulan yang terus berulang, malam itu aku kembali bertemu dengan T-REX karena dialah yang menggantikanku berjaga.
Sore itu tidak berjalan setenang biasanya. Salah satu perangkat mengalami gangguan yang cukup rumit. Aku sudah berusaha memperbaikinya semampuku, bahkan meminta bantuan tim ahli dari jarak jauh. Kami mencoba berbagai cara, tetapi hingga jam pulang tiba, masalahnya belum juga selesai. Tak lama kemudian T-REX datang untuk pergantian shift.
“Masalahnya sudah selesai?” tanyanya.
“Belum nih, masih coba aku perbaiki sama tim ahli dari jarak jauh,” jawabku.
Bukannya membantu mencari solusi, ia justru menyalahkanku, “Lah, gimana sih! Masalah dari tadi sore kok belum selesai!“
Kalimat itu langsung mengingatkanku pada sikapnya selama ini. Mudah menghakimi, tetapi enggan ikut memikul beban.
Biasanya aku akan memilih diam. Mengalah jauh lebih mudah daripada memperpanjang masalah. Namun, malam itu berbeda. Aku sadar, ini adalah hari terakhirku bekerja di sini. Entah mengapa, aku ingin memberikan sedikit shock therapy untuk orang seperti T-REX. Bukan karena dendam, melainkan agar ia tahu bahwa tidak semua orang akan terus diam diperlakukan seperti itu.
“Lah gimana lagi, orang aku udah berusaha. Bahkan tim ahli juga masih coba perbaiki tapi belum bisa,” jawabku.
Ia masih menggerutu pelan.
“Kalau kerja yang ikhlas,” kataku.
Ia langsung membalas, “Bukan masalah ikhlas, ini trouble udah dari tadi sore loh, kok belum selesai.”
Kali ini aku menatapnya dan berkata dengan nada lebih tegas, “Ya memang masih dicari solusinya. Tim ahli saja masih bingung. Terus maunya apa?“
Jujur saja, saat itu aku sudah siap jika ia kembali menantang. Bukan karena ingin berkelahi, tetapi aku ingin menunjukkan padanya bahwa orang yang selalu diam itu bukan berarti takut. Selama ini aku hanya tidak ingin mendapat musuh di tempat kerja.
Perpisahan yang Tak Terucap
Mungkin bagi sebagian orang, cara berpamitanku terasa ‘kurang’. Tidak ada jabat tangan, tidak ada foto bersama, bahkan tidak ada ucapan selamat tinggal kepada sebagian besar rekan kerja. Padahal, di tempat itu aku bertemu dengan banyak orang baik yang telah memberiku ilmu, pengalaman, dan pelajaran hidup. Jika boleh jujur, hingga kini aku masih menyimpan sedikit penyesalan karena tidak sempat mengucapkan terima kasih secara langsung kepada mereka.
Malam itu aku meninggalkan kantor dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa lega karena akan memulai perjalanan baru, tetapi ada juga rasa berat karena harus meninggalkan orang-orang yang telah menjadi bagian dari prosesku. Aku pun menyadari bahwa caraku berpisah memang salah. Bagaimanapun juga, orang-orang di kantor itu telah menerimaku dengan baik, mengajariku banyak hal, dan memberiku kesempatan untuk berkembang. Mereka pantas mendapatkan ucapan terima kasih dan perpisahan yang layak, bukan sekadar sebuah surat di dalam laci dan pesan singkat melalui chat. Mungkin saat itu emosiku terlalu dipengaruhi oleh satu orang hingga tanpa sadar aku mengorbankan perpisahanku dengan banyak orang baik. Penyesalan itu masih ada hingga sekarang. Namun, dari situlah aku belajar bahwa sebuah akhir seharusnya tidak ditentukan oleh satu pengalaman buruk, melainkan oleh rasa hormat kepada semua orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kita.
Jakarta, 30 Juni 2024.







